Mandi Junub

Sholat dan puasa adalah dua buah contoh ibadah yang sangat utama di dalam agama Islam yang mensyaratkan pelakunya suci dari hadats besar. Tidak sah sholat ataupun puasa seorang muslim (baik yang wajib maupun yang sunnah) yang dilakukan dalam keadaan berhadats besar. Selain itu, seseorang yang sedang berada dalam keadaan junub atau berhadats besar juga tidak diperbolehkan memegang Al Quran. Berjunub memang salah satu keadaan yang akan menjauhkan seorang muslim dari beberapa kegiatan ibadah tertentu. Namun demikian, junub adalah salah satu fitrah yang dimiliki manusia sebagaimana halnya cinta dan nafsu. Untuk membersihkan diri dari hadats besar atau junub ini, maka Islam mengajarkan mandi junub.

Inilah salah satu bentuk ajaran Islam kepada umatnya mengenai tata cara bersuci, yaitu mandi junub. Mandi junub adalah mandi yang disyariatkan oleh agama Islam untuk membersihkan diri dari hadats besar dengan cara mengalirkan air ke seluruh bagian tubuh. Hukum mandi junub adalah wajib bagi seorang muslim yang sedang berjunub atau berhadats besar. Seorang muslim yang berjunub dan tidak melakukan mandi junub, maka sholat dan puasa yang ia jalankan tidak sah, baik yang wajib maupun yang sunnah.

Ada beberapa perkara yang menyebabkan seorang muslim wajib melakukan mandi junub. Berikut ini adalah beberapa perkara yang menyebabkan seorang muslim untuk melakukan mandi junub:

1. Keluar Mani

Salah satu penyebab seorang muslim wajib melakukan mandi junub adalah karena mengeluarkan mani dari kemaluannya, baik yang disebabkan oleh syahwat atau hal lain. Baik karena melakukan hubungan seks maupun karena mimpi. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Dari Abi Sa’id Al Khudri dari Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam, bahwa beliau bersabda : “Hanyalah air itu (yakni mandi) adalah karena air pula (yakni karena keluar air mani”. (HR. Muslim)

Dari hadits di atas kita ketahui bahwa mandi junub itu penyebabnya adalah karena keluarnya air mani.

2. Berhubungan Seks

Melakukan hubungan seks adalah salah satu perkara yang menyebabkan seorang muslim wajib melakukan mandi junub, baik sampai keluar mani atau tidak keluar mani. Ketika kemaluan laki-laki telah masuk ke dalam kemaluan perempuan, maka hal itu telah mewajibkan pelaksanaan mandi junub. Berikut ini adalah sabda Rasulullah saw yang menerangkan perkara tersebut:

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi sallallahu alaihi waalihi wasallam, bahwa beliau bersabda : “Apabila seorang pria telah duduk diantara empat bagian tubuh permpuan (yakni berhubungan seks) kemudian dia bersungguh-sungguh padanya (yakni memasukkan kemaluannya pada kemaluan perempuan itu), maka sungguh dia telah wajib mandi karenanya”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya)

3. Berhentinya Haid dan Nifas

Haid dan nifas adalah termasuk penyebab wajibnya melakukan mandi junub. Maka setiap muslimah yang telah selesai dari masa haid atau nifasnya, maka wajib baginya melakukan mandi junub sebagaimana dijelaskan di dalam Al Quran dan Hadits berikut:

“Wahai orang yang benman, janganlah kamu kerjakan sholat, padahal kamu sedang rnabuk sehingga kamu tahu apa yang kamu ucapkan. Dan janganlah kamu kerjakan sholat, padahal kamu sedang junub, kecuali sudah mandi.” (QS. An-Nisa : 43)

“Orang yang junub dan perempuan yang haid, tidak boleh membaca sesuatu dari Al Ouran.” (Riwayat At-Thabrani)

Dan Aisyah r.a bahwa Fatimah binti AN Hubaisy bertanya kepada Nabi SAW katanya: “Ya Rasulullah, aku ini perempuan yang istihadah (penyakit keluar darah terus) tak pemah bersih-bersih, apakah saya boleh meninggalkan sholat? Maka jawab Nabi SAW: “Tidak, karena sesungguhnya itu tidak lain dan darah penyakit, bukan darah haid, maka apabila telah datang darah haid, tinggalkan sholat, dan apabila telah pergi (sudah kering atau sudah cukup harinya haid) maka bersihkanlah darah itu dan kerjakan sholat.” (Riwayat Muslim)

4. Meninggal Dalam Keadaan Islam

Setiap laki-laki muslim maupun wanita muslimah yang meninggal, wajib mayatnya dimandikan (kecuali orang muslim yang mati syahid di jalan Allah swt/berperang membela agama Islam).

5. Melahirkan

Ketika seorang wanita melahirkan biasanya akan keluarlah darah bersamaan dengan keluarnya si jabang bayi, darah itulah yang disebut dengan darah wiladah. Dan setelah melahirkan ini, maka seorang wanita juga terkena hukum wajib mandi junub.
Itulah beberapa perkara yang menyebabkan seorang muslim terkena hukum waib mandi junub. Kemudian, berikut ini kami juga akan menguraikan mengenai tata cara dalam melakukan mandi junub.

Tata Cara Mandi Junub:

Islam adalah agama Robbani yang bersumber pada hukum Allah swt yang terdapat di dalam Al Quran dan Al Hadits yang merupakan sabda Rasulullah saw. Oleh karena itu, dalam melakukan mandi junub juga tidak dapat dilaksanakan dengan sembarangan. Mandi junub adalah salah satu aturan atau syariat yang terdapat di dalam agama Islam, maka dalam pelaksanaannya juga harus  dilakukan dengan berpedoman kepada Islam, yang dalam hal ini adalah melalui hadits Rasulullah saw. Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah saw yang membahas masalah tata cara mandi junub:

Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda : “Barangsiapa yang meningggalkan bagian tubuh yang harus dialiri air dalam mandi janabat walaupun satu rambut untuk tidak dibasuh dengan air mandi itu, maka akan diperlakukan kepadadanya demikian dan demikian dari api neraka”. (HR. Abu Dawud dalam Sunannya hadits ke 249 dan Ibnu Majah dalam Sunannya hadits ke 599. Dan Ibnu Hajar Al Asqalani menshahihkan hadits ini dalam Talkhishul Habir jilid 1 halaman 249.)

Hadits di atas telah menjelaskan dengan jelas kepada kita perihal bagaimana seharusnya kita mengalirkan air ke badan sewaktu mandi junub, yakni dialirkan ke seluruh tubuh dengan penuh hati-hati dan dilakukan berulang-ulang. Seluruh tubuh harus tersiram air secara merata.

Dari A’isyah radhiyallahu anha beliau menyatakan : “Kebiasaannya Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam apabila mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua telapak tangannya, kemudian beliau berwudhu’ seperti wudhu’ beliau untuk shalat, kemudian beliau memasukkan jari jemari beliau kedalam air, sehingga beliau menyilang-nyilang dengan jari jemari itu rambut beliau, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh tubuh beliau”. (HR. Al Bukhari dalam Shahihnya hadits nomer 248 (Fathul Bari) dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 316). Dalam riwayat Muslim ada tambahan lafadl berbunyi demikian : “Kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh tubuhnya, kemudian mencuci kedua telapak kakinya”.

Rasulullah saw selalu memasukkan air ke sela-sela rambut beliau dengan jemarinya. Ini juga merupakan salah satu cara agar air yang disiramkan tersebut dapat menyentuh seluruh kulit tubuh, termasuk kulit kepala yang tertutup atau terhalang oleh rambut.

Maimunah Ummul Mu’minin menceritakan : “Aku dekatkan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam air mandi beliau untuk janabat. Maka beliau mencuci kedua telapak tangan beliau dua kali atau tiga kali, kemudian beliau memasukkan kedua tangan beliau ke dalam bejana air itu, kemudian beliau mengambil air dari padanya dengan kedua telapak tangan itu untuk kemaluannya dan beliau mencucinya dengan telapak tangan kiri beliau, kemudian setelah itu beliau memukulkan telapak tangan beliau yang kiri itu ke lantai dan menggosoknya dengan lantai itu dengan sekeras-kerasnya. Kemudian setelah itu beliau berwudlu’ dengan cara wudlu’ yang dilakukan untuk shalat. Setelah itu beliau menuangkan air ke atas kepalanya tiga kali tuangan dengan sepenuh telapak tangannya. Kemudian beliau membasuh seluruh bagian tubuhnya. Kemudian beliau bergeser dari tempatnya sehingga beliau mencuci kedua telapak kakinya, kemudian aku bawakan kepada beliau kain handuk, namun beliau menolaknya”. (HR. Muslim dalam Shahihnya hadits ke 317 dari Ibnu Abbas)

Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa hal pertama yang dilakukan ketika mandi junub adalah membasuh kedua telapak tangan. Setelah itu dilanjutkan dengan membasuh kemaluan dengan menggunakan tangan kiri hingga bersih. Kemudian, telapak tangan kiri tersebut digosokkan ke lantai, lalu dilanjutkan dengan berwudhu. Pada hadits di atas juga dijelaskan bahwa tidak mengeringkan badan dengan kain handuk setelah mandi junub adalah salah satu sunnah Rasulullah saw.

“Dari Maimun (istri Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam), beliau memberitakan bahwa Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam ketika mandi janabat, beliau mencuci kemaluannya dengan tangannya, kemudian tangannya itu digosokkan ke tembok, kemudian setelah itu beliau mencuci tangannya itu, kemudian beliau berwudlu’ seperti cara wudlu’ beliau untuk shalat. Maka ketika beliau telah selesai dari mandinya, beliau membasuk kedua telapak kakinya”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya, hadits ke 260.)

Pada hadits di atas dijelaskan bahwa selain dengan menggosokkan telapak tangan kiri ke lantai, juga diperbolehkan menggosokkannya ke tembok. Setelah digosokkan ke tembok, maka telapak tangan dicuci, setelah itu barulah berwudhu.
Dari hadits-hadits di atas maka dapat ditarik kesimpulan mengenai tata cara melakukan mandi junub sebagai berikut:

  • Mandi junub harus diniatkan hanya karena Allah swt, sebagai salah satu bentuk ibadah dan ketaatan kepada-Nya.
  • Siraman air ketika mandi junub harus membasahi kulit diseluruh tubuh, termasuk yang tersembunyi atau terhalang rambut. Oleh karena itu, ketika mengalirkan air hendaknya jemari turut menyela rambut.
  • Mandi junub dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan, masing-masing tiga kali. Ketika membasuh kedua telapak tangan dilakukan dengan menggunakan gayung untuk menciduknya, tidak dilakukan dengan mencelupkan kedua telapak tangan itu ke bak air.
  • Kemudian, mencuci kemaluan dengan menggunakan telapak tangan kiri hingga bersih.
  • Setelah mencuci kemaluan, tangan kiri itu digosokkan ke lantai atau ke tembok sebanyak tiga kali, kemudian dibasuh dengan air.
  • Langkah selanjutnya adalah berwudhu sebagaimana cara berwudhu untuk shalat.
  • Setelah berwudhu, guyurkan air dari kepala hingga ke seluruh tubuh dan menyilang-nyilangkan air dengan jari tangan ke sela-sela rambut kepala, jenggot, kumis, serta rambut mana saja yang terdapat di tubuh agar air tersebut merata ke seluruh tubuh.
  • Setelah air diguyurkan dan telah merata ke seluruh tubuh, maka mandi junub diakhiri dengan membasuh kedua telapak kaki sampai mata kaki.
  • Sunnah hukumnya untuk tidak mengeringkan badan dengan kain handuk atau kain apapun setelah melakukan mandi junub.
  • Bagi umat Islam sunnah hukumnya mengerjakan tata cara mandi junub sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.

www.syahadat.com

About these ads

39 Tanggapan to “Mandi Junub”

  1. taufik Says:

    saya jadi bingung….!
    tolong jelaskan prihal air yang suci mensucikan!

  2. Raihan Says:

    Baca niat ga pak?
    pas bacanya lagi melakukan g erakan apa?

  3. perdana Says:

    mandinya bisa di sungai gak..???????

  4. bramma Says:

    mencuci perlu pake sabun,sampo,ato cuma dengan air aja

  5. ndie Says:

    gimana pak kalau air yang keluar dari kelamin kita hanya sedikit dan jenisnya kayak putih telur???

    • nurdiyon Says:

      Kemungkinan itu adalah madzi, karena kalau mani itu bentuknya kental dan lenket, kebanyakan warnanya seperti susu kental manis. kalau memang itu hanya madzi maka tidak wajib mandi junub. Cukup dengan dibilas/dicuci saja, bila perlu ditambah dengan berwudhu’

      wallahua’lam

  6. sadi Says:

    kalo rahang mulut, gigi, dan lubang hidung wjib dibasuh air gag?

  7. ukhti Says:

    asslm.kalau tidak mandi akibatnya apa ustad

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Kalau tidak mandi ya bisa menimbulkan dosa dan murka Allah swt. Sederhananya, kalau tidak mau mandi junub setelah terkena perkara-perkara yang menyebabkannya untuk mandi junub sudah pasti ia tidak akan bisa mengerjakan sholat. Kalau seorang hamba sudah tidak mau mengerjakan sholat wajib dan atau puasa wajib dengan alasan karena tidak mau mensucikan diri (mandi junub) padahal ia dalam keadaan junub, tentu saja ia telah berdosa.

      Wallahua’lam

  8. marjon Says:

    konteks n tekstual,,,knapa naik haji ga naik onta aj. maksud sy, jgn lah qta memahaminya sebatas tekstual, tp hrs jg dipahami kenapa kok seperti itu

  9. abu Says:

    ssalamu ‘alaikum wr.wb
    saya mau tanya !
    apabila selesai mandi wajib kita sudah yakin bahwa airnya sudah merata dan sudah sah mandinya tetapi pada saat mau sholat, hati kita menjadi tidak yakin bahwa mandi wajibnya belum sah.
    tapi saya berkeyakinan bahwa itu hanya bisyikan syetan saja yang ingin mengganggu iman saya.
    apakah saya harus mandi wajib lagi ?!

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Insya Allah, sesuatu yang Yakin itu mengalahkan sesuatu yang Meragukan. Maka kalau saudara sudah yakin bahwa airnya sudah merata, insya Allah mandinya tetap sah. Namun hendaknya hal ini juga menjadi pelajaran bagi saudara untuk lebih berhati–hati kembali sehingga tidak lagi mengalami keragu-raguan yang sama. Rasulullah saw bersabda :
      عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ .
      [رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح]
      Terjemah hadits:
      Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya, dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.
      (Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shoheh)

      Demikian, semoga bermanfaat. Wallahua’lam

  10. hendi Says:

    assalamu ‘alaikum wr.wb
    saya mau tanya pak ustadz !
    apakah sah mandi junub saya apabila saya membaca dan melafalkan niatnya saat mandi junub ?!
    karena kalau melafalkan didalam hati, saya sering ragu apakah niatnya sudah benar atau belum jadi saya membacanya dan melafalkannya lewat mulut.
    apakah sah atau tidak pak ustadz ?!

  11. hendi Says:

    kalau sedang melakukan mandi junub dan sudah yakin kalau airnya sudah merata, lalu pas saat mau selesai yakni saat mau memakai handuk, hati saya menjadi tidak yakin kalau mandinya belum merata, apakah ini hanya was-was saja ?!
    apakah mandi junubnya harus diulang atau tidak dan sudah sah ?!

  12. elga Says:

    bagaimana dengan mandi junub setelah mengeluarkan air mani dengan cara dipaksa ( onani ) ,,,
    Apakah mandi junubnya sah ?

    • nurdiyon Says:

      Ya, insya Allah mandi junub tetap saha. Karena salah satu yang menyebabkan wajibnya mandi junub adalah mengeluarkan mani, baik sengaja maupun tidak, dengan onani (na’udzubillah) ataupun dengan berhubungan dengan istri tetap wajib hukumnya mandi junub. Dengan syarat: rukun mandi junubnya harus benar (niat dan meratakan air keseluruh tubuh)

  13. Agung Says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    saya mau tanya pak uztad,
    1. apa maksud dari kata “Bagi umat Islam sunnah hukumnya mengerjakan tata cara mandi junub sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.” memangnya diperbolehkan cara lain ??
    2. apakah boleh mandi yang dilakukan tidak sesuai urutan diatas, maksudnya hanya mandi membasuh seluruh anggota badan dgn sampo dan sabun hingga benar2 bersih, tanpa perlu menggosok gosokkan tangan ke lantai,, apakah nantinya solat kita tetap sah ??

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb

      Ya, insya Allah tetap sah. Karena yang wajib dalam mandu junub adalah niat dan meratakan air ke seluruh badan

      Wallahua’lam

  14. Asran Says:

    Assalamualaikum
    Sahaja aku Membersihkan hadas besar dari tubuhku, fardhu atasku Karna Allah Ta’alla..
    apakah saya sah membaca nia seperti itu Ustaz..
    apakah boleh membaca dengan bahasa indonesia.

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Yang saudara maksudkan dalam bacaan tersebut adalah lafadz dari niat. Niat itu sendiri ada di dalam hati. Sementara lafadz bertujuan untuk menguatkan maksud/niat yang ada di dalam hati, karena biasanya ada sebagian orang yang memang kurang yakin kalau tidak dengan lafadz.

      Insya Allah melafadzkan niat dengan bahasa apa saja tidak masalah. karena Allah Maha Mengetahui.

      Wallahua’lam

  15. si buta Says:

    assalam’mualikum
    saya ingin bertanya : saat kita ingin melakukan mandi junub tetapi terhalangan situasi atau kondisi yang tidak menentu dan hanya melakukanya dengan berwudhu dan membersikan daerah yang terkena hadazt saja bagaimana ? apakah sah ?

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      kalau memang benar-benar udzur insya Allah sah. Atau bahkan seandainya air tidak adapun dapat digantikan dengan tanah.

      Firman Allah yang artinya : Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tangan mu dengan tanah itu .(Qs : 5 ayat 6).

      Demikian. Wallahua’lam

  16. chepy182 Says:

    asslm..pak ustadz..
    maaf nih apakah setelah kita bab itu wajib juga mandi junubnya?
    terima kasih sebelumnya..
    wassalam..

  17. Taufik Says:

    asslm,
    maaf sebelumnya jika keluar cairan bening tapi lengket karena membayangkan bersetubuh atau menonton film porno apakah hal tersebut diwajibkan mandi junub ?

    wass

    • nurdiyon Says:

      ‘alaykumsalam wr wb
      Melihat ciri2nya, insya Allah itu bukan mani, maka cukup di cuci/bersihkan dengan air saja.
      Wallahua’lam

  18. Fajar Says:

    assalamualaikum,,
    maaf, mau tanya, kalo misalnya keluar mani nya sekarang, trus mandinya besok pagi (karena udah malam) dosa apa gak,,
    makasih sebelumnya,
    wassalamualaikum

    • nurdiyon Says:

      ‘Alaykumsalam wr wb
      Insya Allah tidak mengapa, yang penting sudah menunaikan kewajiban sholatnya. Dan sebaiknya, dibilas dan berwudhu dahulu sebelum tidur (sunnah Rasul saw)

      Demikian, semoga bermanfaat

  19. anita Says:

    Assalamu’alaikum.wr.wb
    mohon maaf sebelumnya, bgmn kalau setelah mandi junub karena berhubungan suami istri, tapi beberapa lama kemudian masih keluar cairan encer tak berwarna dr vagina. itu termasuk apa ya? dan apakah saya harus mandi junub lagi?
    trims sblmnya

  20. ilham Says:

    Asslmalaikum..wr.
    Gimana kalau sakit?, tapi masih bisa wudhu (kena air) tapi kalau harus mandi sepertinya penyakitnya akan tambah demam (pengalaman memaksakan mandi pada akhirnya tambah demam) dan biasanya demam disusul penyakit lain, batuk dll,…

    • nurdiyon Says:

      ‘Alaykumsalam wr wb:

      Diantara yang mewajibkan tayamum adalah sebagai berikut:
      1.Tidak ada air atau tidak menemukan air.
      2.Air berbahaya bagi dirinya. Misalnya, karena menggu-nakan air, ia terjangkiti suatu penyakit.

      Dalam sebuah keterangan dikatakan, Dari Jabir ra berkata: Kami dalam perjalanan, tiba-tiba salah seorang dari kami tertimpa batu dan pecah kepalanya. Namun dia mimpi basah. Lalu dia bertanya kepada temannya, Apakah kalian membolehkan aku bertayammum? Teman-temannya menjawab, Kami tidak menemukan keringanan bagimu untuk bertayammum. Sebab kamu bisa mendapatkan air. Lalu mandilah orang itu dan kemudian mati . Ketika kami sampai kepada Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu, bersabdalah beliau, Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa tidak bertanya bila tidak tahu? Sesungguhnya obat kebodohan itu adalah bertanya. Cukuplah baginya untuk tayammum… .

      Firman Allah swt di dalam Al Quran:

      “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit403 atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh404 perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”. (QS Al-Maidah [5]: 6)

      Dari penjelasan di atas kesimpulannya adalah:”Seseorang tidak punya air, atau tidak bisa mendapatkan air, atau punya uzur dalam menggunakan air (sakit yang jika terkena air dapat memperburuk penyakitnya atau menyebabkan kematian), maka dia harus bertayamum sebagai pengganti wudu dan mandi-nya.”

      Demikian, semoga bermanfaat
      Wallahua’lam

  21. rahadian Says:

    Asslmalaikum..wr.

    apakah mandi wajib itu harus dilakukan sejumlah kita telah melakukan sebuah hubungan?
    dan jika itu sudah dilakukan berulang kali atau tidak terhitung jumlahnya atau lupa sudah berapa kali berhubungan apakah mandi junubnya cukup sekali saja atau sejumlah berapa telah berhubungan tubuh?

    • nurdiyon Says:

      “alaykumsalam wr wb
      Mandi junub cukup sekali saja. Misalnya: dalam satu malam seseorang melakukan hubungan suami istri sebanyak 10 kali, maka pada pagi hari tidak perlu mandi sampai sepuluh kali, tapi cukup sekali saja.

      Demikian. Semoga bermanfaat.

      Wallahua’lam

  22. rijal Says:

    air yang sudah digunakan mandi junub apakah hukumnya sama dengan air yang sudah digunakan berwudhu (air isti’mal)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: