Islam Itu “Gaul”

“Gaul”, satu kata ini ternyata telah menjamur dikalangan muda-mudi Indonesia. Hampir seluruh pemuda Indonesia telah mengenal dan bahkan akrab dengan kata tersebut, terlebih lagi yang tinggal di wilayah perkotaan. Dan ternyata, “Gaul” juga telah turut mengambil tempat dalam kehidupan muda-mudi Islam di Indonesia. Dan akhirnya, “Gaul” itu sendiri menjadi satu ungkapan yang populer tapi banyak menjerumuskan.

Salah satu fitrah manusia yang diberikan oleh Allah swt adalah sebagai makhluk sosial yang satu sama lain senantiasa saling membutuhkan di dalam kehidupan ini. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri dengan baik, tanpa membutuhkan bantuan atau pertolongan seseorang atau orang lain. Dan salah satu tujuan Allah swt menciptakan berbagai macam perbedaan dalam kehidupan manusia adalah agar mereka bergaul atau saling mengenal. Allah swt berfirman di dalam Al Quran yang artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Ayat di atas menjelaskan bahwa betapa Islam sangat menjunjung eksistensi sebuah pergaulan, bahkan menjadi salah satu tujuan dan alasan dalam penciptaan manusia yang dilengkapi dengan berbagai perbedaan antara  yang satu dengan yang  lain.

Sebagai agama yang meletakkan pergaulan pada salah satu ketetapannya, Islam pun sebagai agama yang bersifat Robbaniyah tidak lupa untuk memberikan aturan atau batasan-batasan dalam bergaul.

Pada umumnya, saat ini banyak sekali muda-mudi di Indonesia baik yang beragama Islam maupun yang non-Islam telah memiliki pemahaman dan pandangan yang menyimpang mengenai makna kata “Gaul” tersebut. Banyak sekali pemuda Islam yang justru akhirnya terjerumus dalam pergaulan yang salah, karena salahnya pemahaman mereka mengenai makna kata “Gaul” tersebut.

Islam memberikan hak dan kewajiban kepada setiap manusia untuk bergaul dan saling mengenal satu sama lain. Namun di sisi lain, Islam juga mengemukakan bahwa sebaik-baik mereka adalah yang paling bagus tingkat ketakwaannya. Artinya, Islam mengenal makna kata “Gaul” itu sebagai satu hal yang bernilai positif dengan tujuan dan hasil yang positif pula.

Berdasarkan pemahaman itulah, akhirnya Islam pun memberikan aturan atau batasan-batasan dalam pergaulan sehari-hari. Bagaimana seorang muslim bergaul dan saling mengenal dengan muslim yang lain, bagaimana hendaknya pergaulan antar lawan jenis, bagaimana hendaknya pergaulan dengan mahrom dan nonmahrom, dan seterusnya. Pemahaman ini tentunya jauh berbeda dengan kebanyakan pemahaman umat Islam yang berkembang saat ini mengenai kata “Gaul” tersebut.

Kebanyakan umat Islam khususnya dari golongan muda-mudi memiliki pandangan yang 180 derajat bertolak belakang dengan pemahaman Islam mengenai makna kata “Gaul”. Islam mengarahkan “Gaul” pada makna yang bersifat positif, yaitu pergaulan untuk bersilaturahmi, pergaulan untuk menuntut Ilmu, dan seterusnya. Intinya, “Gaul” dalam kacamata Islam senantiasa mengarah kepada tingkat kualitas yang lebih baik bagi umatnya. Sementara “Gaul” yang banyak terdapat di kalangan muda-mudi Islam saat ini lebih banyak yang mengarah kepada hal-hal yang negatif sebagai hasil dari kontaminasi budaya barat dan Yahudi.

Banyak muda-mudi Islam yang merefleksikan “Gaul” melalui berbagai aktivitas-aktivitas atau sikap-sikap yang justru bertentangan dengan hukum Islam. “Gaul”mereka refleksikan sebagai seks bebas (free sex), narkoba, miras (minuman keras),  laki-laki menggunakan aksesoris pria  dan sebaliknya, membuka aurat, pacaran, berpakaian kumuh, kotor, dan jorok. Adapula yang memaknai “Gaul” dengan cara hidup berfoya-foya. Pemaknaan “Gaul” semacam inilah yang hendaknya mulai dikikis oleh umat Islam dari dalam kepala dan hati meraka. Jangan sampai umat Islam terjerumus ke dalam sebuah pergaulan yang tidak jelas, yang hanya ikut-ikutan, yang akhirnya justru menjerumuskannya ke dalam kubangan dosa tanpa ia sadari. Rasulullah saw bersabda:

“Kamu telah mengikuti kelakuan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga ketika mereka masuk kedalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang Engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Rasulullah saw menjawab: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

Betapa banyak umat Islam yang saat ini mengaku “Gaul” tapi justru malah terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak jelas, yang hanya ikut-ikutan, yang tidak mengerti ujung dan pangkalnya. Kita dapat melihat betapa saat ini banyak sekali muda-mudi yang mengaku beragama Islam tapi turut mendukung, mengakui dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan atau perayaan buatan umat Yahudi. Valentine’s Day adalah salah satu contoh budaya Yahudi yang turut di gandrungi muda-mudi Islam yang mengaku sebagai anak “Gaul”. April Mop, Pacaran, Perayaan Ulang Tahun dengan tiup lilin dan berbagai kreasi foya-foya yang ada di dalamnya, itulah beberapa contoh lain budaya Yahudi yang telah mencengkeram muda-mudi Islam yang mengaku sebagai anak “Gaul”. “Gaul” semacam ini mungkin akan lebih cocok bila disebut sebagai “Taqlid Buta”.

Gaul dalam kacamata Islam adalah saling mengenal dan silaturahmi dalam rangka untuk menggapai ridho Allah swt, mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya, serta memperoleh ilmu-ilmu dan hidayah yang akan memberikan manfaat bagi kehidupannya di dunia dan akhiratnya kelak. Dan untuk mendapatkan pergaulan yang demikian, yang dapat memberikan  manfaat di dunia dan akhirat, tentunya banyak hal yang perlu diwaspadai yang salah satunya adalah dengan cara memperhatikan dengan siapa ia bersahabat atau berkawan dekat. Karena, sepasang kawan dekat adalah ibarat air dengan wadahnya, seperti apa wadah yang ia miliki maka seperti itu pulalah air tersebut akan mengisi dan berbentuk. Seperti apa kawan dekat yang kita miliki, maka kita pun berpotensi besar untuk terbentuk seperti dia. Jika kawan dekat kita memiliki akhlak yang baik, maka insya Allah kita pun akan terbawa ke dalam pergaulan yang baik pula. Dan jika kawan dekat kita memiliki akhlak dan pergaulan yang buruk, maka kemungkinan besar kita pun akan terjerumus dalam pergaulan yang buruk pula. Berkenaan dengan pergaulan ini, Allah swt berfirman di dalam Al Quran yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)

Demikianlah Allah swt berfirman yang intinya adalah mengingatkan kepada kita untuk senantiasa berhati-hati dalam memilih teman bergaul dan dalam pergaulan, sehingga kita dapat terhindar dari “Gaul” yang bersifat maksiat atau jahiliyah. Sebaliknya, kita dapat menemukan dan bertahan dalam area “Gaul” yang Islami, yang tidak melanggar syariat Islam.

www.syahadat.com

Satu Tanggapan to “Islam Itu “Gaul””

  1. gamis murah Says:

    thx infonya sangat membantu
    GAMIS MURAH

    Salam Kenal ya Kawan dari Kami GAMIS MURAH

    Sambil tukeran l ink ya😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: