Bahasa Untuk Anak-Anak

Jika diibaratkan, anak-anak itu seperti sebuah mesin perekam yang masih baru, baru keluar dari pabrik, belum pernah dipakai, belum pernah masuk bengkel perbaikan, dan masih mantap fungsinya. Intinya, mesin tersebut dapat melakukan aktivitas perekaman dengan sangat baik. Seperti itulah anak-anak.

Itulah sekilas gambaran mengenai anak-anak. Mereka ibarat mesin perekam yang masih dapat berfungsi dengan sempurna. Segala apa yang mereka lihat dan mereka dengar akan dapat terekam dengan sangat baik dan mudah. Dan kemampuan ini dapat dikatakan sebagai salah satu kelebihan yang dimiliki oleh anak-anak. Namun, di sisi lain hal ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu kekurangan atau kelemahan yang terdapat pada anak-anak.

Kemampuan tersebut dapat dikatakan sebagai kelebihan dari anak-anak manakala mereka merekam dan atau melihat sesuatu yang positif atau kebaikan, kemudian membekas di dalam memori mereka dan akhirnya mempengaruhi sikap fisik, mental, dan intelektual mereka. Kemudian kelebihan tersebut juga dapat dikategorikan sebagai salah satu kekurangan atau kelemahan yang terdapat pada anak-anak manakala mereka merekam hal-hal negatif  melalui pendengaran atau penglihatan mereka, yang kemudian membekas dalam memori dan mempengaruhi sikap fisik, mental, dan intelektual mereka.

Kemampuan merekam sebagai sebuah kekurangan atau kelemahan pada anak-anak inilah yang hendaknya senantiasa menjadi perhatian bagi setiap orang tua. Kenapa orang tua? Karena merekalah yang memiliki frekuensi tertinggi untuk bertemu dengan anak-anak. Dengan demikian, aktivitas merekalah yang memiliki potensi lebih besar dan sangat besar untuk direkam dan kemudian ditiru. Mereka pulalah yang lebih berpotensi untuk melindungi anak-anak mereka dari hal-hal negative yang akan terekam dalam kehidupan mereka dan mempengaruhi sikap fisik, mental,dan intelektual mereka.

Sebagai pihak yang paling dekat dengan anak-anak, dan sebagai pihak yang berpotensi paling besar dan sangat besar untuk menjadi obyek perekaman, maka orang tua hendaknya mulai memberikan contoh dan menjadi contoh yang terbaik bagi anak-anak. Dan inilah yang saat ini jarang sekali dilakukan oleh sebagian besar orang tua. Kebanyakan orang tua melakukan pendidikan dan komunikasi dengan cara yang sebenarnya salah.

Banyak sekali orang tua yang mengeluarkan kata-kata kasar, kotor, atau keras dalam berkomunikasi maupun mendidik anak-anak mereka. Mimik muka yang garang, mata terbelalak, dan dengan aura yang menakutkan, itulah gambaran kebanyakan orang tua masa kini dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka. Mereka lebih mengutamakan bahasa penekanan ketimbang bahasa kasih sayang. Mereka menekan anak-anak mereka dengan bahasa yang keras, kotor, kasar, mengancam, dan dengan mimik muka yang menakutkan. Bahasa itulah yang saat ini banyak berkembang dikalangan orang tua.

Mereka berpikir bahwa cara tersebut telah benar dan baik, karena dengan cara itu mereka telah berhasil membuat anak-anak mereka menjadi anak-anak yang penurut. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Anak-anak mereka menurut bukan karena penurut, melainkan karena rasa takut. Takut dicubit, takut dijewer telinganya, takut dipukul, dan lain-lain.

Bahasa-bahasa mendidik semacam inilah yang sebenarnya sangat salah. Karena ia tidak bersifat mendidik, melainkan menakut-nakuti atau melakukan penekanan. Bahasa-bahasa semacam inilah yang akan berpengaruh buruk pada sikap fisik, mental, maupun intelektual anak-anak.

Penggunaan bahasa-bahasa yang kasar, keras, atau kotor, baik secara lisan maupun secara fisik akan menimbulkan berbagai efek negatif pada anak-anak. Dan efek-efek tersebut dapat timbul secara seketika, secepatnya, ataupun lambat laun.

Contoh efek negatif dari kesalahan bahasa pendidikan maupun bahasa komunikasi yang digunakan oleh orang tua kepada anak-anak mereka diantaranya adalah mereka (anak-anak itu) akan merekam bahasa tersebut, kemudian akan mempengaruhi kehidupan mereka. Mereka akan merasa tertekan sehingga menghilangkan rasa percaya diri mereka. Atau mereka justru akan meniru bahasa pendidikan yang ia dapatkan tersebut untuk dipraktekkan kepada anak-anak mereka kelak, atau bersikap kasar dalam pergaulannya.

Dari sini kita ketahui bahwa sesungguhnya bahasa-bahasa yang kotor, keras, kasar, bahasa yang mengancam dan sejenisnya, semua itu adalah bumerang bagi orang tua dan anak-anak mereka.

“Bahasa kasih sayang”, itulah bahasa terbaik yang hendaknya diterapkan dalam melakukan proses pendidikan atau komunikasi pada anak. Gunakan bahasa-bahasa yang menyentuh, bahasa-bahasa yang akan membuat mereka merasa dihargai.

Salah satu contoh bahasa kasih sayang yang dapat kita realisasikan adalah sebagai berikut:

Ketika anak-anak bermain kotoran, jangan katakan “iiih… nakal banget sih kamu ini!”, tapi lebih baik katakan “eeeh… adik kan anak pinter yah… kalau anak pinter nggak boleh main kotoran. Ayo sayang jangan mainan itu…”. Bahasa yang memuji tentunya akan lebih menyentuh perasaan anak-anak ketimbang bahasa yang memaki, yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak yang nakal. Boleh jadi, ucapan sebagai anak nakal itu akan membekas dalam memorinya dan akhirnya mempengaruhi sikap fisik, mental, dan intelektual si anak.

Atau ketika anak-anak sedang malas belajar, jangan mengatakan, “Ayo… !!! Mau belajar atau mau dijewer kupingnya!”, tapi lebih baik katakan “Ayo belajar… nanti ibu kasih hadiah buku cerita yang bagus deh…”. Menstimuli anak-anak dengan hadiah merupakan salah satu cara mendidik yang cukup baik, dengan syarat bahwa hadiah tersebut pun harus mengandung unsur pendidikan. Pemilihan hadiah buku cerita merupakan salah satu contoh hadiah yang memiliki unsur mendidik bagi anak-anak. Karena, tujuan memberikan hadiah buku cerita pada anak-anak adalah untuk meningkatkan kemampuan dan minat baca si anak tersebut.

Intinya adalah orang tua hendaknya senantiasa membiasakan penggunaan bahasa-bahasa kasih sayang di dalam kehidupan keluarganya. Karena, orang tualah orang pertama yang senantiasa mereka jadikan pedoman dalam bersikap, baik secara fisik, mental, maupun intelektual.

Demikian, semoga bermanfaat.

www.sekeluarga.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: