Teman Seharusnya…

Sebagai seorang manusia yang normal, tentunya kita semua sangat membutuhkan adanya teman dalam perjalanan hidup yang sangat singkat namun terkadang serasa panjang ini. Memiliki teman-teman yang setia dan tulus, adalah harapan setiap insan. Sebaliknya, kehilangan seorang teman yang tulus dan setia seperti orang tua yang kehilangan tongkatnya. Sulit baginya untuk berjalan, tak ada yang menahannya ketika tersandung dan hendak tersungkur, tak ada pula pegangan pula ketika ia hendak bangkit. Maka dari itu, mempertahankan kelanggengan hubungan dengan teman adalah salah satu hal penting dalam kehidupan ini.

Untuk memperoleh kelanggengan hubungan dengan teman, tentunya hubungan pertemanan juga harus memiliki etika, dan salah satu etika yang patut dilakukan adalah dengan menunaikan hak dan kewajiban terhadap teman. Layaknya sebuah hubungan bisnis yang akan terjalin dengan baik setelah masing-masing pihak memberikan kewajibannya dan memperoleh apa-apa yang menjadi haknya, yang saling memberikan keuntungan, bukan saling merugikan. Adapun keuntungan yang diperoleh dari sebuah pertemanan yang baik adalah lebih besar dari materi yang biasanya menjadi target keuntungan dalam dunia bisnis. Salah satu keuntungan yang dapat diperoleh dari sebuah pertemanan yang baik adalah mendapat kasih sayang dari Allah swt, karena telah menjaga tali silaturahim.

Begitu indah dan pentingnya makna teman bagi setiap manusia, maka sudah semestinyalah kita senantiasa untuk menciptakan hubungan pertemanan yang baik, dengan cara menjadi teman yang baik. Lalu, bagaimanakah caranya untuk menjadi teman yang baik, sehingga mampu menghasilkan sebuah persahabatan yang baik, dan tentunya diridhoi oleh Allah awt? Beginilah seharusnya seorang teman itu:

  1. Hendaklah yang lebih muda senantiasa menghormati yang lebih tua (sebatas penghormatan sesama manusia yang tidak berlebihan, yang tidak mengarah pada sifat penghambaan), kemudian yang lebih tuapun senantiasa menyayangi kepada yang lebih muda. Saling membantu dan saling bekerjasama dalam hal kebaikan, jangan sampai pihak yang lebih tua melakukan penekanan karena memang merasa lebih tua.
  2. Mencintainya seperti mencintai diri sendiri. Inilah salah satu tali pengekang terkuat yang dapat mengikat pertemanan dengan erat. Karena, jika seseorang sudah mulai merasakan cinta yang dalam, maka pengorbanan dan kesetiaanlah yang akan tumbuh menjulang tinggi. Rasa cinta yang telah tumbuh akan senantiasa memancarkan hasrat untuk memberi, menjaga, dan melindungi.  Dalam hal ini, Rasulullah saw telah bersabda “Tidaklah seseorang dari kamu beriman, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendri.”
  3. Menjaga sopan santun. Berjalanlah di atas jembatan persahabatan yang dipagari asas sopan santun. Jangan sekali-kali bertutur atau berlagak sombong, sehingga membuat teman kita menjadi merasa rendah diri, minder, atau bahkan benci. Hindari hal-hal yang akan menimbulkan kesan sombong atau memperolok-olok, meskipun ketika bercanda. Karena, bisa saja niat bercanda kita akan menyusup ke dalam hati teman kita dalam wujud sebuah singgungan.
  4. Senantiasa mendoakannya dalam kebaikan, terutama sekali ketika ia sedang tidak ada atau tidak hadir. Karena doa semacam inilah yang kata Rasulullah saw sebagai salah satu doa yang akan di ijabah oleh Allah swt. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw telah bersabda “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di dekat kepalanya terdapat malaikat yang bertugas. Setiap kali ia mendoakan kebaikan bagi saudaranya, berkatalah malaikat yang ditugasi itu: Amin, bagimu seperti itu.”
  5. Maafkanlah ia dengan ringan. Kesalahan adalah salah satu fitrahnya manusia, maka janganlah terlampau pelit untuk memaafkan kesalahan teman kita. Allah swt, Sang Pemilik seluruh langit dan bumi beserta isinya, dan yang berada diantara keduanya, yang memiliki segala yang ada di dunia dan akhirat, yang dapat mambinasakan apapun sekehendaknya, dan yang memiliki kesempurnaan saja selalu menerima taubat hambanya yang tulus dan ikhlas. Lalu kenapa manusia yang tercipta dari setetes air yang hina, yang hidup di dunia fana, yang matinya dikubur ditempat binatang membuang kotorannya bersama cacing-cacing tanah, yang memang tempatnya adalah salah dan lupa masih berkeras hati, angkuh, dan pelit untuk memberikan maaf? Dan tentunya sebagai makhluk yang tempatnya adalah salah dan lupa, maka janganlah juga menjadi manusia yang sombong sehingga merasa gengsi untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Berlapang dadalah untuk mengakui kesalahan yang telah kita lakukan, dengan diiringi sebuah niat yang lurus untuk tidak mengulanginya lagi.
  6. Selalu mengingat kebaikannya, sekecil apapun ia. Janganlah mengingat-ingat keburukan yang pernah ia lakukan padamu, karena itu telah lewat dan hanya akan menimbulkan kebencian semata. Carilah dan senantiasa ingatlah kebaikan yang pernah ia lakukan kepadamu meski hanya sebesar lubang-lubang saringan kelapa ibumu, karena dengan lubang-lubang yang kecil itulah ibumu memperoleh santan kelapa yang telah menjadikan makananmu terasa nikmat. Ingatlah selalu kebaikan yang pernah ia lakukan kepadamu meski hanya sebesar lubang-lubang lembut pada kain kelambu. Karena lubang-lubang lubang lembut itulah yang menjaga adik kecilmu dari serangan nyamuk.
  7. Selalu mengajak atau membawanya kepada kebaikan, itulah sebaik-baik teman. Tidak ada teman yang bersifat menjerumuskan kepada kebinsaan atau kerusakan dalam berbagai segi. Bila ada yang seperti itu, maka ia bukanlah teman melainkan syeithon. Karena sifat syaithon adalah selalu menjerumuskan atau merusak.

Itulah sekelumit kewajiban yang insya Allah jika dilakukan secara istiqomah dan ikhlas akan membuahkan sebuah pertemanan yang takkan habis di makan usia. Amin. Wallahua’lam.

www.syahadat.com

Satu Tanggapan to “Teman Seharusnya…”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: