Malam Terakhir (Sebuah Kisah Nyata)

Malam itu, gerimis menitik di jalan tempat aku berdiri, sebatang payung kecil masih terselempang di bahuku, suasana malam sangat mencekam, gelap dan pengap. Aku menyusuri jalan, harapku bisa bertemu dengan orang yang telah membuat malam itu seperti di neraka. Di ujung jalan kulihat ada beberapa orang tinggi besar dengan berpakaian hitam, aku  mengira itulah orang yang dikatakan bapaku di saat aku bergidik  mendengarkan suara petir yang telah membuat cahaya listrik menjadi padam. Namun suara bapakku sepertinya lebih tajam dari suara petir….

“Tuh disana ada yang diancam mau di bunuh….!!!!
Serentak aku kaget dan bertanya…
“Siapa ?????”
“ Liat aja di jalan sana!!!” Jawab bapakku.
Tanpa banyak bertanya aku langsung membuka payungku dan menyusuri jalan.

Suasana malam begitu mencekam, jalan yang basah gelap tanpa cahaya, sesekali petir menggelegar, dan isu pembunuhan serta ditambah dengan hadirnya orang yang bermuka pucat berdiri memohon perlindungan membuat suasana tegang makin sempurna. Aduh malam itu sangat menakutkan.

Siapa tim sukses penolakan gereja ? Saat ini nyawa saya sedang terancam, saya mohon perlindungan” Tanya orang yang merasa di terror akan dibunuh
ya sudah pak, tenang saja pasti ga terjadi apa apa” Jawab salah seorang yang berpakaian hitam dengan tubuh tinggi besar dan kebetulan dia adalah salah seorang pengurus RT.
tapi saya tidak bisa tenang kalau terus di terror seperti ini” Bantah orang yang menjadi korban pengancaman
tenang pak, semua pasti ada penyelesaiannya” Tegas orang berambut panjang, berjaket hitam dengan tubuh tinggi besar, dia adalah pamanku.

Suasana itu membuat aku teringat dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 120 :

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu

Dan memang itulah yang terjadi. Orang-orang nasrani telah menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan dukungan dalam pembangunan gereja, yang salah satunya adalah dengan membeli Foto Copy KTP dan Tanda Tangan warga setempat dengan harga rupiah yang tidak sedikit, Rp.200.000,- sampai 500.000,- itulah harga yang ditawarkan. Siapa yang ga mau? Cuma nyerahin Foto Copy KTP dan Tanda Tangan saja dapat duit sebanyak itu. Memang benar apa yang telah disampaikan oleh Rasul Mulia kita dalam sebuah hadits yang berbunyi:

Sesungguhnya kemiskinan itu mendekatkan seseorang kepada kekufuran

Dan kekufuran itu mendekatkan kepada kekafiran. Hal Itulah yang menjadi pemicu dari permasalahan yang terjadi, kemiskinan dan rendahnya pengetahuan akan islam membuat mereka menjadi lupa diri dan saling melukai.

Akhirnya, semua di buat susah, beberapa orang harus tidak tidur dan aku harus mengurangi jatah tidur dengan sedikit begadang menunggu rumah korban. Sepertinya pada malam itu adrenalin ku meningkat dan menarik semua sarafku. Aku berharap dengan meminum air putih sebanyak-banyaknya aku bisa lebih tenang. Hal itu berlangsung sampai datang waktu subuh.

Keesokan harinya, saat matahari menunjukkan taringnya dan adzan dzuhur datang menyapa dengan kelembutan suaranya, aku menelpon salah seorang rekan untuk menyikapi kejadiaan ini, jangan sampai kejadian ini menjamur dan menghancurkan persatuan antar umat islam. Dan pada malam itu, dia memutuskan untuk membahas masalah tersebut dengan mengumpulkan para pemuda. Dengan penuh semangat, akhirnya kami bisa berkumpul, bersatu dan sepakat untuk Menolak Rencana Pembangunan Gereja di lingkungan kami.

Setelah malam itu aku sudah siap dengan segala kondisi yang akan terjadi pada diri ku, lebih-lebih ketika aku mengingat kata-kata yang terdapat pada Novel Karya Habiburahman El Sirazy yang berjudul Ayat-Ayat Cinta, disana ada kalimat bagus yang layak di ingat, yang diucapkan oleh ibu dari  seorang anak yang bernama Aisya.

Telah Aku Shadaqahkan diriku untuk agamaku

Buatku itu adalah kalimat terindah disaat kondisi seperti ini.

Setelah pertemuan itu aku menemui salah seorang tokoh masyarakat, namun belum sempat berbicara banyak terdengar …

Kriiiiiiing……” HP ku berbunyi
Halooo ………..
Tolong… tolong dia datang lagi …tolong cepat datang kemari” terdengar suara dengan nada bergetar ketakutan.

Ternyata korban mendapat masalah dan aku diminta untuk datang sebagai penengah, jantungku berdetak kencang, aku takut terjadi apa-apa disana, sampai-sampai  belum lama bicara dengan tokoh masyarakat akhirnya aku harus meminta izin menemui korban.

Ya Allah lindungilan orang-orang yang memperjuangkan agamamu

…doaku sepanjang perjalanan. Ku sela motor dan kuarahkan perjalanan menuju rumah korban, ternyata setelah sampai disana sudah ada beberapa orang yang sedang menjaga, dan aku diminta untuk mengantarkan korban menuju rumah Ketua Lingkungan, disana sudah ada beberapa orang dan salah satunya adalah pelaku pengancaman.

Dalam pertemuan itu ternyata……Subhanallah … pelaku meminta maaf atas kehilafannya. Dan korban memaafkan perlakuan itu. Jika tidak salah  mengingat, seorang plato pernah berbicara

Cinta adalah pusat kebijaksanaan

dan memang ketika cinta yang bicara puncak pertikaianpun hancur, yang hadir adalah benih untuk saling mengasihi dan menyayangi. Aduh indahnya hidup jika setiap hati dipenuhi dengan cinta, cinta yang penuh dengan keimanan. Namun akupun harus tetap waspada karena…

Perbuatan-perbuatan salah itu biasa bagi manusia
Tetapi perbuata pura-pura itulah sebenarnya
Yang menimbulkan permusuhan dan penghianatan

Bukan aku tidak percaya dengan realita yang ada didepan mataku, namun sedikit waspada akan menyelamatkan diri kita.

Setelah proses sakral itu aku langsung pulang, sakral karena berhubungan dengan jiwa dan hati nurani, proses memaafkan adalah proses jiwa, jiwa yang terbebas dari prasangka dan perasaan benci serta iri hati dan buatku itu lebih indah dari segunung permata sekalipun.

Aduh kasihan badan ini, jika dia bisa menangis mungkin dia menangis, tapi apalah arti sebuah air mata  jika mengingat kalimat  “Telah Aku Shodaqohkan diriku untuk agamaku” kalimat yang begitu indah, kalimat yang begitu mulia, kalimat yang menjadi aspirin disaat kita pusing, dan menjadi obat kuat disaat kita lemah. Malam itu seolah indah walau dalam kelelahan, aku merasa kematian begitu dekat denganku dan bidadari siap membawa ruhku, aku merasa bahagia dalam pejaman mataku, pejaman mata yang tidak mukin dapat terbuka lagi. Aku berkhayal tentang indahnya kematian para syuhada  dan aku menganggap malam itu adalah malam terakhir untukku……

Saat ini suasana sedikit tenang karena kegiatan rencana yang berbau dengan pembangunan gereja ditunda sampai dengan Pilkada Selesai, namun yang menyedihkan menurut Peraturan Bersama Dua Menteri antara Mentri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 Tahun  2006 dan No. 8 Tahun 2006 Pasal 14 secara hukum persyaratan itu telah terpenuhi.

Sebuah Kisah Nyata
dari Seorang Penulis di Buletin FKRM (Forum Komunikasi Remaja Masjid) Paku Jaya, Tangerang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: