Kenabian Muhammad saw

Inilah sosok manusia yang paling sukses sepanjang masa, Muhammad saw. Manusia yang berakhlakkan Al Quran. Manusia luar biasa yang kemudian diangkat menjadi Rasul oleh Allah swt ini memang telah membawa kejadian-kejadian yang istimewa sejak pertama kali dilahirkannya. Banyak sekali kejadian luar biasa yang mengiringi kelahiran kekasih Allah ini. Padamnya api di kerajaan Persia, Hancurnya berhala-berhala yang terbuat dari batu di sana, dan gagalnya serangan pasukan gajah yang akan menghancurkan Ka’bah adalah beberapa kejadian luar biasa yang turut mewarnai kelahiran Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw lahir pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 571 Masehi, atau yang lebih akrab dengan sebutan tahun gajah. Sebutan tahun gajah ini diambil berdasarkan peristiwa luar biasa yang terjadi pada tahun tersebut. Yaitu peristiwa penyerangan pasukan gajah yang akan menghancurkan Ka’bah. Namun,  tentara bergajah ini kemudian dihancurkan oleh burung-burung yang dikirimkan oleh Allah swt untuk melindungi Ka’bah. Ka’bah inilah yang kemudian dijadikan kiblat suci umat muslim di seluruh penjuru dunia.

Nabi Muhammad lahir ditengah-tengah luar biasanya kebobrokan moral masyarakat Arab. Penyembahan berhala, perampokan, pemerkosaan, minuman keras, perjudian, pembunuhan bayi-bayi perempuan, semua merajalela dengan bebas dan sudah menjadi pemandangan yang lumrah. Nabi Muhammad saw inilah yang kemudian ditunjuk oleh Allah untuk memperbaiki moral dan aqidah masyarakat Arab dan seluruh umat manusia. Tanda-tanda kenabian Muhammad saw sebenarnya sudah tampak sejak beliau dilahirkan. Sejak kecil, Nabi Muhammad sawtelah memperlihatkan keistimewaan yang sangat luar biasa.

Pada usianya yang baru mencapai 5 bulan, Nabi Muhammad saw sudah memiliki kemampuan untuk berjalan. Kemudian, pada usianya yang ke 9 bulan, beliau sudah dapat berbicara. Menginjak usianya yang ke 2 tahun, Nabi Muhammad sudah dapat dilepas untuk menggembala kambing bersama anak-anak Halimah (Ibu susuan Nabi Muhammad saw) yang lain. Dan pada usia itu pulalah beliau harus dipulangkan kembali kepada ibu kandungnya (Aminah), karena pada usia tersebut Nabi Muhammad sudah berhenti menyusu. Meskipun dengan berat hati, Halimah pun akhirnya mengembalikan Nabi Muhammad saw ke tangan Aminah, ibu  kandungnya.

Kepulangan Nabi Muhammad saw dengan keadaan sangat sehat tentunya membuat hati Aminah sangat senang dan bersyukur. Namun, ternyata tidak lama setelah itu Nabi Muhammad saw harus kembali diasuh oleh Halimah karena adanya penyakit yang mewabah di kota Mekah. Dalam masa asuhannya yang ke dua kali inilah, baik Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Nabi Muhammad saw. Anak-anak Halimah sering mendengar suara yang memberi salam kepada Muhammad saw, “Assalamu ‘Alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.

Salah satu peristiwa yang paling mengejutkan adalah ketika Nabi Muhammad dibelah dadanya oleh Malaikat. Suatu ketika, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan bahwa ada dua orang bertubuh besar-besar dan berpakaian putih menangkap Nabi Muhammad saw. Mendengar penuturan anaknya, spontan Halimah pun terperanjak. Halimah kemudian bergegas menyusul Nabi Muhammad saw. Ketika Halimah bertanya, Nabi Muhammad saw menjawab, “Ada dua malaikat yang turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, dan membasuhnya dengan air yang mereka bawa, lalu mereka menutup kembali dadaku tanpa aku merasa sakit.”

Keajaiban-keajaiban yang muncul dari Nabi Muhammad yang saat itu masih kecil membuat Halimah sangat senang. Namun, karena masalah ekonomi yang menerpa kehidupan keluarganya, Halimah pun terpaksa mengembalikan Nabi Muhammad saw kepada ibu kandungnya lagi. Halimah mengembalikan Nabi Muhammad saw kepada ibunya di Mekah pada usianya yang ke 4 tahun.

Ibu kandung Nabi Muhammad saw, Aminah, meninggal dunia ketika Nabi masih berusia 6 tahun. Aminah meninggal karena sakit sepulangnya ia mengajak Nabi Muhammad berziarah ke makam ayahnya. Kakeknya yang bernama Abdul Mutholib-lah yang setelah itu mengasuh Nabi Muhammad saw. Dan setelah Abdul Mutholib meninggal, maka Abi Tholib-lah yang kemudian bertanggung jawab untuk mengasuh dan merawat Nabi Muhammad saw. Abi Tholib adalah paman Nabi Muhammad saw.

Pada usianya yang ke 12 tahun, Nabi Muhammad saw mendapat izin untuk mengikuti perjalanan ke negeri Syam (Suriah). Dalam perjalanan itu, Abi Tholib bertindak sebagai pemimpin kafilah. Jika dilihat dari segi usia, Nabi Muhammad saw memang tergolong masih terlalu muda untuk mengikuti perjalanan semacam itu. Namun Allah telah berkehendak lain, justru dalam perjalanan itulah Nabi Muhammad saw kembali menampakkan tanda-tanda kenabiannya.

Dalam perjalanan itu, cuaca begitu tidak bersahaja, terik luar biasa. Namun hal tersebut sama sekali tidak dirasakan oleh Nabi Muhammad saw. Segumpal awan terus menaungi tubuh Nabi Muhammad saw sehingga panas terik yang membakar kulit tidak dirasakan olehnya. Awan itu seolah mengikuti gerak kafilah rombongan Muhammad SAW. Bila mereka berhenti, awan itu pun ikut berhenti. Kemanapun Nabi dan kafilah bergerak, kesanalah gumpalan itu ikut bergerak.

Kejadian ini menarik perhatian seorang pendeta Kristen yang bernama Buhairah yang memperhatikan dari atas biaranya di Busra. Buhairah adalah seorang pendeta Kristen yang menguasai betul isi kitab Taurat dan Injil. Hatinya bergetar melihat di dalam kafilah itu terdapat seorang anak yang terang benderang sedang mengendarai unta. Anak itulah yang terlindung dari sorotan sinar matahari oleh segumpal awan di atas kepalanya. “Inilah Roh Kebenaran yang dijanjikan itu,” itulah yang berbisik kuat di hati dan pikiran Buhairah.

Tanpa menunggu lama, pendeta itu pun berjalan menyongsong iring-iringan kafilah itu dan mengundang rombongan Nabi Muhammad saw untuk sebuah jamuan makan. Perbincangannya dengan Abi Tholib dan Nabi Muhammad saw itu sendiri, semakin menguatkan keyakinan Buhairah bahwa anak itu (Muhammad saw) adalah utusan Allah swt seperti yang ia pahami dalam kitabnya. Keyakinan ini dipertegas lagi oleh kenyataan bahwa di belakang bahu Muhammad saw terdapat sebuah tanda kenabian.

Setelah jamuakan  itu usai, Abu Tholib yang membawa Nabi Muhammad saw dan rombongan pun segera melanjutkan perjalanan mereka. Dan pada saat akan berpisah itulah, pendeta Buhairah berpesan pada Abi Thalib, “Saya berharap Tuan berhati-hati menjaganya. Saya yakin dialah nabi akhir zaman yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia. Usahakan agar hal ini jangan diketahui oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membunuh nabi-nabi sebelumnya. Saya tidak mengada-ada, apa yang saya terangkan itu berdasarkan apa yang saya ketahui dari kitab Taurat dan Injil. Semoga tuan-tuan selamat dalam perjalanan.”

Pesan yang disampaikan oleh pendeta Buhairah itu membuat Abi Thalib khawatir akan kesalamatan Nabi Muhammad. Untuk itu, ia pun segera mempercepat urusannya di Suriah dan segera pulang ke Mekah. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa pada Nabi Muhammad saw.

Semoga sekelumit artikel tentang tanda-tanda kenabian Muhammad saw ini dapat semakin memperkuat keimanan kita kepada beliau dan Allah swt. Amin.

www.syahadat.com

Satu Tanggapan to “Kenabian Muhammad saw”

  1. Noor Says:

    Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa alihi washohbihi wasallim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: