Majelis Dzikir Dihadapan Allah SWT

Dzikir adalah salah satu ritual ibadah yang sangat dianjurkan dalam ajaran agama Islam. Dzikir merupakan amalan ibadah yang sebenarnya memiliki media yang sangat luas, sehingga dzikir ini dapat dilakukan oleh siapapun dan kapanpun. Media dzikir adalah hati, lisan, dan bahkan perbuatan fisik, dan sesempurnanya dzikir adalah dzikir terpadu antara dzikir hati,dzikir lisan, dan dzikir perbuatan. Namun kenyataannya, dzikir menjadi amalan yang tampaknya sangat berat, karena sangat sedikit sekali orang  yang melakukannya, terlebih lagi mendawamkannya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Firman Allah Subhanahu Wata’ala di atas memiliki banyak pesan yang sangat berguna bagi umat muslim yang beriman. Di antara pesan yang dapat kita ambil adalah bahwa salah satu tanda orang-orang yang memiliki akal adalah mereka yang senantiasa mampu berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala juga mengingatkan umatnya bahwa hendaknya mereka senantiasa berdzikir mengingat dan mengagungkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam segala keadaan (sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring). Dan pesan ketiga yang dapat kita ambil dari firman Allah Subhanahu Wata’ala di atas adalah bahwaAllah Subhanahu Wata’ala mengajarkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa mendahului doa atau permintaan mereka dengan berdzikir terlebih dahulu.

Firman Allah Subhanahu Wata’ala dan penjelasan singkat mengenai pesan yang terkandung pada firman tersebut memang seolah-olah sangat mementingkan dzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan memang benar, ternyata Allah Subhanahu Wata’ala memberikan keutamaan tersendiri bagi orang-orang yang senantiasa mendawamkan dzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan senantiasa berkumpul dengan majelis-majelis dzikir.

Abu Hurairah Radiallahuanhu berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala mengadakan Malaikat keliling di jalan mencari majelis dzikir, maka apabila bertemu kaum yang sedang berdzikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala, maka masing-masing mereka memanggil kawan-kawan mereka. Inilah hajat yang kamu cari, maka dikerumuni majelis dzikir tersebut dengan sayap mereka hingga ke langit dunia. Kemudian Allah Subhanu Wata’ala bertanya kepada mereka, padahal Allah Subhanahu Wata’ala lebih mengetahui: “Apa yang dibaca oleh hambaku?” Jawab mereka: “Mereka bertasbih dan bertakbir dan memuji serta memuliakan Engkau Ya Rabb”. Allah Subhanahu Wata’ala bertanya: “Apakah mereka telah melihat kepada-Ku?” Jawab Malaikat: “Belum, demi Allah mereka belum melihat kepada Engkau”. Allah Subhanahu Wata’ala kembali bertanya: “Maka bagaimana kalau mereka telah melihat kepada-Ku?” Jawab Malaikat: “Tentu akan lebih giat beribadah, taat,dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu”. Allah Subhanhu Wata’ala bertanya: “Apakah yang mereka minta?” Jawab Malaikat: “Mereka minta surga”. Kata Allah Subhanahu Wata’ala: “Apakah mereka telah melihatnya?” Jawab Malaikat: “Demi Allah mereka belum melihatnya”. Kata Allah Subhanahu Wata’ala: “Maka bagaimana jika mereka telah melihatnya?” Jawab Malaikat: “Tentu akan lebih ingin dan lebih bersemangat untuk mencacpainya”. Allah Subhanahu Wata’ala kembali bertanya: “Dan dari apakah mereka berlindung?” Jawab Malaikat: “Mereka minta perlindungan dari api neraka”. Allah Subhanahu Wata’ala bertanya: “Apakah mereka telah melihatnya?” Jawab Malaikat: “Tidak, demi Allah mereka belum pernah melihatnya”. Allah Subhanahu Wata’ala kembali bertanya: “Bagaimana sekiranya jika mereka telah melihatnya?” Jawab Malaikat: “Andaikata mereka telah melihatnya, pasti mereka akan lebih takut dan jauh lari daripadanya”. Kemudian Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Saksikan oleh kamu bahwa Aku telah mengampunkan mereka semuanya”. Seorang Malaikat berkata: “Ya Allah, di dalam majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka datang ke majelis itu”. Maka Allah Subhanahu Wata’ala berkata: “Merekalah ahli majelis yang tidak akan kecewa siapa yang duduk bersama mereka”.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim ada sedikit tambahan pada akhirnya:

Dan mereka minta ampun, maka dijawab oleh Allah Subhanahu Wata’ala: “Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka, dan Aku hindarkan mereka dari apa yang mereka takutkan”. Dan ketika dikatakan: “Bahwa di majelis itu ada seorang yang banyak dosa, bertepatan jalan tiba-tiba duduk di majelis itu”. Firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Dan terhadap orang itu pun Aku ampunkan sebab mereka itu merupakan suatu kaum yang tidak akan kecewa siapa yang duduk kumpul dengan mereka.”

Disunting dari Kitab Riyadhus Shalihin II

Demikianlah betapa orang-orang yang senantiasa ber-dzikir dan berkumpul dalam majelis dzikir itu sangat dicintai Allah Subhanahu Wata’ala. Begitu indah janji Allah Subhanahu Wata’ala bagi orang-orang yang senantiasa ber-dzikir dan berkumpul dalam majelis dzikir. Dalam riwayat di atas, Allah Subhanahu Wata’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang senantiasa ber-dzikir kepada-Nya dan senantiasa berkumpul dalam majelis dzikir. Bahkan, Allah Subhanahu Wata’ala juga mengampuni orang yang secara tidak sengaja berada di dalam majelis dzikir tersebut, ia tidak datang untuk berdzikir melainkan hanya kebetulan saja lewat dan duduk dalam majelis tersebut. Subhanallah! Betapa Allah Subhanahu Wata’ala Maha Pengampun, Maha Pemurah.

www.lingkarcahaya.com

Iklan

Satu Tanggapan to “Majelis Dzikir Dihadapan Allah SWT”

  1. anugrah Says:

    Dzikir (mengingat Allah) berjama’ah di masjid ada syariatnya bahkan wajib (berdosa jika tidak dikerjakan, kecuali udzur) yakni sholat fardhu berjama’ah.

    An-Nuur 36-37.
    Apa ada yang dzikir pagi dan petang di masjid tapi sholat Shubuh dan Ashar di rumah?

    Setelah Isra Mi’raj, sholat berjamaah pada awalnya dilakukan sesuka hati. Ada yang bersalaman (mengucapkan salam), ngobrol, yang mabuk juga ada.

    Tak kan lelah untuk mengingatkan imam atau siapapun jika berdzikir (berdoa dan shalawat) jangan mengeraskan suara, apalagi mengambil mic, yakni saat tasyahud. NORAK.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: