Akad Nikah

Segala sesuatu pastinya memiliki kunci yang berfungsi sebagai pembuka, maka seperti itu pulalah dengan pernikahan. Pernikahan adalah sebuah hubungan yang harus dibuka dengan menggunakan sebuah kunci, sehingga kedua mempelai dapat memasuki ruang yang terdapat di dalam pernikahan tersebut.

Kunci pembuka bagi terselenggaranya sebuah pernikahan adalah akad nikah. Pelaksanaan akad nikah inilah yang kemudian membuka hubungan pernikahan di antara kedua mempelai. Kunci inilah yang akan menghancurkan rintangan-rintangan yang menghalangi keduanya untuk bersatu. Dan kunci ini pulalah yang akhirnya akan menutup pintu dan menjadi penghalang masuknya pihak ketiga dalam kehidupan kedua mempelai.

Pada dasarnya, akad nikah merupakan satu bentuk upacara keagamaan yang akan mengikat dua insan dalam ikatan suci dan resmi yang dikenal dengan ikatan pernikahan. Di dalam akad nikah inilah, ikatan pernikahan antara dua anak manusia yang saling bersepakat untuk membina mahligai rumah tangga diumumkan dan diresmikan di hadapan manusia (masyarakat) dan Tuhan.

Lokasi Akad Nikah

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa akad nikah adalah salah satu bentuk upacara keagamaan, dan biasanya dalam akad nikah juga banyak dihadiri oleh para tamu yang merupakan karib kerabat dari kedua mempelai yang ingin menyaksikan jalannya acara akad nikah tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut, maka tentu saja hal ini akan membutuhkan tempat pelaksanaan. Tempat untuk prosesi akad nikah tidaklah harus digedung yang besar atau mewah, tapi dapat di sesuaikan dengan keadaan. Ada beberapa tempat yang sangat lazim digunakan oleh masyarakat untuk melaksanakan akad pernikahan, yang tidak harus mewah dan mengeluarkan biaya yang melangit. Berikut ini adalah beberapa tempat yang biasanya menjadi pilihan untuk pelaksanaan akad:
1.    Dalam ruangan masjid

Ada beberapa pasangan pengantin yang memilih masjid sebagai tempat untuk melangsungkan akad nikah mereka. Memilih masjid sebagai tempat untuk melakukan akad nikah bukanlah pilihan yang buruk, karena akan memberikan nuansa kesakralan yang lebih kental mengingat masjid adalah tempat yang biasa digunakan untuk beribadah. Meskipun demikian, pilihan ini juga memiliki sedikit kelemahan, yaitu bagi wanita yang sedang mengalami haid tidak dapat memasuki ruangan masjid untuk turut menyaksikan momen akad nikah tersebut.


2.    Di rumah mempelai wanita

Pilihan yang paling lazim untuk melaksanakan akad nikah adalah bertempat di rumah mempelai wanita. Ini merupakan pilihan yang paling banyak diambil dan bahkan telah  membudaya di kebanyakan wilayah, sehingga kadang untuk pelaksaan akad nikah sudah pasti berlangsung di kediaman mempelai wanita tanpa harus dimusyawarahkan kembali. Namun, hal ini juga dapat dikondisikan kembali manakala rumah mempelai wanita tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat pelaksanaan akad nikah.


3.    Di rumah mempelai pria

Alternatif pilihan yang ketiga adalah bertempat di rumah mempelai laki-laki. Alternatif ini menjadi pilihan biasanya karena kediaman  mempelai wanita tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat berlangsungya akad nikah kedua mempelai, entah karena luas area rumahnya, lokasi rumahnya, atau karena hal-hal lain.


Rukun Nikah

Di dalam pernikahan dikenal istilah rukun nikah. Rukun nikah inilah yang wajid dipenuhi dan harus ada selama proses akad nikah berlangsung. Jika salah satu dari rukun nikah tersebut, maka akad nikah tidaklah sah. Mengenai rukun nikah ini, Islam telah menetapkannya menjadi 5 poin yang wajib ada dalam prosesi akad nikah. Berikut ini adalah kelima poin yang dimaksud:
1.    Calon mempelai pria
2.    Calon mempelai wanita
3.    Wali mempelai wanita
4.    Saksi, minimal 2 orang
5.    Ijab & kabul


Ijab & Kabul

Ijab & kabul, adalah sepasang kata yang tentunya sudah tidak asing lagi dalam istilah pernikahan. Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan Ijab & kabul tersebut?

Ijab & kabul merupakan serangkaian ucapan yang diucapkan oleh orang tua atau wali mempelai wanita untuk menikahkan putrinya kepada calon mempelai laki-laki. Secara sederhana, Ijab & Kabul dapat dianggap sebagai satu bentuk kata sepakat diantara kedua belah pihak, yaitu pihak calon mempelai laki-laki dengan orang tua atau wali calon mempelai wanita. Maknanya adalah pihak orang tua mempelai wanita melepaskan anaknya untuk dinikahi oleh seorang laki-laki (calon mempelai laki-laki), kemudian calon mempelai laki-laki menerima calon mempelai wanita untuk ia nikahi.

Bahasa yang digunakan untuk mengucapkan Ijab & kabul biasanya ditentukan oleh calon mempelai pria. Ijab & kabul dengan menggunakan bahasa Arab juga menjadi pilihan yang cukup populer di beberapa suku di Indonesia. Meskipun demikian, penggunaan bahasa Indonesia juga banyak menjadi pilihan dalam berbagai prosesi akad nikah. Hal ini bukanlah satu perkara yang memberatkan karena bahasa yang digunakan dalam akad nikah sama sekali tidak mempengaruhi sah atau tidaknya sebuah akad nikah. Pemilihan bahasa untuk akad nikah ini biasanya hanyalah pengaruh dari budaya atau anggapan mengenai harga diri saja.
Ijab & kabul Bahasa Indonesia

Untuk ucapan ijab dalam bahasa Indonesia kurang lebih bunyinya sebagai berikut:

“Saya nikahkan engkau, ……(nama calon mempelai pria) bin …… (nama ayah calon mempelai pria) dengan ananda …… (nama calon mempelai wanita) binti …… (nama ayah calon mempelai wanita), dengan mas kawin …… (misalnya: perhiasan emas 18 karat seberat 20 gram) dibayar …… (tunai/hutang).”

Ucapan ijab tersebut harus dijawab dengan ucapan kabul secara langsung oleh calon mempelai laki-laki dan tidak boleh sampai ada jeda waktu yang signifikan (yang mengakibatkan dapat disela oleh ucapan kabul dari pihak selain calon mempelai laki-laki). Untuk ucapan kabul kurang lebih bunyinya adalah sebagai berikut:

“Saya terima nikahnya …… (nama calon mempelai wanita) binti …… (nama ayah calon mempelai wanita) dengan mas kawin tersebut dibayar …… (tunai/hutang).”

Untuk mempermudah pemahaman terhadap ijab & kabul ini, maka berikut kami berikan satu contoh:
•    Nama calon mempelai pria: Rahmat Kurniawan
•    Nama ayah mempelai pria: Jaka Tarub
•    Nama calon mempelai wanita: Nurmala Dewi
•    Nama ayah mempelai wanita: Faisal Langgeng
•    Mas kawin : Seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar Rp. 5.000.000

Maka, bunyi ijab yang diucapkan oleh Bapak Faisal Langgeng yang akan menikahkan putrinya sendiri (tidak diwakilkan) adalah sebagai berikut:

“Saya nikahkan engkau, Rahmat Kurniawan bin Jaka Tarub, dengan putri saya, Nurmala Dewi binti Faisal Langgeng dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sejumlah Rp 872.005 dibayar tunai.”

Setelah Bapak Faisal Langgeng selesai mengucakan ijabnya, maka Rahmat Kurniawan harus segera menjawab ijab tersebut (kalau bisa dalam satu nafas) dengan ucapan kabul yang bunyinya sebagai berikut:

“Saya terima nikahnya, Nurmala Dewi binti Faisal Langgeng dengan mas kawin tersebut tunai.”

Langkah akhir dari sebuah akad adalah penentuan sah atau tidaknya ucapan ijab & kabul dari ayah calon mempelai wanita dan calon mempelai laki-lakli. Maka setelah Rahmat Kurniawan se;esai mengucapkan kabul, para saksi kemudian mengecek apakah pengucapan ijab dari wali mempelai wanita dengan kabul dari mempelai pria harus sambung menyambung tanpa putus atau tanpa ada jeda. Jika para saksi menganggap ijab dan kabulnya sambung menyambung, maka biasanya mereka menetapkan bahwa akad nikah yang barusan dilakukan adalah sah, dengan mempertimbangkan terpenuhinya persyaratan rukun nikah. Pernyataan sah ini tidak diselingi dengan pernyataan-pernyataan tambahan yang lain.


Temu Manten

Acara temu manten ini biasanya terdapat pada prasesi akad nikah yang benar-benar dilakukan sesuai dengan ajaran Islam yang murni tanpa ada embel-embel tradisi. Dalam ajaran Islam, calon mempelai wanita dan calon mempelai laki-laki tidak boleh didampingkan ketika pelaksanaan akad nikah. Kedua calon mempelai berada di tempat terpisah dengan hijab atau pembatas yang akan menghalangi keduanya untuk bertemu atau melihat sekalipun, sebelum ijab & kabul selesai dilaksanakan. Setelah prosesi ijab & kabul selesai dengan hasil “sah”, maka saat itulah kedua pengantin akan dipertemukan.

Perlu diketahui bahwa dalam sistem islami ini, kedua mempelai sebelumnya juga sudah harus salingmengenal terlebih dahulu, sehingga tidak jatuh dalam istilah membeli kucing dalam karung. Hanya saja, perkenalan diantara kedua calon pun juga harus dilakukan dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Islam, yang biasa dikenal dengan istilah ta’aruf sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan

  1. Tidak ada keharusan untuk menyandingkan calon mempelai wanita dengan calon mempelai laki-laki-laki pada saat prosesi ijab & kabul, terlebih lagi mengumpulkan keduanya dalam satu naungan kerudung. Dan dalam pernikahan yang sesuai dengan tuntunan Islam, justru hal semacam ini dilarang, karena keduanya pada saat itu belum terikat pernikahan dan belum menjadi muhrim.
  2. Hal yang paling vital adalah pengucapan ijab oleh Orang tua atau Wali dari mempelai wanita, yang dijawab dengan ucapan kabul oleh calon mempelai laki-laki.
  3. Seperangkat alat sholat telah menjadi salah satu budaya yang biasanya selalu menjadi mas kawin, seolah-olah penggunaan seperangkat alat sholat sebagai mas kawin adalah satu kewajiban, padahal tidak demikian adanya. Tidak menggunakan seperangkat alat sholat sebagai mas kawin pun tidak menjadi masalah.
  4. Sedapat mungkin, mas kawin yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak wanita memiliki nilai nominal yang signifikan, sebagai bentuk tanggung jawab calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai wanita.
  5. Mas kawin tidaklah harus dibayar dengan tunai pada saat itu juga. Bagi calon mempelai laki-laki yang memiliki keterbatasan ekonomi, maka ia dapat mencicil atau menghutang mas kawin tersebut.

Demikianlah artikel singkat mengenai akad nikah dan ketentuan-ketentuannya. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan barokah bagi kita semua, khususnya bagi yang membutuhkan informasi mengenai akad nikah. Amin.

Wallahua’lam bishshowab

www.sekeluarga.com

8 Tanggapan to “Akad Nikah”

  1. fauzi Says:

    assalamu’alaikum.
    rasanya akad nikah denga bahasa arab lebih mudah, daripada bahasa indonesia.

  2. Deenich Says:

    Assalamu’alaikum…
    Jika pada saat diadakan akad nikah, mempelai wanita dlm keadaan haid, bagaimanakah konsekuensinya? (tidak mengetahui & mengetahui hal tsb)… Mohon pencerahan? Jazakumullah..
    Wassalam…

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb

      sebelum ana minta maaf karena terlambat memberikan jawaban karena belakangan ana jarang sekali online.

      beberapa hal yang menurut Islam dilarang bagi wanita yang sedang haidh diantaranya adalah sholat, puasa, berjima’ (hubungan suami istri), dan haji. Di luar itu insya Allah diperbolehkan.

      sampai saat ini ana belum menemukan, membaca atau mendengar adanya dalil yang melarang wanita haidh untuk melakukan akad nikah. Maka tentu saja insya Allah akad nikah tidak ada masalah (sah).

      Yang perlu sekali untuk diperhatikan adalah saudara tidak boleh menggauli sang isteri selama ia masih dalam keadaan haidh. Harus menahan diri hingga sang istri kembali suci (berhenti haidh dan telah mandi junub, kalau belum mandi junub tetap belum boleh melakukan hubungan suami istri)

      Demikian jawaban ana, semoga bermanfaat
      Wallahua’lam

      wassalamu’alaykumsalam wr wb

  3. deenich Says:

    terimakasih atas balasannya.

    Jazakumullah…

  4. Affan Says:

    minggu kemarin,adik ipar saya menikah dengan wali hakim.pada waktu ijab, wali hakim salah menyebutkan nama adik saya.kumasafi menjadi kusumasafi. apakah ini sah menurut syarat akad? terima kasih

    • abdullah Says:

      Assalamu’alaikum wr wb

      Bismillaahirrahmaanirrahiim

      saya akan coba untuk menanggapai pertanyaan dari saudara Affan.

      Sebenarnya jawabannya sederhana saja saudaraku…
      Begini, anggap saja anda akan melangsungkan akad nikah dan nama calon mempelai anda adalah Nakoto Willi binti Rahman. Namun ketika akad yang diucapkan adalah Nakoto Willi binti Rahman. Maka apakah anda telah menikah dengan saudari Nikita Willi? Tidak, tapi anda telah menikah dengan seorang wanita lain yang bernama Nakoto Willi.

      Atau ketika menyebutkan nama orangtua yang salah, misalnya Nikita Willi binti RAHMAT(yang seharusnya adalah binti RAHMAN). Maka yang anda nikahi adalah Nikita Willi yang lain, bukan calon mempelai anda. Yang telah anda nikahi adalah Nikita Willi ANAK DARI BAPAK RAHMAT, bukan Nikita Willi ANAK DARI BAPAK RAHMAN.

      Artinya, anda belum menikah dengan saudari Nikita Willi, dengan kata lain: “PERNIKAHAN ANDA DENGAN NIKITA WILLI ADALAH TIDAK SAH”

      LANTAS BAGAIMANA JIKA PERNIKAHAN TERSEBUT TETAP DILANJUTKAN TANPA TERLEBIH DAHULU DIPERBAIKI/DIULANG AKADNYA?

      SOLUSINYA:
      Meskipun secara Islam pernikahan tersebut tidak sah, namun dalam hukum kenegaraan dapat dianggap sah. Karena sahnya menurut hukum kenegaraan biasanya bergantung pada surat-surat yang dikeluarkan oleh Staff KUA yang di dalamnya termasuk penghulu KUA. Sedangkan surat-surat tersebut dapat saja di rekayasa, atau bahkan surat nikah telah dibuat jauh sebelum akad diselenggarakan. Ketika akad telah diselenggarakan, penghulu langsung memberikan surat nikah yang sebelumnya telah dibuat berdasarkan laporan pihak yang memiliki hajat. sehingga meskipun dalam akadnya salah menyebutkan nama, namun dalam surat nikah tetap benar. Maka dimata hukum kenegaraan tetap sah. Namun, tidak demikian dalam hukum Islam.

      Agar sah menurut Islam dan untuk menghindari dosa Zina, hendaknya kedua mempelai melakukan akad nikah lagi. Tidak perlu akad nikah yang muluk-muluk dengan pesta yang meriah. Tapi cukup hanya dengan MENIKAH SECARA ISLAM SAJA. Anda bisa mencari seorang ulama: Kyai atau ustadz yang biasa menjadi penghulu nikah. Menikah secara Islam ini cukup dihadiri oleh penghulu, dua orang saksi, dan kedua mempelai (jangan lupa maharnya dibawa ya). Dengan demikian insya Allah pernikahan telah sah menurut hukum Islam dan tentunya akad nikah secara islam ini tidak akan menghabiskan dana yang terlalu besar… insya Allah cukup hanya dengan memberikan uang lelah saja sama pak penghulu dan kalau ada sedikit makan-makan untuk para saksi dan anggota kedua keluarga mempelai.

      Mungkin itu saja tanggapan dari saya, semoga bermanfaat.

      Wallahua’lam bishshawab

      Wassalamu’alaikum wr wb

  5. zakiyah Says:

    bagaimana hukumnya pengantin laki-laki mencium pengantin perempuan di depan penghulu setelah ijab qobul selesai?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: