Tidak Menduakan Allah swt

“Apakah kita mencintai Allah swt? Apakah kita setia kepada Allah swt? Apakah kita tidak menduakan dan menghianati cinta-Nya? Kalau jawabannya adalah “Tidak”, lalu mengapa kita juga mencintai isteri kita? Kenapa kita juga mencintai anak-anak kita? Kenapa kita mencintai orang tua kita? Kenapa kita berbagi cinta dengan mereka? Begitu banyak cinta yang telah bersemayam di dalam hati kita, masih pantaskah kita mengaku mencintai Allah swt? Cinta kepada Allah swt di dalam hatimu telah begitu banyak bercabang, masih beranikah kita untuk mengaku cinta kepada Allah? Bukankah cinta itu sandingannya adalah setia? Lalu, di mana letak cinta kita kepada Allah? Dimana kesetiaan kita kepada Allah swt?”

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al Imran : 14).

Cinta adalah sebuah istilah yang mengandung pengaruh sangat dahsyat bagi manusia dan kehidupan. Allah swt telah menanamkan rasa cinta di dalam hati setiap manusia. Sebuah rasa yang menjadi salah satu syarat terbentuknya kehidupan yang tenteram dan damai. Rasa cinta yang ditanamkan di dalam hati manusia telah menimbulkan adanya kecenderungan antara manusia yang satu dengan yang lain atau terhadap segala bentuk ciptaan Allah swt, selain kepada Allah swt juga. Lalu, bagaimana jika kita mencintai ibu,ayah, adik, kakak, sahabat, suami atau isteri kita? Bagaimana jika kita mencintai harta dan jabatan kita? Bagaiman jika kita juga mencintai ciptaan-ciptaan Allah swt  yang lain? Apakah dengan demikian kita telah menduakan cintanya Allah swt? Apakah kita telah menghianati cintanya Allah  swt? Mari kita tilik sejenak sebuah kisah sederhana berikut:

Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: “Apakah engkau mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,“Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.

Allah swt adalah Zat yang penuh dengan rasa cinta, yang telah menanamkan rasa cinta di dalam hati setiap manusia. Allah swt sangat kaya akan rasa cinta, namun  tidak pernah pelit untuk membagikan tetesan-tetesan cinta itu kepada umat manusia. Rasa cinta yang telah disemayamkan di dalam hati setiap manusia, merupakan anugerah dari Allah swt yang tak terhingga jumlah dan nilainya.

Mencintai makhluk dan seluruh ciptaan Allah swt bukan berarti telah berkhianat atau telah menduakan cinta kepada Allah. Justru dengan mencintai segala bentuk ciptaan Allah swt setelah terlebih dahulu mencintai-Nya menjadi salah satu cara untuk lebih memperkuat ikatan cinta kepada Allah swt. Karena, rasa cinta kepada segala bentuk ciptaan Allah swt merupakan cabang dari rasa cinta kepada Allah swt.

Mencintai Allah  swt itu wajib, dan mencintai apa-apa yang diciptakannya pun harus. Karena, segala bentuk cinta pasti membutuhkan pembuktian, dan pembuktian dari rasa cinta kepada Allah swt adalah dengan melakukan ibadah kepada-Nya. Ibadah itu sendiri kemudian dapat digolongkan atas dua jenis,yaitu ibadah langsung dan ibadah tidak langsung. Dan salah satu bentuk ibadah tidak langsung ini adalah mencintai ciptaan Allah swt yang mencintai dan dicintai-Nya.

Dari Anas ra. dari Nabi saw, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. “ (HR: Bukhari)

Dari Mu’adz bin Jabal ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang saling cinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)

Dari Anas bin Malik ra., Rasulullah saw Bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah swt ada hamba yang dihari kiamat dipersiapkan mimbar untuk mereka, mimbar-mimbar tersebut diduduki oleh mereka/suatu kaum yang berpakaian dari nur/cahaya, dan wajah merekapun bercahaya, mereka bukan para Nabi ataupun orang-orang yang mati syahid, malahan para nabi dan para syuhadapun sangat mendambakannya/iri pada mereka.” Lalu para sahabat bertanya: “siapakah mereka itu ya Rasul?” Jawab beliau saw. : “merekalah orang-orang yang saling mencintai dan menyayangi semata karena Allah, saling berziarah semata karena Allah, dan saling duduk/bergaul juga semata karena Allah SWT.“ (HR. Thabrani dalam Al-Ausath)

Di sini dapat ditarik kesimpulan bahwa mencintai ciptaan Allah swt adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt, atau merupakan salah satu bentuk pembuktian dari rasa cinta kepada Allah swt.

Intinya, mencintai Allah dan segala bentuk ciptaan-Nya (selain yang dibenci dan membenci-Nya) merupakan salah satu bentuk kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap manusia, bukan sebagai bentuk penghiatan cinta kepada Allah swt.

Yang terpenting dalam hal ini adalah kita harus mengerti dan mematuhi aturan-aturan untuk mencintai Allah swt dan ciptaan-Nya tersebut. Kedua rasa ini harus berjalan dengan beriringan, namun tentunya dengan cara dan porsi yang berbeda. “INGAT! DENGAN CARA DAN  PORSI YANG BERBEDA”.

Wallahua’lam

www.syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: