Allah swt Lebih Berhak

Sejak kecil, hampir setiap anak telah diajarkan dan ditanamkan kebiasaan untuk senantiasa menyayangi, menghormati, dan mematuhi orang tua. Kemudian, ketika seseorang baru diterima bekerja pada sebuah perusahaan dan tengah menjalani masa training pada perusahaan tersebut, yang pertama kali diperkenalkan kepadanya adalah mengenai peraturan dan tata cara bekerja di tempat itu. Pernahkah kita berpikir mengenai alasan dari semua itu? Kenapa sejak kecil kita harus menyayangi, menghormati, dan mematuhi orang tua? Kenapa karyawan baru harus terlebih dahulu diperkenalkan terhadap peraturan dan tata cara bekerja di perusahaan yang baru saja menerimanya?

Seandainya kita lemparkan pertanyaan tersebut kepada sejumlah orang secara rahasia, maka kemungkinan besar jawabannya tidak akan jauh berbeda antara orang yang satu dengan lainnya.

“Kenapa kita harus menyayangi, menghormati, dan mematuhi orang tua?”, Mungkin penjawab pertama akan berkata, “Karena, merekalah yang telah merawat dan membesarkan kita”. Sedangkan penjawab kedua kemungkinan besar akan menjawab, “Karena, ibulah yang telah mengandung dan melahirkan kita, dan ayahlah yang telah menafkahi kita”. Kemudian, penjawab ketiga mungkin akan berkata, “Karena, merekalah yang telah menjaga dan mendidik kita dari kecil hingga dewasa”. Dan seterusnya, penjawab-penjawab yang selanjutnya pun mungkin akan memberikan jawaban yang tidak terlalu jauh berbeda, bahkan mungkin sama.

Kemudian, “Kenapa kita harus terlebih dahulu diperkenalkan kepada peraturan dan tata cara bekerja pada sebuah perusahaan yang baru kita masuki?” . Memperkenalkan karyawan baru terhadap peraturan dan tata cara bekerja pada sebuah perusahaan menjadi menu utama ketika kita baru bergabung pada sebuah perusahaan. Hal ini tentu saja bertujuan agar karyawan baru tersebut dapat mengerti dan memahami perintah dan larangan yang terdapat di perusahaan tersebut, kemudian tertanam kuat dalam keseharian pekerjaannya. Dengan demikian, para karyawan diharapkan kelak dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan peraturan dan tata cara yang telah diperkenalkan sebelumnya. Setiap karyawan wajib untuk mematuhi peraturan perusahaan tersebut.

Kini, timbullah satu pertanyaan kembali, “Kenapa kita (karyawan) harus (wajib) mematuhi peraturan perusahaan?”. Secara logika, tentu saja karena kita bekerja di perusahaan tersebut, karena kita mencari rezeki diperusahaan tersebut, karena kita mendapatkan gaji untuk menghidupi keluarga dan memberikan pendidikan bagi anak-anak kita di perusahaan tersebut, dan sebagainya. Intinya, semua jawaban insya Allah tidak akan jauh berbeda.

Jika kita perhatikan jawaban-jawaban di atas secara seksama, dapat kita tarik satu kesimpulan dari jawaban-jawaban tersebut, yaitu karena jasa dan kebutuhan.

Jasa dan kebutuhan adalah salah satu alasan utama mengapa kita harus menyayangi, menghormati, dan mematuhi orang tua kita. Begitu besar jasa yang telah orang tua lakukan bagi kita. Kasih sayangnya, perjuangannya, air matanya, lelahnya, kantuknya, setiap tetes keringatnya, dan masih banyak lagi jasa-jasa besar orang tua yang tidak pernah dapat kita balas. Kurang lebih selama sembilan bulan sepuluh hari, kita telah tinggal di dalam kandungan ibu tercinta, membuatnya lelah, dan memberinya rasa sakit. Sakitnya sang ibu pada saat melahirkan kita. Air susu ibu telah menjadi darah dalam tubuh kita. Perasan keringat sang ayahlah yang telah digunakan untuk mengenyangkan kita dan menghilangkan dahaga kita. Rasa kantuk yang terabaikan manakala ibu terbangun ditengah malam ketika kita menangis karena mengompol, haus, dan sebagainya. Betapa banyak dan besarnya kebutuhan-kebutuhan kita yang telah dipenuhi oleh orang tua kita. Sungguh besar jasa orang tua bagi anak-anaknya, maka tidaklah salah jika kita harus menyayangi, menghormati, dan mematuhinya selama tidak melanggar syariat Allah swt.

Karena jasa dan kebutuhan jugalah sehingga kita harus mematuhi segala bentuk peraturan di perusahaan tempat kita bekerja. Perusahaan itulah yang telah memberikan kita pekerjaan. Kita butuh pekerjaan dari perusahaan itu untuk menafkahi diri dan keluarga (karena perusahaan lain belum tentu mau menerima kita). Kita butuh perusahaan tersebut untuk membiayai pendidikan anak-anak kita. Kita butuh gaji dari perusahaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan beribadah kita. Kita butuh gaji dari perusahaan tersebut untuk biaya berobat ke dokter. Kita butuh perusahaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, ibadah, dan lain-lain. Perusahaan tempat kita bekerja telah memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikan anak-anak kita, kesehatan dan kesejahteraan keluarga kita. Mereka yang telah memberikan pekerjaan, maka wajar saja jika mereka pula yang menetapkan peraturan. Kita yang membutuhkan pekerjaan di perusahaan itu, maka wajar saja jika kita harus mengikuti peraturan di perusahaan tersebut.

Dari ilustrasi di atas, kita ketahui bahwa ternyata selama ini kita telah mematuhi orang tua dan perusahaan karena memang kita membutuhkan jasa mereka, dan karena jasa mereka yang telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Sekarang, pernahkah kita merenung dan berpikir sejenak, kemudian bertanya, “Seberapa besarkah jasa Allah swt kepada manusia?”, “Seberapa besarkah tingkat kebutuhan manusia kepada Allah swt baik di dunia maupun di akhirat?”, kemudian “Mengapa banyak manusia yang tidak mau mematuhi perintah dan larangan Allah swt?”.

Saudaraku, pernahkah kita renungkan sejenak bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita ini tidak ada setitik pun yang lepas dari campur tangan Allah swt? Pernahkah kita berpikir bahwa segala bentuk nikmat yang telah kita rasakan, baik yang besar maupun yang kecil adalah karena jasa Allah swt?

Adanya orang tua yang telah mengandung, melahirkan, menjaga, merawat, mendidik dan membesarkan kita adalah karena Allah swt. Tanpa campur tangan Allah swt, niscaya tidak akan pernah ada orang tua yang akan mengandung dan melahirkan kita ke dunia ini. Setiap titik darah yang mengalir di setiap mili tubuh kita, detak jantung dan nafas kehidupan kita adalah nikmat yang diberikan Allah swt kepada kita. Isteri yang cantik dan sholehah, suami yang tampan dan sholeh, anak-anak yang sholeh dan sholehah, serta segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini adalah karena jasa Allah swt semata.

Tidak ada setitik nikmat dan kebaikan pun di dunia ini yang hadir tanpa campur tangan Allah swt. Tidak ada sesuatupun baik yang jelas tampak, yang samar, maupun yang tersembunyi, melainkan karena kehendak Allah swt semata.

Lihatlah  wahai saudaraku, betapa besar dan banyaknya jasa Allah swt bagi makhluk ciptaan-Nya, terutama bagi manusia yang mengemban tugas untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Tidak terhitung dan tidak ternilai jasa Allah swt bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya. Namun aneh dan ironisnya adalah, ternyata masih banyak manusia yangtidak mau patuh kepada perintah dan larangan Allah swt.  Begitu banyak manusia di dunia ini yang membelot dari taat kepada Allah swt.

“Saudaraku, jika kita dapat dan wajib mematuhi orang tua kita, atasan kita, guru kita, suami kita, lalu kenapa kita tidak dapat patuh kepada Allah swt yang tentunya memiliki jasa dan kuasa yang sangat jauh lebih besar dari mereka semua? Jika kita menganggap orang tua, perusahaan, atasan, dan guru kita patut kita patuhi, hormati, dan sayangi karena jasa mereka kepada kita, lalu kenapa Allah swt tidak kita patuhi? Bukankah Allah swt jauh lebih berjasa daripada mereka? Bukankah murka dan azab Allah swt sangat jauh lebih dahsyat dari murka mereka semua? Bukankah Allah swt jauh lebih berhak untuk dipatuhi ketimbang mereka?”

Saudaraku, yakinlah bahwa tidak ada sesuatu apapun yang lebih berhak untuk kita patuhi selain Allah swt. Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berhak untuk kita takuti selain Allah swt. Dan tidak ada sesuatu apapun yang lebih berhak untuk kita sayangi selain Allah swt.

Demikianlah artikel sederhana dan singkat ini semoga dapat membukakan hati kita untuk menjadi manusia yang senantiasa bertakwa kepada Allah swt.

“Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah : 24)

Wallahua’lam

www.syahadat.com

2 Tanggapan to “Allah swt Lebih Berhak”

  1. rahmiyati Says:

    Assalamu’alaikum.Wr.Wb
    terimakasih banyak atas artikelnya ya akhi …ini sangat membantu ana untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan ana…moga akhi tidak berhenti di sini saja dalam menyuarakan islam..tetap semangat ya akhi,,jazakumullah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: