Jilbab

Gaul? kenapa nggak!, Jilbab? Wajib tuh!

Bila diibaratkan, wanita yang berjilbab dengan wanita yang tidak berjilbab itu seperti dua buah roti yang bermerek sama namun dengan cover atau bungkus yang berbeda. Duah buah roti sama-sama bermerek “X” misalnya. Roti “X” yang pertama dibiarkan terbuka, dijual dipinggiran jalan, yang setiap orang dapat dengan mudah melihatnya secara langsung, bahkan meraba atau mencicipinya pun mudah. Untuk roti “X” yang pertama ini, lalatpun pasti mudah untuk hinggap. Roti “X” yang kedua dibungkus dan dikemas dengan plastik bersih, rapat, indah, dan rapi. Kemudian tempat penjualannyapun ditempatkan di dalam lemari kaca, yang nggak setiap orang dapat menyentuhnya. Diantara kedua roti tersebut, kalau kita disuruh memilih, tentunya pilih roti “X” yang kedua, karena tertutup dengan rapat dan bersih, tentunya kita pun yakin bahwa roti ini belum pernah dicicipi orang lain sebelumnya. Sedangkan roti “X” yang pertama, meragukan, lalat saja mudah hinggap.

Itulah sebenarnya salah satu peranan jilbab bagi para wanita muslimah, agar lebih terjaga. Sedangkan tujuan utamanya tentunya tetap saja sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah swt.

Kurang lebih, seperti kedua roti yang bermerek sama itulah islam memandang dan memperlakukan wanita, antara yang berjilbab dan yang tidak menggunakan jilbab. Meskipun pada dasarnya mereka sama, sesama wanita atau bahkan sesama muslimah. Namun, wanita yang berjilbab adalah wanita yang memiliki kedudukan lebih terhormat dari wanita yang tidak berjilbab. Karena, wanita berjilbab senantiasa menyembunyikan auratnya dari mereka yang tidak berhak untuk melihat atau bahkan menyentuhnya.

Jilbab, pada saat ini keadaannya memang seolah dijadikan sebagai sebuah permasalahan yang biasa-biasa saja. Bahkan, sampai saat ini masih ada saja orang tua yang melarang anaknya untuk mengenakan jilbab, padahal mereka sendiri mengaku sebagai keluarga muslim, lalu kenapa aturan islam secara tegas mereka langgar bahkan mereka haramkan. Allah swt dan Rasulullah saw padahal telah secara tegas menyampaikan masalah kewajiban menggunakan jilbab ini kepada umat manusia, khususnya umat muslim. Tapi tetap saja, samapi saat ini masih banyak wanita-wanita muslim yang membangkang dari perintah menggunakan jilbab ini.
Di sisi lain, ada pula yang katanya mengenakan jilbab, namun yang mereka maksud dengan jilbab adalah sebatas pembungkus kepala saja, tidak lebih. Pembungkus kepala yang ukurannya sempit, dengan pakaian yang juga super sempit. Padahal Allah telah memerintahkan untuk menjulurkan jilbabnya ke dadanya. Tapi nyatanya apa? Para jilbaber seksi menggunakan pakaian yang juga seksi, bukan menjulurkan jilbab ke dadanya, tapi justru menonjolkan bentuk dadanya. Apa sih sebenarnya yang menghalangi mereka untuk mengenakan jilbab yang sesuai dengan syariat islam? Apakah mereka takut kalau lelaki tidak dapat melihat bentuk tubuh mereka? Atau mereka takut kehilangan kesempatan untuk mengatakan “Ini loh dada gw?” (Maaf). Kalau tidak demikian, lalu adakah alasan lain yang tepat untuk membenarkan pelanggaran mereka atas perintah berjilbab ini?

Ada sebagian orang yang melontarkan jawabannya, “Alah! Yang berjilbab aja banyak yang nyolong, banyak yang nyopet, banyak yang nipu, banyak yang jadi rentenir…Yang penting mah hatinya!”. Apakah perintah berjilbab itu datangnya dari mereka, sehingga kita berkiblat pada mereka? Dan kalau memang demikian pendapat mereka, lalu apakah sedikit perempuan yang tidak berjilbab yang jadi PSK, germo, rentenir, copet, dan lain-lain? Mereka lebih banyak. Kenapa kita selalu mencari-cari keburukan wanita yang berjilbab namun imamnnya belum mantap? Kenapa kita menjadikan wanita-wanita yang menjadikan jilbab hanya untuk tameng kejahatan mereka sebagai pedoman hidup kita? Justru, dengan adanya pihak-pihak yang berusaha untuk menjatuhkan citra jilbab itulah, maka kita harus bangkit dan mengharumkan nama jilabab, bukan malah ikut menginjak-injaknya. Kalau kita mengatakan “Yang penting mah hatinya!”, lalu apakah bisa dikatakan seorang pemabuk, pembunuh, pemerkosa itu baik? Yang penting kan hatinya, bukan perbuatannya! Kalau sudah demikian pendapatnya ya rusaklah semuanya, bisa-bisa, pembunuh juga akan dibilang baik, karena yang penting kan hatinya. Satu hal Ynag penting adalah bahwa sikap, perbuatan, perilaku, adalah cerminan dari hati seseorang.

Ada pula alasan yang mengatakan bahwa menggunakan jilbab itu ribet, repot, tidak bisa bergerak dengan leluasa. Emang jilbab menghalangi apanya? Anda toh tidak disuruh berperang seperti perempuan-perempuan berjilbab pada masa dahulu yang juga turun ke medan perang! Anda hanya memasak,mengurus anak, atau kuliah, atau bekerja, lalau dimana letak merepotkannya? Coba kita buka mata kita lebar-lebar, di luar sana banyak sekali wanita-wanita muslimah berjilbab besar dan syari yang menjadi ibu rumah tangga, bekerja, sekaligus kuliah. Banyak jilbaber besar yang aktif diorganisai-organisasi yang membutuhkan banyak sekali energy dan gerak fisik. Mereka bisa dan tidak merasa direpotkan, justru mereka sangat menjaganya.
Kalau kita merasa bahwa dengan berjilbab akan membuat kita sulit untuk mendapatkan pekerjaan, maka ingatlah bahwa Allah Maha Kaya. Allah Yang Mengatur rizki. Allah akan memberikan yang terbaik untuk hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa.

Saudariku, marilah kita singkirkan segala bentuk kemalasan dan hentikan segala bentuk pencarian alasan untuk membenarkan penolakan anda terhadap jilbab. Ingatlah, bahwa sesungguhnya hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya. Maka, marilah kaum muslimah untuk kembali ke jalan Allah dengan mulai menggunkan jilbab yang syari, yang sesuai dengan kaidah-kaidah islam sebagaimana tertera dalam beberapa keterangan berikut ini:

Quran

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan pehiasaannya kecuali yang biasa nampak dari pandangan. Dan hendaklah mereka menutupkan kainkerudung ke dadanya, dan jangan- lah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau keapda ayah mereka, atau putra-putra mereka, atau saudara- saudara mereka, atau putra-putra suami mereka, atau wanita- wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan- pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap kaum wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat kaum wanita. dan janganlah mereka memukul kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs. An Nur : 31)

Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istri engkau, anak-anak engkau yang perempuan dan perempuan-perempuan orang-orang yang beriman, supaya mereka menutup tubuhnya dengan baju dalamnya (ketika mereka berjalan ke luar). (Dengan) demikian itu mereka lebih patut dikenal dan (karena itu) mereka tidak diganggu. Dan Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. QS. Al – Ahzab (33): 59

Hadits

Dari Khalid bin Duraik, dari Aisyah ra Asma’ binti Abu Bakar ra, pernah berkunjung kepada Rasulullah saw memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah saw berpaling dari padanya seraya bersabda: “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita apabila telah baligh, tidak benar terlihat dari padanya kecuali ini… dan ini…”. Beliau memberi isyarat kepada wajah dan kedua tangannya.

Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiah ra, bahwa Rasulullah saw berkata : “Rasulullah SAW memerintahkan kami agar keluar (menuju lapangan) pada saat hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha, baik ia budak wanita, wanita yang haidh, maupun yang perawan?آ  Adapun bagi orang-orang yang haidh maka diperintahkan menjauh dari tempat shalat, namun tetap boleh menyaksikan kebaikan dan seruan kaum muslimin?آ  Lalu aku berkata: Wahai Rasulullah SAW salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?آ  Maka Rasulullah saw menjawab: ‘Hendaklah saudaranya itu meminjamkan jilbabnya.”

“Pada akhir ummatku nanti akan muncul kaum laki-laki yang menaiki pelana seperti layaknya kaum laki-laki, mereka turun kemasjid-masjid, wanita-wanita mereka berpakaian tetapi laksana telanjang, diatas kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk unta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka, karena sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita yang terlaknat” (HR. Ahmad)

“Semoga Allah merahmati wanita Muhajirin yang pertama yang tatkala Allah swt menurunkan ayat:”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka..”mereka lantas merobek kain tak berjahit (muruth) yang mereka kenakan itu, lalu mereka berkerudung dengannya (dalam riwayat lain disebutkan: Lalu merekapun merobek sarung-sarung mereka dari pinggir kemudian mereka berkerudung (berjilbab) dengannya” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

“Hendaklah mereka itu mengeluarkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (Qs. Al Ahzab : 59)
“Nabi saw melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian laki-laki”. (HR. Abu Dawud dan An Nasai).
“Siapa yang meniru suatu kaum, maka ia berarti dari golongan mereka”. (HR. Ahmad)

www.syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: