Pernikahan : Mencari Hari Baik

Pernikahan adalah satu ikatan yang membukakan banyak tabir keharamaan di antara dua insan, dan merubahnya menjadi ladang ibadah yang penuh barakah,  halal dan syar’i. Bersentuhan antara dua insan nonmuhrim yang pada awalnya haram, setelah melewati ritual pernikahan menjadi halal. Jika sebelum terikat pernikahan, memandang atau saling memandang adalah perbuatan yang diharamkan, maka setelah melewati prosesi pernikahan akan menjadi ibadah yang dibutuhkan dan sangat dianjurkan. Pernikahan adalah pembuka gerbang kehalalan bagi dua insan. Maka, jagalah pernikahan dengan segala kesuciannya, jangan nodai pernikahan dengan perkara-perkara yang dimurkai oleh Allah swt.

Syirik merupakan salah satu dosa terbesar yang tidak dapat diampuni oleh Allah swt, kecuali dengan sebenar-benarnya taubat kepada Allah swt. Namun, banyak sekali perbuatan-perbuatan syirik yang dilakukan seorang muslim dalam kehidupan sehari-harinya. Ada yang sudah tahu namun menutup telinga, dan ada juga yang terjerumus tanpa sepengetahuannya.

Salah satu tradisi bernilai syirik yang masih terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat muslim saat ini adalah “mencari atau menanyakan hari baik” kepada orang tertentu (yang diyakini mengerti atau dapat meramal) untuk melangsungkan pernikahan. Perlu diketahui, bahwa menanyakan hari baik untuk melangsungkan pernikahan merupakan salah satu bentuk syirik kepada Allah swt.

Datang kepada orang tua, yang dituakan, tokoh masyarakat, atau kyai untuk bertanya dan mencari hari baik merupakan salah satu perbuatan syirik, karena mengandung unsur meramal. Ini sama artinya dengan mendatangi atau meminta bantuankepada TUKANG RAMAL atau DUKUN. Biasanya, hari dan tanggal lahir kedua calon pengantin dihitung-hitung atau diterawang lebih dahulu, dilihat dari primbon dan sebagainya. Kemudian hasil terawangan menyatakan bahwa pernikahan harus dilaksanakan pada hari dan tanggal sekian, jika pernikahan dilaksanakan pada hari-hari yang lain akan mendatangkan musibah, misalnya kematian salah satu pengantin, rezeki keluarganya akan sempit, keluarga sakit-sakitan, rumah tangganya akan berantakan, dan sebagainya. Hal ini tentu saja sudah mengarah kepada syirik.

Percaya dan menjalankan perbuatan ini sama artinya dengan mengatakan bahwa dukun atau tukang ramal itu adalah lebih baik, lebih mengerti, lebih kuasa, dan lebih hebat dari Allah swt. Dengan mempercayai dan menjalankan perbuatan tersebut, sama saja kita telah mengatakan bahwa perhitungan dan ucapan tukang ramal, dukun, dan primbon itu adalah lebih baik dari pada Al Quran.

Dalam hal ini, orang tua tempat bertanya tentang hari baik itu sudah dikategorikan sebagai seorang DUKUN.

Mengenai siapakah yang dapat disebut sebagai dukun, Ibnul Atsir t mengatakan: “Dukun adalah seseorang yang selalu memberikan berita tentang perkara-perkara yang belum terjadi pada waktu mendatang dan mengaku mengetahui segala bentuk rahasia. Memang dulu di negeri Arab banyak terdapat dukun seperti syiqq, sathih dan selainnya. Di antara mereka (orang Arab) ada yang menyangka bahwa dukun itu adalah para pemilik jin yang akan menyampaikan berita-berita kepada mereka. Di antara mereka ada pula yang menyangka bahwa dukun adalah orang yang mengetahui perkara-perkara yang akan terjadi dengan melihat kepada tanda-tandanya. Tanda-tanda itulah yang akan dipakai untuk menghukumi kejadian-kejadian seperti melalui pembicaraan orang yang diajak bicara atau perbuatannya atau keadaannya, dan ini mereka khususkan istilahnya dengan tukang ramal, Seperti seseorang mengetahui sesuatu yang dicuri dan tempat barang yang hilang dan sebagainya.” (An-Nihayah fii Gharibil Hadits, 4/214)

Sedangkan Al-Lajnah Ad-Da`imah (Lembaga Fatwa Kerajaan Arab Saudi) mengatakan: “Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib atau mengetahui segala bentuk rahasia batin. Mayoritas dukun adalah orang-orang yang mempelajari bintang-bintang untuk mengetahui kejadian-kejadian (yang akan terjadi) atau mereka mempergunakan bantuan jin-jin untuk mencuri berita-berita. Dan yang semisal mereka adalah orang-orang yang mempergunakan garis di tanah, melihat di cangkir, atau di telapak tangan atau melihat buku untuk mengetahui perkara-perkara ghaib tersebut.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, 1/393-394)

Tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang dapat melihat hal-hal yang ghaib (masa depan adalah salah satu perkara yang ghaib). Bahkan Rasulullah saw, manusia termulia, kekasih Allah swt yang Maha Mengetahui yang telah, sedang, maupun yang akan terjadi saja tidak pernah meramal atau meminta diramalkan mengenai  masa depannya, lalu bagaimana mungkin manusia yang penuh dengan dosa seperti kita ini dapat melakukannya? (“Katakanlah : Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku (pula) menolak kemudlaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudlaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al A’raaf : 188).)

Dan satu hal yang perlu kita yakini adalah, seberapapun besar usaha seseorang (dukun atau tukang ramal) untuk memberikan hari baik kepada seseorang, jika memang Allah swt hendak memberikan musibah kepadanya, maka tidak akan ada yang mampu untuk menghindar ataupun selamat darinya.

”Dimana kamu berada kematian akan mengejarmu kendatipun kamu berada dalam benteng yang kokoh ”. (An-Nissa : 78)

Di ayat lain, Allah juga berfirman: ”Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya akan menemui kamu kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib dan yang nyata lalu diberikan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan ”. (QS. Al Jumua’ah : 8)

Untuk lebih meyakinkan mengenai haramnya perdukunan atau peramalan, berikut kami berikan beberapa dalil yang terkait:

“Katakan bahwa tidak ada seorangpun yang ada di langit dan di bumi mengetahui perkara ghaib selain Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An Naml : 65)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan dilautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al An’am : 59)

“Jika Allah memintakan sesuatu kemudlaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya melainkan Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan Dialah Yang Berkuasa atas sekalian hamba-Nya, dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al An’am : 17-18)

“Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w , beliau bersabda:’Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w.” (HR. Abu Daud).

“Dikeluarkan oleh empat Ahlus Sunan dan disahihkan oleh Al-Hakim dari Nabi saw dengan lafaz: ‘Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad saw .”

“Dari Imran bin Hushain ra.,dia berkata: ‘Rasulullah s.aw bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami yang melakukan atau meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda,burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw .” (HR. Al-Bazzaar,dengan sanad jayyid).

“Orang yang mendatangi tukang ramal (paranormal) kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam”. (HR. Muslim dan Ahmad, dari sebagian isteri Nabi [Hafshah])

“Orang yang mendatangi dukun, kemudian membenarkan apa yang dikatakanya atau mendatangi wanita yang sedang haidh, atau menjima’ istrinya dari duburnya, maka sesungguhnya orang tersebut telah terlepas (kafir) dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad saw”. (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

“Bahwa Rasulullah saw melarang pemanfaatan jual beli anjing, mahar kedurhakaan (makhar perzinahan/pelacuran) dan memberi upah kepada dukun”. (HR. Bukhari dan Muslin dari Abu Mas’ud)

“Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala : ‘Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun mengetahui apa yang didalam kandungan selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat kecuali Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui dibumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan tidak seorangpun mengetahui kapan hujan akan turun kecuali Allah Ta’ala”. (HR. Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

Dari dalil-dalil di atas, jelas sekali bahwa Allah swt melarang kita untuk mendatangi dukun atau tukang ramal. Dengan mendatangi dan mempercayai mereka, berarti kita telah mengakui adanya kekuatan yang dapat menembus perkara ghaib selain Allah swt. Maka kita telah melakukan perbuatan syirik kepada Allah swt. Dan pada salah satu hadits di atas, Rasulullah saw juga telah mengatakan dengan jelas bahwa dengan mendatangi dan mempercayai dukun atau tukang ramal berarti kita telah kufur kepada Allah swt.

Sungguh, aneh sekali orang-orang yang mengaku dirinya Islam dan hendak melangsungkan pernikahan dalam syariat Islam, tapi masih menyandarkan masa depan  pernikahannya pada seorang dukun atau tukang ramal. Apakah mereka berpikir bahwa dukun atau tukang ramal tersebut memiliki kekuatan yang jauh lebih dahsyat dari Allah swt? Apakah mereka berpikir bahwa dukun atau tukang ramal yang telah bersekutu dengan jin tersebut dapat menghindarkan mereka dari malapetaka yang akan menimpanya? Na’udzubillah! Tidak akan ada yang akan selamat dan menyelamatkan manakala Allah swt telah menentukan satu musibah kepada seorang atau sekelompok hamba. Dan tidak akan ada pula yang akan terluka atau menderita sedikitpun, manakala Allah swt telah memutuskan untuk memberikan pertolongan-Nya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”(QS. Al hadiid : 22 – 23).

Merujuk pada ayat di atas, jelaslah bahwa segala sesuatu bencana yang terjadi itu merupakan suatu ketetapan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Bukan dukun atau tukang ramal yang menyebabkannya, dan bukan mereka pula yang akan menghilangkannya. Maka tidak ada satu pernikahan yang mengalami kegagalan karena tidak mendatangi dukun atau tukang ramal guna menanyakan hari baik. Tidak akan ada musibah dalam suatu pernikahan, kecuali itu sudah tertulis di Lauh Mahfuzd, menjadi rahasia Allah swt, dan tidak akan ada yang mampu untuk mengetahui ataupun menghindarinya.

Pernikahan adalah gerbang pembuka halalnya satu ikatan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan. Pernikahan akan merubah berbagai banyak perkara yang haram menjadi halal. Pernikahan merupakan media yang akan membuang banyak nilai-nilai dosa dan maksiat menjadi nilai ibadah dan pahala.

Saling memandang dan saling menyentuh antar pasangan yang telah dihalalkan melalui ikatan pernikahan merupakan satu bentuk ibadah dan tentunya segala bentuk ibadah adalah berpahala. Sedangkan saling memandang dan saling menyentuh antar lawan jenis tanpa ikatan pernikahan atau ikatan kemuhriman merupakan salah satu bentuk maksiat, dan tentu saja segala bentuk maksiat akan menimbulkan dosa.

Subhanallah! Betapa indah dan mulianya nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah pernikahan. Bahkan yang pada awalnya haram pun akan berubah menjadi halal dan akan dihitung sebagai suatu ibadah.

Saudaraku, mari sama-sama kita jaga nilai-nilai kemuliaan pernikahan dan akidah islam kita dengan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan syirik dan menyekutukan Allah swt. Serahkan semuanya kepada Allah swt. Menikahlah dengan niat untuk beribadah kepada Allah swt, dan laksanakanlah pernikahan tersebut dengan cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah swt di dalam syariat Islam. Memohon dan memintalah pertolongan hanya kepada Allah swt untuk mendapatkan pernikahan yang selamat, yang penuh dengan barakah, sakinah, mawaddah, warrohmah. Karena Allah swt yang Mengatur dan Memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, serta yang ada diantara keduanya.

“Hanya kepadaMu-lah kami menyembah dan hanya kepadaMu-lah kami meminta tperolongan.” (QS. Al-Fatihah:5)

Wallahua’lam

www.syahadat.com

About these ads

28 Tanggapan to “Pernikahan : Mencari Hari Baik”

  1. Nikah : Mencari Hari Baik (2) « Naungan Islami Says:

    […] pada artikel sebelumnya (Pernikahan: Mencari Hari Baik), penulis lebih memfokuskan permasalahan pada praktek perdukunan atau […]

  2. nanda Says:

    saya ingin menikah d bulan suci ramadhan,karena saya percaya akan di lipak gandakan apabila kita niat beribadah..amiin..
    tp kenapa,orang2 di sekitar saya ,menganggap hari itu tidak baik,,bagaimana cara saya untuk myakinkan mereka yg juga sodara saya,agar bisa sama2 senang..
    ada yang dengan alasan”apa kata orang nanti”..dan sebagainya..
    saya jd ngrasa bangkit, ingin membuktikan pada mereka,bahwa yg mereka pecaya itu salah..

  3. Ardi Says:

    Astaghfirullah, hampir saya saya menjadi seorang kafir karena mencari hari baik pernikahan melalui internet (Program melalui internet). Berkat blog inilah saya jadi benar-benar sadar & insyallah saya akan menikah tanpa mencari hari baik, karena sesungguhnya hanya dengan memohon kepada Allahlah maka akan diberikan pernikaha yang selamat dunia akherat.

    Terima kasih atas artikel yang sangat bermanfaat ini, semoga Allah memberikan pahala atas informasi Anda ini.

  4. putri Says:

    Assalamualaikum Wr Wb
    InsyaAllah tahun ini saya akan menikah, saat ini saya & orang tua sedang mempertimbangkan kapan saya akan menikah.saya pribadi tidak percaya adanya hari baik, tetapi orangtua hari baik bisa dihitung dari nama, karena yg akan dinikahkan nanti adalah nama ke2 mempelai. menurut bapak, penentuan hari pernikahan berdasarkan nama termasuk syirik atau tidak?dimana penentuan hari baik tsb tidak mengaitkan dengan tanggal & hari lahir
    terimakasih sebelumnya untuk penjelasannya

    • Abdullah Says:

      Assalam…

      Maaf saudari putri, menurut saya intinya Rasulullah saw tidak pernah memberikan contoh yang demikian, maka itu adalah termasuk bid’ah. Karena pernikahan itu adalah termasuk ibadah, dan kita dilarang untuk mengada-adakan perkara baru dalam urusan ibadah, terlebih lagi yang aturannya memang sudah jelas.

      Dan kalau memang dengan menghitung kedua nama itu dianggap dpat menghilngkan mudharat atau mendatangkan kebaikan, maka tentu saja itu masuk dalam kategori syirik. Karena kita telah meyakini bahwa ada kekuatan lain yang mampu mendatangkan musibah dan mnfaat selain Allah swt.

      Demikian, semoga bermanfat.
      Wallhua’lam

      Wassalam

  5. rani novianty Says:

    ass…
    saya baru aja lamaran..
    dan akan menuju ke pernikahan,tapi saya bingung menentukan hari baik nya?

  6. rani novianty Says:

    Saya ingin ke pernikahan<<tapi saya bingung menentukan hari baik nya?

  7. naya Says:

    Ass Wr..Wb..
    sy ingin bertanya di bulan februari ini sy akan menikah,,,tapi sy msh bimbing dan tidak tahu harus bagaimana,,,bapak sy sudah meninggal.. karena ibu sy dan abang sy tidak peduli dan sy takut mereka tidak mau menjadi wali dipernikahan sy nnti..sy dari kecil memang tidak pernah ada kecocockan dengan ibu sy..dan sy dengan abang sy tidak saling sapa…karena dia melakukan kesalan kepada sy..sd hampir 1 tahun sy tidak tinggal bersama mereka….

    yang saya mau tanyakan adalah:
    1. bagaimana jika nanti dipernikahan saya mereka tidak
    mau menjadi wali saya?
    2. apa bisa wali’y di ganti dgn keponakan bapak saya?
    terima kasih atas bantuan’y…..sy mohon bantu saya untuk menjawab pertanyaan saya ini….
    TERIMA KASIH….

  8. babeh Says:

    Ass. Wr. Wb.
    Uraian di atas cukup panjang, jelas, bahkan sangat jelas menyatakan ( memfatwakan) bahwa menanyakan hari baik pada seseorang dan mempercayainya adalah perbuatan ‘syirik’…..
    tapi kesan yang saya dapat dari uraian diatas, kita orang muslim seakan-akan tidak boleh memilih hari baik, karena dalam uraian diatas tidak di jelaskan bagaimana sebaiknya seorang muslim menentukan hari baik, apa yang harus dilakukan untuk mencari hari baik, atau doa apa,atau sholat apa yang harus di lakukan untuk mencari hari baik….trims’

  9. Iqbal Says:

    Setuju sekali tulisan di atas. Subhanallah. Mari, secara pelan-pelan masyarakat kita selamatkan dari pemahaman-pemahaman yang melenceng, agar kita semua bisa menyingkap selimut zulumat menuju nuur, termasuk dalam “mencari hari baik” pernikahan….

  10. Kangmasiswandi Putrapanginyongan Mangkulangithadiningkat Says:

    ASSALAMUALAIKUM,PAK SAYA ISWANDI DAN SAYA ADA RENCANA MAU NIKAH DI BULAN SYAWAL INI,DAN PADA JANUARI TAHUN 2011 DI RUMAH SAYA JUGA ADA HAJAT MENIKAHKAN ADEK SAYA,KATANYA GAK BOLEH MENIKAH KAN ANAK DALAM 1 TAHUN DUA KALI,APAKAH MEMANG BENAR,DAN SAYA AKAN MENIKAHI SEORANG JANDA BERANAK SATU,JADI MOHON DOA SEMUA AGAR SAYA DAN SELURUH KELUARGA SAYA SEHAT DAN SAYA MENDAPAT BANYAK REJEKI AGAR RENCANA SAYA BISA BERJALAN DENGAN LANCAR,SELAMAT DAN TIDAK ADA HALANGAN APAPUN

  11. rika ingin berkarya lagi Says:

    assalamualaikum wr wb
    saya insyaallah akan melangsungkan pernikahan dengan tunangan saya,, kami sudah menentukan tanggal tidak berdasarkan apa-apa hanya menghambil bulan muharram,, tanggalnya kami tembak saja sesuai filosifi kami, namun salahsatu keluarga mempelai bertanya kepada ustadz mengenai tanggal yg kami ajukan,, nah dr situ timbul ada “masala-masalah” mengenai tanggal tersebut.. kanyanya “bla bla bla….” negatiflah bagi kedepannya..
    tp saya tipe org yg tidak percaya hal-hal begitu meskipun itu “ustadz” krn saya berfikir ustadz juga manusia,, alangkah musyriknya jikalau saya mempercai ramalan itu,, naah masalahnya orangtua jd terpengaruh,, bagaimana membuat pikiran orangtua jd tenang dan tidak terbawa oleh sugesti2 jelek…
    mohon sarannya..
    syukron
    wassalamualaikum wr wb

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Coba saja ceritakan kepada orangtua saudari mengenai mereka-mereka yang juga menikah dengan tanpa menghitung/meramal tanggal dan sebagainya toh tidak terjadi apa-apa, bahkan kehidupanannya pun sukses-sukses saja, mereka baik-baik saja. Kebanyakan orangtua terpengaruh oleh cerita-cerita negatif yang kebetulan terjadi atau menimpa orang-orang terdahulu. Tapi mereka lupa atau mungkin memang tidak tahu bahwa ternyata banyak pula orang-orang yang menikah dengan bismillah (tanpa meramal2) namun tetap baik-baik saja.

      coba saja seperti itu dengan terus memberikan pengertian melalui pendekatan-pendekatan kekeluargaan (pendekatan antara anak dan orangtua)

      Demikian. Wallahua’lam

  12. Akhmad Chairul Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.,
    Saya ingin melangsungkan akad nikah di sore hari dan sepertinya orang tua mendapat pembicaraan dari seorang ustad bahwa syariat nabi itu menikah baiknya di pagi hari, jika tidak melakukan hal demikian, maka kedepannya hidupnya akan malang dan rezeki akan seret. Saya sangat bingung, padahal gedung sudah dipesan dan saya beranggapan bahwa segala hari dalam islam adalah baik. Bagaimana sebaiknya untuk memberikan pengertian pada orang tua saya ustad?
    Mohon rujukan hadis dan dalilnya, apakah hal yang semacam ini dibenarkan?
    Wassalam Wr. Wb.

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb

      Insya tidak ada dalil yang mewajiibkan seorang muslim untuk hanya menikah di pagi, siang ataupun sore hari. dan tidak ada pula dalil yang mengharamkan pernikahan di malam hari. Adapun Rasul menikah di siang hari tidak dapat dapat di jadikan sebagai dalil untuk mengharamkan pernikahan di malam hari, melainkan menjadi salah satu bentuk sunnah Rasulullah saw. Terlebih lagi, tidak ada dalil yang mengatakan bahwa kita akan menderita jika melangsungkan pernikahan di malam hari, dan sudah pasti selalu bahagia jika menikah di siang hari. suka dan duka, bahagia dan menderita, banyak faktor yang menjadi penyebabnya, namun yang pasti bukan karena hal-hal (keyakinan) semacam itu.

      Demikian, semoga bermanfaat.
      Wallahua’lam

  13. afif Says:

    aslamualaikum . wr.wb insallah saya akan menikah di bulan desember , dan saya juga mau nanya , pakah pernikahan itu wajib, dan pa hukum nya bila da yang mepersulit

    • nurdiyon Says:

      ‘Alaykumsalam wr wb

      Berikut saya kutipkan tulisan dari blog saudara kita:

      Hukum Pernikahan dalam Islam

      Dalam pembahasan ini kita akan berbicara tentang hukum menikah dalam pandangan syariah. Para ulama ketika membahas hukum pernikahan, menemukan bahwa ternyata menikah itu terkadang bisa mejadi sunnah, terkadang bisa menjadi wajib atau terkadang juga bisa menjadi sekedar mubah saja. Bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi makruh. Dan ada juga hukum pernikahan yang haram untuk dilakukan.

      Semua akan sangat tergantung dari kondisi dan situasi seseorang dan permasalahannya. Apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi, mari kita bedah satu persatu.

      1. Pernikahan Yang Wajib Hukumnya

      Menikah itu wajib hukumnya bagi seorang yang sudah mampu secara finansial dan juga sangat beresiko jatuh ke dalam perzinaan. Hal itu disebabkan bahwa menjaga diri dari zina adalah wajib. Maka bila jalan keluarnya hanyalah dengan cara menikah, tentu saja menikah bagi seseorang yang hampir jatuh ke dalam jurang zina wajib hukumnya.

      Imam Al-Qurtubi berkata bahwa para ulama tidak berbeda pendapat tentang wajibnya seorang untuk menikah bila dia adalah orang yang mampu dan takut tertimpa resiko zina pada dirinya. Dan bila dia tidak mampu, maka Allah SWT pasti akan membuatnya cukup dalam masalah rezekinya, sebagaimana firman-Nya :

      Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. (QS.An-Nur : 33)

      2. Pernikahan Yang Sunnah Hukumnya

      Sedangkan yang tidak sampai diwajibkan untuk menikah adalah mereka yang sudah mampu namun masih tidak merasa takut jatuh kepada zina. Barangkali karena memang usianya yang masih muda atau pun lingkungannya yang cukup baik dan kondusif.

      Orang yang punya kondisi seperti ini hanyalah disunnahkan untuk menikah, namun tidak sampai wajib. Sebab masih ada jarak tertentu yang menghalanginya untuk bisa jatuh ke dalam zina yang diharamkan Allah SWT.

      Bila dia menikah, tentu dia akan mendapatkan keutamaan yang lebih dibandingkan dengan dia diam tidak menikahi wanita. Paling tidak, dia telah melaksanakan anjuran Rasulullah SAW untuk memperbanyak jumlah kuantitas umat Islam.

      Dari Abi Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Menikahlah, karena aku berlomba dengan umat lain dalam jumlah umat. Dan janganlah kalian menjadi seperti para rahib nasrani. (HR. Al-Baihaqi 7/78)

      Bahkan Ibnu Abbas ra pernah berkomentar tentang orang yang tidak mau menikah sebab orang yang tidak sempurna ibadahnya.

      3. Pernikahan Yang Haram Hukumnya

      Secara normal, ada dua hal utama yang membuat seseorang menjadi haram untuk menikah. Pertama, tidak mampu memberi nafkah. Kedua, tidak mampu melakukan hubungan seksual. Kecuali bila dia telah berterus terang sebelumnya dan calon istrinya itu mengetahui dan menerima keadaannya.

      Selain itu juga bila dalam dirinya ada cacat pisik lainnya yang secara umum tidak akan diterima oleh pasangannya. Maka untuk bisa menjadi halal dan dibolehkan menikah, haruslah sejak awal dia berterus terang atas kondisinya itu dan harus ada persetujuan dari calon pasangannya.

      Seperti orang yang terkena penyakit menular yang bila dia menikah dengan seseorng akan beresiko menulari pasangannya itu dengan penyakit. Maka hukumnya haram baginya untuk menikah kecuali pasangannya itu tahu kondisinya dan siap menerima resikonya.

      Selain dua hal di atas, masih ada lagi sebab-sebab tertentu yang mengharamkan untuk menikah. Misalnya wanita muslimah yang menikah dengan laki-laki yang berlainan agama atau atheis. Juga menikahi wanita pezina dan pelacur. Termasuk menikahi wanita yang haram dinikahi (mahram), wanita yang punya suami, wanita yang berada dalam masa iddah.

      Ada juga pernikahan yang haram dari sisi lain lagi seperti pernikahan yang tidak memenuhi syarat dan rukun. Seperti menikah tanpa wali atau tanpa saksi. Atau menikah dengan niat untuk mentalak, sehingga menjadi nikah untuk sementara waktu yang kita kenal dengan nikah kontrak.

      4. Pernikahan Yang Makruh Hukumnya

      Orang yang tidak punya penghasilan sama sekali dan tidak sempurna kemampuan untuk berhubungan seksual, hukumnya makruh bila menikah. Namun bila calon istrinya rela dan punya harta yang bisa mencukupi hidup mereka, maka masih dibolehkan bagi mereka untuk menikah meski dengan karahiyah.

      Sebab idealnya bukan wanita yang menanggung beban dan nafkah suami, melainkan menjadi tanggung jawab pihak suami.

      Maka pernikahan itu makruh hukumnya sebab berdampak dharar bagi pihak wanita. Apalagi bila kondisi demikian berpengaruh kepada ketaatan dan ketundukan istri kepada suami, maka tingkat kemakruhannya menjadi jauh lebih besar.

      5. Pernikahan Yang Mubah Hukumnya

      Orang yang berada pada posisi tengah-tengah antara hal-hal yang mendorong keharusannya untuk menikah dengan hal-hal yang mencegahnya untuk menikah, maka bagi hukum menikah itu menjadi mubah atau boleh. Tidak dianjurkan untuk segera menikah namun juga tidak ada larangan atau anjuran untuk mengakhirkannya.

      Pada kondisi tengah-tengah seperti ini, maka hukum nikah baginya adalah mubah.

      Sumber : http://my.opera.com/Boecharyst%20M.Kasim/blog/2008/04/20/hukum-pernikahan-dalam-islam

      Sedangkan hukum bagi yang mempersulit pernikahan, mungkin dilihat dari alasannya dahulu. Jika alasannya memang syar’i, maka tidak mengapa. Namun bila alasan tidak syar’i maka hendaknya kita renungkan hadits Rasulullah saw berikut:

      “Saya akan menjauhkan diri dari wanita dan tidak akan menikah”. Maka (ketika) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendatangi mereka, (Beliau) bersabda : “Kaliankah yang mengatakan ini dan itu? Demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan bertaqwa kepada Allah, akan tetapi aku (kadang) berpuasa dan berbuka, saya juga shalat dan saya juga menikah dengan wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, berarti ia bukan termasuk golonganku.” [HR Bukhari]

      Demikian. Wallahua’alm

  14. azie Says:

    assalamu’alaikum Wr. Wb.
    saya ingin bertanya. kenapa kalau saya lihat…. banyak sekali musiman pernikahan atau hajatan…. biasanya bulan syawal, ramadhan, dzulhijah, kebanyakan. padahal semua hari baik, tanggal baik, bulan baik… tapi knp semua orang hampir banyak memilih bulan tanggal tertentu…. apakah berarti mereka juga syirik?

  15. dwi lestari Says:

    assalamualaikum

    Thun lalu prnkahan sya di btalkan gara2 ada prbdaan kesepakatan tgl baik antara kluarga sya dan kluarga calon sya.
    kluarga sya yg dr jawa memegang tguh tradisi dgn hitung2an primbon dsb..sya lbih mengikuti kluarga clon suami yg orng Aceh dgn htung2an scra kalender islam,,,tp sya jstru di katakan durhaka n ga nrut dgn orng tua…
    bgmana ya cra yg baek untk menydarkan orng tua sya ttng htung2an tgl baik itu??
    krna taun ini insyaallah keinginan menikah ada,tp msh trauma tkut klo smp beda2 trus k
    sprti taun kmrn…
    tlng di bls ya..mksi

    • nurdiyon Says:

      ‘Alaykumsalam wr wb
      Pertama, mungkin coba saudara/i berikan penjelasan sesederhana mungkin tentang larangan meramal dan bahwa baik dan buruk itu hanyalah Allah yang menetapkan. Kalau Allah sudah berkata celaka/buruk, maka tidak ada ramalan/hitung2an manusia yang dapat menolaknya, begitupun sebaliknya.
      Kedua, coba saudara/i berikan contoh orang2 yang menikah secara islami tanpa hitung2an hari sebagaimana yang dilakukan orang jawa tersebut dan kenyataannya mereka bisa sukses. Atau orang2 yang menikah dengan hitung2an hari atau nama dan sebagainya, tapi banyak juga diantara mereka yang sengsara.

      dan ingat, tetaplah menjaga emosi.
      Demikian. Wallahua’lam..

  16. seria Says:

    patennnn……!!!

  17. YusuForever Mencoba Belajar Says:

    Alhamdulillah ada pencerahan di malam hari ini saat mendekati hari pernikahan saya namun belum menemukan tanggal pernikahan karna ibu saya memegang teguh apa kata kakek saya yang katanya bisa menghitung hari baik yang namanya sudah tersohor di penjuru desa saya dengan cara hitung huruf hijaiyah al-qur’an dan kalau saya mengikuti apa kata kakek saya maka saya terbentur dengan budaya calon istri saya yang ingin menikah di lain hari dengan cara hitung hari ala jawa,,

    tapi saya tetap bersiteguh dengan pendirian saya bahwa itu adalah hal yang salah, karna menurut saya semua hari adalah baik dan pernikahan itu merupakan ibadah luar biasa dengan nikmat berkeluarga dan saya berfikir alangkah indahnya islam dengan hal pernikahan ini, mudah2an ini adalah hal yang positive untuk masa depan saya dan saya tidak ingin terpengaruh dari apa yang mereka omongkan karna mreka berfikir bahwa nama calon istri saya dan tanggal pernikahan harus mengikuti apa kata orang tua saya saat ini apabila tidak maka akan terjadi hal2 yg buruk di kemudian hari, tetapi saya tidak terpengaruh hanya membuat perasaan saya tidak enak karna menentang apa kata orang tua,, apapun yang terjadi wallahualam,, insya allah dengan niat ang baik, maka Allah juga memberikan yang terbaik buat umatnya, amin

  18. doszen Says:

    sy akan menikah dan stelah sy baca mencari hari baik..sy merasa lega krn tdk terjerumus dlm peramaln hr baik menikah.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: