Nikah : Mencari Hari Baik (2)

yanggal lahirMencari sesuatu yang lebih baik atau yang terbaik bukanlah satu hal yang dilarang  di dalam ajaran agama Islam. Justru Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menjadi yang terbaik dan memberikan hasil yang terbaik. Namun, memberi atau mencari sesuatu yang lebih baik atau yang terbaik tentunya tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syariat Islam, terlebih lagi dengan cara-cara yang bertentangan dengan syariat Islam.

Menikah merupakan salah satu fenomena yang senantiasa diharapkan oleh setiap manusia yang berakal dan berjiwa sehat. Menikah merupakan salah satu di antara dua jalan terbaik yang diajarkan di dalam Islam untuk menanggulangi bahaya hawa nafsu, yaitu nafsu biologis atau nafsu syahwat. Jalan lainnya yang diajarkan di dalam ajaran Islam adalah dengan melakukan puasa (shaum). Tidak ada jalan lain yang lebih baik dalam pandangan Islam untuk melindungi diri dari fitnah nafsu syahwat.

Nafsu syahwat merupakan salah satu musuh manusia yang paling berat. Oleh karena itu, Islam menganjurkan kepada umatnya yang telah memiliki kemampuan untuk menikah agar segera menikah, tidak menunda-nundanya.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhori-Muslim)

“Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

“Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat” (HR. Ibnu Majah,dhaif)

“Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka” (Al Hadits)

“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah” (HR. Tirmidzi)

“Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak” (HR. Abu Dawud)

“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain” (HR. Abdurrazak dan Baihaqi)

Demikian vitalnya hikmah, manfaat dan maslahat yang dapat diperoleh dari nikah, hingga Rasulullah saw pun mencela orang-orang yang tidak mau menikah (membujang tanpa adanya alasan yang syar’i). Melalui beberapa sabdanya, Rasulullah saw mengatakan:

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

“Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Yahya dan Thabrani)

Islam adalah agama yang mudah, yang memberikan kemudahan kepada seluruh umatnya. Sehingga ketika ada peraturan yang diberikan oleh Allah swt melalui ajaran Islam, maka peraturan itu tidak akan bersifat memberatkan, terlebih lagi jika aturan atau perintah yang diberikan tersebut memiliki peranan dan manfaat yang sangat penting bagi umat-Nya. Ketika Allah swt menetapkan bahwa nikah adalah salah satu dari dua jalan keluar yang diajarkan di dalam Islam untuk melawan serangan hawa nafsu maka Allah swt pun telah turut memberikan kemudahan kepada umat-Nya untuk menikah.

Salah satu kewajiban yang harus dipenuhi dalam sebuah akad nikah oleh seorang laki-laki sebagai penghalal hubungan suami istri adalah harus memberikan mahar kepada calon istri. Tanpa adanya mahar, maka keduanya belum halal atau pernikahannya belum dikatakan sah. Maka dalam hal ini Allah swt melalui ajaran Islam memberikan kemudahan kepada pihak laki-laki berupa kemurahan nilai mahar. Islam mengajarkan kepada umat muslimah untuk tidak meninggikan atau mensyaratkan mahar yang bernilai tinggi, yang akan berakibat menyulitkan pihak laki-laki atau pernikahan itu sendiri. Berikut sabda Rasulullah saw mengenai perintah untuk merendahkan nilai mahar kepada wanita.

“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)

“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

Dalam hal ini, Allah swt juga telah berfirman, yang artinya:

“Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan” ( An Nisaa : 4)

Merujuk pada urgensi nikah yang telah dipaparkan di atas, maka memang tidak ada salahnya jika akhirnya banyak orang selalu mengawali pelaksanaan akad nikah mereka dengan kesibukan mencari hari baik.

Tidak ada salahnya untuk mecari haik, namun pada dasarnya Islam tidak mengajarkan hal ini. Karena dalam kacamata Islam, seluruh hari adalah baik, tidak ada hari yang buruk, terlebih lagi hari yang dapat memberikan keburukan atau malapetaka. Tidak ada dalil yang secara jelas dan detail di dalam ajaran Islam baik dalam bentuk firman Allah swt maupun hadits Rasulullah saw. Islam juga tidak mengajarkan kepada umatnya untuk mencari hari baik dalam melangsungkan akad nikah atau pernikahan.

Kenapa pada artikel sebelumnya (Pernikahan: Mencari Hari Baik), penulis lebih memfokuskan permasalahan pada praktek perdukunan atau peramalan?

Karena, praktek itulah yang saat ini banyak sekali dan masih berkembang di dalam kehidupan umat muslim. Sekali lagi penulis mengatakan bahwa tidak ada salahnya untuk seseorang mencari yang terbaik atau lebih baik. Namun, ketika cara yang dilakukan itu mengarah pada pertentangan terhadap syariat Islam, maka tentu saja hukumnya adalah haram. Dan itulah yang saat ini banyak terjadi di dalam kehidupan umat Islam. Mereka harus mendatangi orangtua atau orang pintar untuk mencari hari baik, untuk pelaksanaan akad nikah. Orang pintar atau orang tua itulah yang secara tidak langsung, mau atau tidak mau dalam kacamata Islam akan mendapat sebutan sebagai dukun atau paranormal (yang tentu saja diharamkan).

tanggal lahirSeseorang yang disebut sebagai orang tua atau orang pintar tadi akan menghitung-hitung atau meramalkan hari baik untuk calon pengantin yang biasanya melalui tanggal lahir kedua calon kedua pengantin. Kemudian, si orang tua atau orang pintar akan mengatakan “Pernikahannya harus dilaksanakan pada hari ini atau ini, bulan ini atau bulan ini”. Jika dilaksanakan pada hari atau bulan selain yang telah ditunjukkan oleh orang pintar atau orang tua itu maka akan terjadi musibah pada kedua pengantin atau kepada keluarga pengantin, berupa kematian, rezekinya seret, dan lain-lain. Tentu saja hal ini sangat jelas menggambarkan bentuk kesyirikan.

Lepas dari pembahasan mencari hari baik sebagai bentuk perdukunan (karena telah dibahas pada artikel yang lalu “Pernikahan: Mencari Hari Baik”), di sini penulis akan sedikit memberikan gambaran bagaimana menentukan hari yang baik, yang tentunya tidak bertentangan dengan syariat Islam, terlebih lagi mengarah kepada perdukunan atau kemusyrikan.

Sebelumnya, penulis kembali mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada dalil yang secara jelas dan detail yang mengatur mengenai hari yang tepat atau hari baik untuk melakukan akad nikah. Dengan demikian, tidak ada pula ajaran untuk mencari hari baik di dalam Islam. Karena, pada dasarnya semua hari itu adalah baik, semuanya telah diciptakan oleh Allah swt. Namun, sebagai umat Islam kita memiliki seorang suri tauladan terbaik yang bisa dijadikan panutan dalam menjalani seluruh aspek kehidupan. Kita memiliki Rasulullah Muhammad saw yang merupakan suri tauladan yang terbaik, Uswatun Hasanah bagi seluruh umat manusia, khususnya bagi umat muslim itu sendiri.

Memang benar bahwa Rasulullah saw juga tidak pernah mengeluarkan sabda yang mengajarkan atau memerintahkan umatnya untuk memilih hari tertentu untuk melaksanakan akad nikah. Namun sebagai suri tauladan yang terbaik, hanya dialah yang patut kita jadikan panutan. Demikian pula mengenai masalah hari baik untuk akad nikah ini, sudah sepatutnyalah kita mengikuti jejak beliau Rasulullah saw. Karena sesuai perintah Allah swt di dalam Al Quran yang memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah saw, yang merupakan salah satu tanda cinta kepada Allah swt. Allah swt berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imraan: 31)

Demikianlah Allah swt memerintahkan umatnya untuk senantiasa mengikuti Rasulullah saw. Berdasarkan firman Allah swt tersebut di atas, maka sudah sepatutnyalah kita mengikuti beliau juga dalam menentukan hari atau waktu untuk akad  nikah.

Dalam hal ini sederhana saja, bahwa Rasulllah saw telah menikahi beberapa dari istri beliau pada bulan yang sama, yaitu jatuh pada bulan Syawal. Dan jika kita menginginkan hari yang baik maka ikutilah jejak beliau, yaitu menikah pada bulan Syawal. Meskipun kita tidak tahu dengan pasti apa hikmah menikah di bulan Syawal yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw, namun Insya Allah itulah jalan terbaik yang diridhai oleh Allah swt. Dan dengan mengikuti jejak Rasulullah  saw ini, yang pasti akan menghindarkan kita dari perkara musyrik.

Anehnya, banyak dari umat muslim itu sendiri yang menganggap bulan Syawal sebagai salah satu bulan yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Padahal, Rasulullah saw sendiri pun telah menikah pada bulan Syawal beberapa kali (dengan beberapa istri beliau yang salah satunya adalah Aisyah binti Abu Bakar RA).

Anggapan atau mitos tersebut hingga kini masih terus berkembang di dalam kehidupan umat muslim. Mereka terus melanggengkan anggapan yang tidak ada dalilnya sama sekali di dalam ajaran Islam. Di sini tentu saja mereka telah terjatuh pada perkara yang telah disebutkan di dalam  Al Quran sebagai berikut:

“Mereka menjawab: ‘(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’” (QS. Asy Syu’araa: 74)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?’” (QS. Al Baqarah: 170)

“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.’ Mereka menjawab: ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. Al Maidah: 104)

Na’udzubillah! Semoga kita dapat terhindar dari perkara tersebut.

Di sini penulis mengakhiri dengan “wa tawaa shaubilhaq wa tawa shaubishshabri”. Marilah ilmu yang sekelumit ini kita aplikasikan mulai dari diri  dan keluarga kita. Mari kita tuntun kelaurga kita menuju Islam yang seutuhnya.

Demikian. Wallahua’lam.

About these ads

60 Tanggapan to “Nikah : Mencari Hari Baik (2)”

  1. faza Says:

    Aslkm, salam kenal..alhamdulillah, blognya bagus

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb

      salam kenal juga sobat… terimakasih ya atas kunjungan dan jejaknya

      • nia Says:

        assalamu’alaikum wr wb,
        saya seneng bangat dengan topic diatas, jujur saya sendiri sedang bingung, saya dan pacar saya sudah berpacaran 4 tahun dan rencananya kami akan melangsungkan pernikahan 1 bulan lagi, tetapi orang tua kami melarang dengan alasan tanggal lahir saya dan pacar saya tidak cocok menikah di bulan yang telah kami tentukan, jika kami tetap melanjutkan pernikahan akan mengakibatkan tidak baik dalam rumah tangga kami, saya mohon solusinya untuk hal ini,

  2. naoved Says:

    salam…
    cukup bagus topic dan penyelesaiannya, dan sungguh indah jika kita terus bisa berbagi saran dan pesan…sejauh saya tau semua hari, bulan dan tahun itu baik dan diantara semua itu ada yg lebih istimewa, seperi hari jum at, bulan rajab, sya’ban, ramadhan dan syawal, hal ini dibutikan keunikan dan keistimewaan dari hari dan bulan tersebut, knp tidak sholat jum at tidak pada hari sabtu atau minggu, dan kenapa tidak kewajiban berpuasa sebulan penuh untuk umat muslim bukan pada bulan safar atau muharam, hal ini didasari oleh keistimewaannya dan Allah maha besar dan Maha mengetahui atas setiap rahasia tersebut, dan knp tidak setiap rahasia itu diberitakan kepada hambanya yg bertakwa, seperti kepada para nabi dan rasul beserta para wali-wali Allah. ingahkah akan kisah nabi khaidi, dan bagaimana Allah menyembunyikan para pemuda nasrani yg tertidur alam gua selama kurang lebih 300 thn….sungguh jika kita kembali pada topic diatas bahwa hari dan bulan yg baik untuk menikah itu sebaiknya berpedoman pada bulan yg baik seperti diatas, dan apalagi menikah adalah perbuatan mulia dan disenangi oleh Rasulullah SAW. semoga kita bisa terus bertukar pendapat dan berbagi ilmu disini.wassalam.

  3. marfuah trihandayani Says:

    assalamu’alaikum wr wb

    salam kenal ya akhi fillah

    aku senang banget ketika membaca komentar diatas, menikah dihari baik memang hal yang sangat diinginkan, karena pernikahan awal dari perjalanan kehidupan kita dengan orang yang lain aliran darah dari ayah dan bunda.. tapi….
    aku mau bertanya mengapa pacaran dilarang dalam agama islam?

    syukron

    wassalamu’alaikum wr wb

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      salam kenal dan salah ukhuwah ya ukhti fillah

      Jazakillah khoyr ukhti…
      Alhamdulillah, semoga tulisan ini bermanfaat dan bermaslahat

      Sederhananya, karena pada dasarnya pacaran adalah salah satu jalan yang menghantarkan manusia pada perzinahan atau membawa manusia mendekati perzinahan. Kenapa demikian, karena di dalam pacaran terdapat unsur yang pasti dilakukan oleh setiap manusia yang berpacaran, yang unsur2 tersebut merupakan suatu hal yang diharamkan oleh Allah swt karena termasuk dalam perkara mendekati zina. Berikut beberapa unsur yang dimaksud:

      pertama : Saling membuka dan melihat aurat (membuka aurat ini biasanya lebih didominasi oleh pihak perempuan, karena wilayah aurat mereka memang lebih luas sedangkan mereka tidak mau mengenakan pakaian yang syar’i)

      kedua : Hanya saling pandang dan senyum

      ketiga : Hanya saling merayu dan bermanja

      keempat : Hanya saling menggenggam dan meremas jemari

      kelima : Hanya saling kecup pipi dan kening

      keenam : Hanya saling cium bibir

      ketujuh : Hanya saling peluk

      kedelapan : Hanya saling meraba

      kesembilan : Inilah batas puncak dari aktivitas pacaran, yaitu gabungan dari kedelapan batas di atas. Dan kenapa gabungan dari kedelapan batas di atas dikatakan sebagai batas puncak dari aktivitas pacaran? Karena gabungan kedelapan batasan tersebut, yaitu saling membuka aurat, saling pandang dan saling senyum, saling merayu dan bermanja, saling menggenggam dan meremas jemari, saling kecup pipi dan kening, saling cium bibir, saling peluk, dan saling meraba merupakan satu paket aktivitas yang jika mereka (sepasang sejoli itu) maju satu langkah lagi saja maka mereka akan masuk dalam kategori perzinahan (yang sesungguhnya atau zina besar), yaitu masuknya kemaluan ke dalam kemaluan. Ketika mereka melewati batas kedelapan, berarti mereka tidak lagi sedang berpacaran, melainkan sedang berzina.

      Tidak mungkin orang2 yang berpacaran dapat lepas dari unsur2 diatas. Tidak perlu semua unsur, satu unsur saja sudah masuk ke dalam kategori mendekati zina. Itulah mengapa Islam tidak mengenal pacaran, yaitu karena di dalam pacaran penuh dengan unsur2 yang dapat menyebabkan manusia masuk dalam kategori mendekati zina.

      Berikut adalah hadits yang berkaitan dengan unsur2 tersebut:

      Dari Ibnu Abbas ra. dikatakan: Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat, zinanya lidah adalah mengucapkan, zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan (pemenuhan nafsu syahwat), maka farji (kemaluan) yang membenarkan atau mendustakannya…” (HR. Bukhari & Muslim)

      “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra (17) : 32).

      mungkin seperti itu penjelasan ana, afwan jika ada kekurangan dan kesalahan. untuk lebih lengkapnya, silahkan ukhti baca artikel ini http://naunganislami.wordpress.com/2009/06/03/boleh-pacaran-asal-jangan-kebangetan/

      Jika ada yang kurang jelas silahkan disampaikan, Insya Allah ana akan berbagi semampu ana

      Wallahua’lam
      wassalamu’alaykum wr wb

  4. kawanlama95 Says:

    menikah adalah waktu yang ditunggu dan di gapai oleh manusia, namun itu adalah rahasia Ilahi kapan , siapa dan dimana? entah

  5. nurdiyon Says:

    @nia

    ‘alykumsalam wr wb

    Bismillah,

    Saudari nia yang insya Allah dirahmati Allah swt. Jika saudari memang yakin dan mantap ingin menikah dibulan yang telah saudari tetapkan, maka cobalah berikan pengertian yang baik dengan lembut kepada kedua orangtua saudari. Jangan sampai pernikahan yang saudari langsungkan justru menimbulkan perseteruan yang panjang atau justru malah menimbulkan putusnya tali silaturahim antara saudari dengan kedua orangtua. Katakan kepada kedua orangtua saudari, “Insya Allah nggak akan terjadi apa-apa, kita sama-sama berdoa dan ibu/bapak juga tolong doakan kami agar senantiasa berada dalam lindungan Allah swt”. Atau dengan kalimat-kalimat lain yang diucapkan dengan bahasa yang lembut, dan ingat… Jangan bersifat menggurui.

    Atau mungkin, bisa saja saudari yang merubah waktu penyelenggaraan pernikahan. Saudari ikuti kemauan mereka untuk menikahkan saudari di bulan apa, insya Allah tidak apa-apa dengan satu catatan… niatkan di dalam hati saudari dengan niat yang kuat dan ikhlas karena Allah swt, niatkan bahwa saudari mengikuti kemauan mereka bukan karena takut atas musibah yang diperkirakan akan saudari alami jika menikah satu bulan kedepan, melainkan sekedar untuk menghormati kedua orangtua saudari dan untuk menjaga agar perseteruan tidak terjadi, serta guna menjaga tali silaturahim agar tetap terjalin dengan baik. Niatkan bahwa saudari menikah dibulan yang telah dipilihkan oleh orangtua saudari itu semata hanyalah untuk mendapatkan ridho Allah swt, bukan karena yang lain.

    Mungkin itu yang bisa ana bagikan. Ana mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan.

  6. Rohim Says:

    Subhanallah pembahasanya bagus bisa meluruskan pemikiran orang-orang yang akan menjurus berbuat kepada kesyirikan,smoga setelah membaca blok ini kita semua bisa berpikir lebih arif menurut tuntunan sunah Rosulallah dan Al-Quran nulkarim agar semua perbuatan kita sesuai dengan jalan yang sudah diperintahkan Allah SWT dan menurut Sunah Rasulallah SAW

  7. @goeng Says:

    hari apa rasulullah nikah ?

  8. alfi Says:

    afwan bisa d copy tulisannya?

  9. feri Says:

    Aslmkm..
    slm knl y..
    saya ingin menanyakn mngenai kebiasaan masyarakat kita dlm memberlakukan adanya uang anteran atau uang jemputan kpd mempelai pria maupun wanita..diluar mahar… yg tlh mndarah daging smpai saat ini.. dengan berdasarkan adat istiadat yg dipakai masyarakat kita.. jika uang anteran blm trpenuhi maka prnikhn akn diundur bahkan bisa juga dbatalkan.. lantas bagaimankh seharusny kita menyingkapi hal ini?

    • nurdiyon Says:

      ‘Alaykumsalam wr wb

      salam kenal dan salam ukhuwah saudara/i-ku

      Menyikapi sebuah adat yang memang sudah mendarah daging di kalangan masyarakat memang bukanlah perkara yang mudah. Hal ini juga dapat dilihat melalui sejarah perjuangan Rasulullah saw dan nabi-nabi sebelum beliau dalam rangka merubah atau memperbaiki akqidah masyarakat yang telah dinodai kemusyrikan. Penyembahan berhala-berhala dan berbagai bentuk kemusyrikan serta kemaksiatan telah mendarah daging di masyarakat kala itu. Perlu perjuangan dan pengorbanan yang sangat panjang dan berat untuk memperbaiki keadaan tersebut.

      Begitu juga untuk menyikapi adat istiadat yang telah mendarah daging yang telah saudara sebutkan. Jika kita hendak berusaha untuk merubahnya, tentu saja dimuali dari diri sendiri, keluarga, sanak saudara dan seterusnya. Tapi ingat, ketika perjuangan telah meluas ke masyarakat maka rintangan tentu saja akan semakin tajam. Dan di sinilah dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang jauh lebih besar dalam berbagai hal.

      Tentu saja untuk melakukan semua itu, saudara tidak bisa berjalan sendiri. Akan lebih baik jika saudara mendapat dukungan dari seseorang atau pihak yang memiliki kedudukan atau disegani oleh anggota masyarakat.

      Jika saudara tidak mampu untuk atau memang belum mampu, maka hendaknya saudara menolah adat tersebut di dalam hati dan perbuatan. Jangan saudara jalankan adat itu manakala saudara atau anak saudara hendak menuju pelaminan. Mudah2an dari kebiasan yang saudara tanamkan tersebut kelak dapat menanamkan kebiasan yang lebih baik meskipun perlahan.

      Mungkin itu tanggapan dari ana. Maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dalam tanggapan yang ana berikan.

      Wallahua’lam

  10. dani Says:

    Assalamualaikum wr.wb.
    saya pernah baca di situs juga,, menurut Imam Jaf’ar ash-shadiq (sa), (menurut situs tersebut merupakan salah satu cicit Rasulullah saw, yaitu putera Muhammad Al-Baqir bin
    Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fatimah binti Rasulillah saw), bahwa setiap tanggal di dalam bulan hijriah mengandung kebaikan atau keburukan sendiri2. misalnya :
    Tentang hari-hari pilihan, Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Hindarilah
    melakukan safar (bepergian) pada hari ketiga, keempat, ke 21 dan ke 25
    setiap bulan, karena hari-hari itu adalah hari nahas.” (Makarimul Akhlaq: 424)

    tgl 1 : baik u/ mencapai hajat, bertemu penguasa, jual-beli,dll
    tgl 3 : buruk dan tidak baik u/ sluruh kegiatan


    tgl 10: baik u/ semua hajat kecuali mendatangi penguasa


    23: terpilih dan sangat baik khusus u/ perkawinan, pedagangan, dll


    tgl 30: terpilih dan sangat baik u/ semua hajat

    juga diterangkan bahwa itu merujuk kepada ayat di dalam Al-qur’an yaitu :

    Allah swt berfirman: “Kami menghembuskan badai dalam beberapa hari yang
    nahas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang
    menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan di akhirat lebih
    menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat/41: 16)

    “Sesungguhnya Kami menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang
    pada hari nahas yang terus menerus.” (Al-Qamar/54: 19).

    mengenai ini saya menjadi bimbang mengingat saya selama ini mengimani bahwa semua hari adalah baik.

    mohon tanggapannya..

    Wassalamualaikum wr.wb.

  11. putri Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb

    Apabila mencari hari baik berdasarkan tanggal & hari lahir tidak dibolehkan di Islam, bagaimana apabila berdasarkan nama?karena menurut orangtua saya yang dinikahkan adalah nama sehingga tidak ada salahnya untuk mencari hari baik berdasarkan nama. apakah berdasarkan nama juga mendekati syirik? saya takut saya membuat kesalahan
    terimakasih untuk penjelasannya,

  12. murni islam Says:

    Yakinlah bahwa hanya Allah swt lah yang kuasa memberikan kemudharatan dan kebaikan, bukan nama, tanggal lahir atau yang lainnya.

  13. iwan Says:

    Asallaamualaikum… menurut bulan … kalu bulan pernikaan dijalankan pada bulan sahwal,,,,, apa bisa kerana masahala yang kami hadapi sangat la rumit sekali.kata2 orang tua-tua kalu di bulan shwal gak bisa menika kerana bulan sahwal tu adalah bulan sici bagi umat islam…..

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Insya Allah tidak mengapa menikah dibulan Syawal, karena pernikahan pun merupakan satu perkara yang sakral. Dan insya Allah tidak ada pula dalil yang melarang umat muslim untuk menikah dibulan Syawal. Sampai saat ini pun banyak pernikahan yang dilaksanakan pada pada bulan Syawal, bahkan pada bulan Ramadhan sekalipun yang justru kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang basic pengetahuan/ilmu keislamannya sudah cukup bagus, dan Alhamdulillah semua lancar-lancar saja atas izin Allah swt.
      Rasulullah saw sendiri pun telah menikah pada bulan Syawal beberapa kali (dengan beberapa istri beliau yang salah satunya adalah Aisyah binti Abu Bakar RA).
      Bismillah saja dan yakinlah akan Qadha dan Qadar-Nya.
      Wallahua’lam

  14. jaini Says:

    syukran ilmunya

  15. Panji Says:

    nice share,,nambah wawasan ttg hr pernikahan

  16. Archiver Says:

    iya benar tuh, JANGAN percaya ama orang pintar yang mnegharuskan kita menikan di bulan tertentu karena di bulan lain katanya bisa dapat sial, semua kesialan dan keberuntungan datangnya dari Langit deh, thanks …

  17. sunarsih Says:

    saya mempunyai calon yang bernama achmad samsul bahri, kami ingin menikah pada pertengahan april tanggal yang kami kinginkan tgl 15 april 2011 sedangkan kami berdua terpaut 4 tahun saya lahir pada tanggal 19 juli 1991 dan dia tgl 06 januari 1987. pertanyaan saya apakah tanggal yang saya dan dia inginkan baik untuk jadi hari pernikahan kami berdua, terimakasih sebelumnya.

    • nurdiyon Says:

      Bismillaah…

      Insya Allah seluruh hari dan tanggal adalah baik untuk menikah…

      Yakinlah dan bermunajatlah kepada Allah swt agar diberikan kemudahan dan keberkahan pada pernikhan saudara/i. Tidak ada musibah yang akan menimpa seorang hamba kecuali atas izin Allah swt, dan tidak ada seorang manusia yang dapat luput dari musibah kecuali atas izin-Nya juga. Tidak ada yang mampu memberikan musibah ataupun kebaikan kepada siapapun kecuali atas izin Allah swt meskipun berhimpun kekuatan seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit.

      Niatkanlah menikah untuk ibadah kepada Allah swt, istikharahlah, dan mohonlah keselematan dan barakah pada pernikhan saudara/i. Yakinlah bahwa Allah swt Maha Kuasa atas segala sesuatu.

      “Datang kepada orang tua, yang dituakan, tokoh masyarakat, atau kyai untuk bertanya dan mencari hari baik merupakan salah satu perbuatan syirik, karena mengandung unsur meramal. Ini sama artinya dengan mendatangi atau meminta bantuankepada TUKANG RAMAL atau DUKUN. Biasanya, hari dan tanggal lahir kedua calon pengantin dihitung-hitung atau diterawang lebih dahulu, dilihat dari primbon dan sebagainya. Kemudian hasil terawangan menyatakan bahwa pernikahan harus dilaksanakan pada hari dan tanggal sekian, jika pernikahan dilaksanakan pada hari-hari yang lain akan mendatangkan musibah, misalnya kematian salah satu pengantin, rezeki keluarganya akan sempit, keluarga sakit-sakitan, rumah tangganya akan berantakan, dan sebagainya. Hal ini tentu saja sudah mengarah kepada syirik….” Selengkapnya dapat saudara/i baca di sini

      wallahua’lam

  18. naya Says:

    alhamdullah saya lega dan tenang setelah saya baca situs ini…karena saya akan melaksanakan lamaran di tanggal 7 ini..tetapi menurut teman saya yang kebetulan percaya dengan tanggal baik dan bulan baik , saya tidak boleh melaksanakan lamaran di tanggal 7 desember 2010 ini,

    saya harus bagimana ya?
    sebenarnya saya tidak percaya dengan hal itu, tapi saya bingung msalahnya dia oarng tua, apa saya ikuti ajaran islam saja…dan saya yakin semua masalah atau apapun datangnya dari Allad SWT.
    saya mohon penjelasannya…

    terima kasih wassalamualaikum..

    • nurdiyon Says:

      Alhamdulillah, semoga Allah swt memberikan kemudahan dan memberkahi pernikahan saudari/a.

      Yakinlah kepada Allah swt bahwa segala sesuatu akan terjadi atau tidak akan terjadi hanyalah atas kehendak dan izin-Nya semata.

      “Wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan (kepada ALLAH) dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang yang sabar” (QS. Al Baqarah : 153)

      Ikatlah ikatan sakral itu dengan cara yang sakral, ikatlah ikatan yang suci itu dengan cara yang suci, dan ikatlah ikatan yang penuh berkah itu dengan cara yang diberkahi oleh Allah swt, bukan dengan cara yang dapat menimbulkan laknat dan murka-Nya. Mohonlah kepada Allah swt agar diberikan kemudahan dan dihindarkan dari kemudharatan. Perbanyak mengingat Allah, niscaya Allah pun akan mengingat kita.

      “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”(QS. Al hadiid : 22 – 23).

      Merujuk pada ayat di atas, jelaslah bahwa segala sesuatu bencana yang terjadi itu merupakan suatu ketetapan yang telah tertulis di Lauh Mahfuzh. Bukan dukun atau tukang ramal yang menyebabkannya, dan bukan mereka pula yang akan menghilangkannya. Maka tidak ada satu pernikahan yang mengalami kegagalan karena tidak mendatangi dukun atau tukang ramal guna menanyakan hari baik. Tidak akan ada musibah dalam suatu pernikahan, kecuali itu sudah tertulis di Lauh Mahfuzd, menjadi rahasia Allah swt, dan tidak akan ada yang mampu untuk mengetahui ataupun menghindarinya.

      Saudaraku, mari sama-sama kita jaga nilai-nilai kemuliaan pernikahan dan akidah islam kita dengan menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan syirik dan menyekutukan Allah swt. Serahkan semuanya kepada Allah swt. Menikahlah dengan niat untuk beribadah kepada Allah swt, dan laksanakanlah pernikahan tersebut dengan cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah swt di dalam syariat Islam. Memohon dan memintalah pertolongan hanya kepada Allah swt untuk mendapatkan pernikahan yang selamat, yang penuh dengan barakah, sakinah, mawaddah, warrohmah. Karena Allah swt yang Mengatur dan Memiliki segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, serta yang ada diantara keduanya.

      Wallahua’lam

  19. yetti selastri Says:

    ass.. akhi saya mw tau, kira2 kpn bln baik n hari baik untuk melangsungkn pernikahan pada awl bln d thn 2011 ini.mis d bln rabiul awal atw rabiul akhir.

  20. yetti selastri Says:

    tlg email y akhi…syukron.

    • nurdiyon Says:

      Bismillaah…
      Sebelumnya saya mohon maaf karena permintaan saudara/i adalah jawaban via email, saya sudah coba via email tapi gagal, maka saya memberikan jawabannya di sini.

      sebenarnya pertanyaan semacam ini sudah beberapa kali ditanyakan di sini dan saya sudah memberikan jawabannya. Untuk itu, jawaban yang akan saya berikan kali ini adalah sama seperti jawaban yang pernah saya berikan pada pertanyaan-pertanyaan sejenis sebelumnya.

      Insya Allah seluruh hari dan tanggal adalah baik untuk menikah…

      Yakinlah dan bermunajatlah kepada Allah swt agar diberikan kemudahan dan keberkahan pada pernikhan saudara/i. Tidak ada musibah yang akan menimpa seorang hamba kecuali atas izin Allah swt, dan tidak ada seorang manusia yang dapat luput dari musibah kecuali atas izin-Nya juga. Tidak ada yang mampu memberikan musibah ataupun kebaikan kepada siapapun kecuali atas izin Allah swt meskipun berhimpun kekuatan seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit.

      Niatkanlah menikah untuk ibadah kepada Allah swt, istikharahlah, dan mohonlah keselematan dan barakah pada pernikhan saudara/i. Yakinlah bahwa Allah swt Maha Kuasa atas segala sesuatu.

      “Datang kepada orang tua, yang dituakan, tokoh masyarakat, atau kyai untuk bertanya dan mencari hari baik merupakan salah satu perbuatan syirik, karena mengandung unsur meramal. Ini sama artinya dengan mendatangi atau meminta bantuankepada TUKANG RAMAL atau DUKUN. Biasanya, hari dan tanggal lahir kedua calon pengantin dihitung-hitung atau diterawang lebih dahulu, dilihat dari primbon dan sebagainya. Kemudian hasil terawangan menyatakan bahwa pernikahan harus dilaksanakan pada hari dan tanggal sekian, jika pernikahan dilaksanakan pada hari-hari yang lain akan mendatangkan musibah, misalnya kematian salah satu pengantin, rezeki keluarganya akan sempit, keluarga sakit-sakitan, rumah tangganya akan berantakan, dan sebagainya. Hal ini tentu saja sudah mengarah kepada syirik….” Selengkapnya dapat saudara/i baca di sini

      Yakinlah dan bermunajatlah kepada Allah swt agar diberikan kemudahan dan keberkahan pada pernikhan saudara/i. Tidak ada musibah yang akan menimpa seorang hamba kecuali atas izin Allah swt, dan tidak ada seorang manusia yang dapat luput dari musibah kecuali atas izin-Nya juga. Tidak ada yang mampu memberikan musibah ataupun kebaikan kepada siapapun kecuali atas izin Allah swt meskipun berhimpun kekuatan seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit.

      Niatkanlah menikah untuk ibadah kepada Allah swt, istikharahlah, dan mohonlah keselematan dan barakah pada pernikhan saudara/i. Yakinlah bahwa Allah swt Maha Kuasa atas segala sesuatu.

      Demikian, semoga bermanfaat.
      wallahua’lam

  21. annisa Says:

    ass. sobat

    saya senang bisa membaca blog ini
    membuka wawasan saya tentang menikah dr segi islam
    saya ingin betanya, adakah hari2 dimana memang dilarang untuk menjalankan pernikahan, misal saat hari raya islam.. seperti idul fitri ataupun idul adha..
    karna saya berniat menikah pas idul adha

    terima kasih ditunggu sharing nya
    wass

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      sebelumnya mohon maaf karena beberpa hal sehingga jawaban ini mungkin terlalu lama
      Insya Allah, tidak ada dalil yang mengharamakan satu hari atau satu bulan untuk melangsungkan pernikahan. Maka insya Allah semua hari atau bulan adalah halal untuk menikah.

      Wallahua’lam

  22. naya Says:

    ass…wr..wb

    maaf saya bertanya:
    saya akan menikah bulan februari ini..
    tapi ibu saya seperti tidak mendukung sekali pernikahan saya. dan ayah saya sudah meninggal, jadi wali nikah saya ibu saya dan abang saya.
    tapi saya dari dulu tidak cocok dengan mereka.
    yang saya tanyakan
    1. bagaimana nanti jika hari pernikahan saya mereka tidak mau menjadi wali di pernikahan saya.
    apakah batal pernikahan saya jika mereka tidak datang dan tidak ada konfirmasi ?

    terimakasi..wassalamm.

    • Abdullah Says:

      Assalamualaikum.
      Urutan wali: ayah (si wanita), kakek (ayahnya ayah), saudara laki2 kandung, saudara laki2 seayah, Saudara laki2 ayah (paman) dst. Wali boleh mewakilkan haknya kepada laki2 lain.

      Wallahua’lam
      Jazakumullah

  23. yanti Says:

    Ass…

    Nice Artikel…
    Bisa menjadi masukan dalam menentukan hari baik utk pernikahan yg tidak perlu dihitung2…
    Karena rncana bbrp bulan lagi, saya dan calon suami akan melangsungkan pernikahan, dimana hari baik utk melaksanakan pernikahan sudah kami kira2 sendiri berdasarkan jadwal dan bisa utk cuti kerja.
    Mengingat calon suami kerja di luar jawa dan saya juga kerja di luar kota, jadi utk menentukan hari baik dari kami berdua memang tidak terpaku oleh adat dari orang tua.
    Yang jadi masalah, dari pihak keluarga saya tetep kekeh utk mencari hari baik, yang menurut saya itu tidak perlu.
    Karena sesuai dengan hadist dan artikel2 yang saya baca sebelum artikel ini, semua hari baik dan saya yakin akan hal itu. Bagaimana menjelaskan ke keluarga saya ya, agar lebih mengerti akan hal ini. Orang tua sudah dijelaskan dan mengerti akan kondisi dari kami karena keterbatasan waktu, tetapi dari tante saya ini yang tidak sependapat dengan saya dan calon suami, yang harus mencari hari baik (yang menurut saya itu termasuk musyrik juga). Mohon untuk sarannya. Terima kasih,,,

  24. ~Amela~ Says:

    Assalamualaikum
    saya setuju dengan pendapat anda.. tidak ada hari baik ataupun buruk..
    tapi yang menjadi kesulitan pasangan-pasangan yang akan menikah adalah menentang kehendak orang tua, kebanyakan orang tua masih percaya tentang hari baik

  25. Uwy Says:

    setelah bberapa minggu mntan calon suami saya kembali mnemui n mminta mnjalin hub kembali,,ttapi klurga saya msih sakit dengan sikap dy sbelumnya.. tp dlam diri daya kl mmg dy jdoh saya ,saya akan mnerima ikhlas dy kmbali ttapi bila dy bkan jdoh saya,saya jg ikhlas melepas dy…
    bagaimana mnurut anda ??

    • nurdiyon Says:

      Insya Allah Saudari Uwy…
      Sebagai manusia kita diwajibkan untuk berusaha semaksimal yang kita bisa, sementara hasil akhir tentunya menjadi hak mutlak Allah swt. Insya Allah, Allah swt akan senantiasa memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya. Meskipun terkadang pahit dalam pandangan kemanusiaan kita, namun Insya Allah, Allah swt memiliki rencana lain buat kita, rencana yang lebih indah. Amien.

  26. ri2n Says:

    assalamualaikm wr.wb
    saya ingin bertanya, apakah menikah di bulan 1 smpai bulan 6 tidak baik..
    sya mendengar dari bukde saya. apakah benar demikian. saya tahu, semua hari baik. hanya saja karena sudah dibilang jd sedikit was-was. terima kasih banyak sebelumnya. mohon jawabannya.

  27. Tika Says:

    Ass.. Saya ingin menanyakan tentang adat jawa yang mengatakan kakak adik tidak b0leh menikah di tahun yang sama.. Bagaimana menurut anda..

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Insya Allah hal semacam itu tidak terdapat di dalam Islam (tidak ada hukum larangannya). Hal itu hanyalah sebatas kepercayaan atau mitos yang sifatnya turun-temurun. Jadi semua tergantung seberapa besar keimanan kita kepada Allah swt.

      Wallahua’lam

  28. martha Says:

    Assalamualaikum.artikel yang sangat bagus dan saya adalah salah satu korban kepercayaan tentang perhitungan hari dalam pernikahan oleh keluarga saya, saya sudah mengingatkan mereka tentang pernikahan dalam syariat islam tapi pendapat saya ditolak mentah-mentah, dan saya juga tidak mau dianggap sebagai anak yang durhaka. disi lain hati saya sangat bertentangan dengan kepercayaan perhitungan hari tersebut, padahal kita tahu Rasulullah sendiri menganjurkan kita untuk menyegerakan untuk menikah. Bagaimana menurut pendapat anda? dan apa hukumnya jika menikah tanpa restu orang tua dikarenakan hal tersebut? terima kasih.

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb

      Tetaplah menikah dengan restu orangtua. Semoga dengan demikian, pernikahan anda akan bertambah berkah. karena Ridha Allah bergantung pada ridha orangtua, dan murka orangtua pun bisa menjadi murkanya Allah.

      Rasulullah saw bersabda, “Cegahlah kemungkaran itu dengan kekuatan (tangan), kalau tidak mampu maka dengan lisan, kalau tidak mampu juga maka dengan hati (menolak dalam hati) dan itulah selemah-lemahnya iman”.

      Demikian. Semoga bermanfaat
      Wallahua’lam

  29. asep Says:

    Assalmualkm…-Mohon Doa y di beri kemudahan tk pernikahan sya

    Trma ksh

  30. ikhwan Says:

    mencari2 hari baik itu adalah jalan syaitan, supaya kita mengundur-ngundur pernikahan.. supaya kita tetap dalam kemaksiatan..

    segerakanlah menikah apabila tumbuh keinginan di dalam hati untuk menikah,, Allah akan mencukupi sesuatu kekurangan kita..

  31. Mhy Rusmy Says:

    Jadi semua Tanggal itu baik ya’?
    Hanya tinggal Bulannya saja yang qt ikut seperti jejek Nabi SAW yaitu bulan Syawal’!!

  32. ama Says:

    aslmkm….maaf sebelumnya ada beberapa hal dalam tulisan anda yang mengganggu pikiran saya, yaitu Demikian vitalnya hikmah, manfaat dan maslahat yang dapat diperoleh dari nikah, hingga Rasulullah saw pun mencela orang-orang yang tidak mau menikah (membujang tanpa adanya alasan yang syar’i). Melalui beberapa sabdanya, Rasulullah saw mengatakan:

    “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.)

    “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)

    “Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang” (HR. Abu Yahya dan Thabrani)

    yang saya ingin tanyakan maksud dari “alasan syar’i ” itu apa saja? mengingat saat ini banyak sekali yang lebih memilih hidup membujang daripada menikah dengan berbagai versinya sendiri.

  33. chris Says:

    ass..
    saya mau sedikit bercerita, sekarang ini hubungan kita tidak disetujui orang tua dikarenakan hari lahir atau neptu kita sama, kita saling suka dan siap untuk menikah karena kita sudah merasa mampu dan sudah melebihi umur, kami bingung bagaimana harus menjelaskannya..
    apa hukumnya bagi orang tua menurut al qur’an..
    terima kasih.
    wassallam..

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Menghalangi seseorang untuk melakukan kebaikan, terlebih lagi dengan alasan yang tidak syar’i tentunya bisa menyebabkan dosa. Namun dalam hal ini hendaknya saudara/i tetap berusaha untuk memberikan pengertian dengan cara yang baik, meskipun memang tidak mudah..

      Demikian. Wallahua’lam

  34. ardi Says:

    ass,,,,,,saya ingin bertanya,,,apakah ada larangan dalam islam menikah pada hari yang sama dengan hari pernikahan ortu.klu ada apa alasanya? atau gmn hukumnya

  35. devi Says:

    assalammualaikum.wr.wb

    saya mau bertanya, insya allah bulan septmber 2012 saya akan
    menikah,tapi saya dan keluarga bingung menentukan tgl yg baik.calon suami saya dari jawa dan keluarganya sangat percya dengan mncri tgl yg baik,stlah brtnya kpd org pintar trnyta tgl tersebut jatuh pd hari biasa,sdngkan ortu saya ingin di hari libur. tetapi seperti yg dijelskan diatas kalo tdk di tgl tersebut akan knp2. mnurt orrtu saya smua hari n tgl itu baik,yg pnting niatnya ibadah. tetpi mnrt adat jawa tgl baik itu hrs dipakai,kalo crta saya ini gmn solusinya?

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam salam wr wb
      Coba berikan penjelasan dulu pada calon suami anda, kemudian biarkan calon suami anda yang melanjutkannya ke orangtua beliau. Bila perlu, coba saja anda brikan artikel Mencari hari baik ini (versi 1 dan 2)

  36. frank Says:

    sebuah solusi yang bagus ustd

  37. dewi atin surya Says:

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Saya suaka sekali dengan artikel ini, saya jadi tahu banyak hal tentang pernikahan.
    Saya juga dapat menyelesaikan tugas saya karena artikel ini.
    Terima kasih.

  38. danu Says:

    ijin share..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: