(TUTUP CLOSET) Jangan Asal Bicara

Ayah emang punya penyakit darah tinggi. Dan kata orang, penyakit darah tinggi itu membuat si penderitanya jadi gampang marah. Dan sepertinya, hal itu memang benar. Suatu ketika, ayahku keluar dari toilet dengan wajah garang. Aku, adikku, dan ibuku jadi bertanya-tanya, “Kenapa nih orang?”.

Beberapa detik kemudian, terbukalah alasan apa yang telah membuat wajahnya berubah garang seperti militer yang siap terjun ke medan perang itu.

“Kenapa sih itu tutup closet ko bisa rusak?!” tanya ayah bernada memaki ke arah kami yang tengah asik menonton acara televisi.

“Closet yang mana pak?!” timpal ibuku penasaran.

“Ya Closet yang di toilet, Closet duduk, emang dirumah ini ada berapa Closet toh bu! Ada sepuluh!” jawab ayah bernada naik.

“Iya, emang Cuma satu Closet kita, emang kita orang kaya yang tinggal di dalam istana apa sampai punya Closet sepuluh biji?” jawab ibu seraya menyindir emosi ayah.

“Tutup Closet kita tuh pecah bu…!” ayah menjelaskan.

“Lho…kok bisa! Ba’da shubuh tadi setelah ibu buang air masih nggak apa-apa kok! Masih bagus!” sambut ibu terkejut.

“Ya ibu lihat saja sendiri ke toilet kalau nggak percaya…tuh Closetnya masih di toilet…toiletnya juga masih disitu, belum kemana-mana!” jawab ayah sinis.

Kemudian ibupun langsung menengok ke toilet untuk memastikan omongan bapak. Sesampainya di toilet:

“Masya Allah pak! Kenapa bisa begini ya? Kan tadi masih nggak apa-apa nih Closet!” ibu terkejut melihat kondisi tutup closet yang sudah pecah.

“Kenapa bisa begini-kenapa bisa begini! Mana bapak tau bu! Kalau bapak tau ya nggak nanya ke ibu sama anak-anak!” Jawab ayah.

“Terus gimana nih…masa iya harus ganti baru, inikan baru sebulan dipasang?!” tutur ibu lirih.

“Ada nggak ya bu yang jual tutupnya aja?” ayah menduga-duga.

Kebetulan saat itu, tetangga baru kami yang baru tiga hari menginjakkan kakinya di kota Jakarta mendengar keributan di rumah kami tersebut. Mas Parso, begitu kami biasa memanggil penghuni baru kontrakan disebelah rumah kami. Mas Parso ini kebetulan orangnya sangat suka berbicara, meskipun sebenarnya bahasa Indonesia-nya masih belum luwes. Bahkan, kadang masih campur-campur sama bahasa JOWO-nya. Mendengar rumah kami yang agak ramai karena suara ayah dan ibu yang cukup keras, mas Parso-pun memutuskan untuk mampir dan menanyakan persoalannya.

“Assalamu’alaykum…kulonuwun…” Salam mas Parso di depan pintu rumah kami.

“Wa’alaykumsalam….” Jawab ayah dan Ibu serentak.

“Eee…mas Parso, masuk mas. Ada apa?” lanjut ayah.

“Ndak apa-apa pak. Tadi saya dengar kayanya di rumah ini ada ribut-ribut. Saya jadi penasaran pak. Maaf pak, memang ada masalah apa ya pak?” tandas mas Parso.

“Oh, nggak apa-apa mas. Ini lo…closet di toilet rumah saya tutupnya pecah. Nggak tau siapa yang mecahin. Padahal, semalam masih dipake, belum rusak.” Ayah menjelaskan.

“Maaf pak…closet tuh apa ya? Saya kurang ngerti…” rupanya, closet adalah salah satu kata yang belum masuk dalam perbendagaraan katanya mas Parso, ya…maklumlah namanya juga baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

“Closet itu sama dengan WC mas…” ayah menjelaskan seraya tersenyum kecil.

“Nah tutup closet kami tuh pecah…” tambah ayah.

“Oh…tutup closed ya pak?” mas Parso menimpali.

“Iya mas. Padahal, closet itu baru di ganti bulan kemarin. Harganya juga mahal, kalau harus beli lagi kan boros mas namanya.” Tutur ayah.

“Ooo…kenapa nggak beli tutupnya aja pak?” mas Parso coba mengajukan solusi.

“Iya, tadi juga saya sama ibu sudah berpikir begitu, tapi…ada nggak ya yang jual tutupnya doang? Biasanyakan yang namanya closet sama tutupnya itukan sudah satu set?” jawab ayah.

“Oh kalau tutup closed mah ada pak yang jual!” tampik mas Parso.

“Ah…yang benar mas! Dimana?” ayah terkejut sekaligus senang.

“Iya ada, bahkan banyak. Kemarin saya ngeliat ko sewaktu perjalanan ke Jakarta. Saya sampai di sini sudah malam. Saya ngeliat banyak ko yang menyediakan tutup closed.” Mas Parso meyakinkan.

“Ya sudah, kalau begitu bisa nggak mas Parso antar saya ke sana sekarang?” pinta ayah dengan senang.

“Oh, boleh pak! Ayo!”

Merekapun langsung menuju ke tempat yang dimaksud oleh mas Parso dengan sepeda motor milik ayah. Dan setibanya di temapt tujuan, rasa senang ayah ternyata berubah menjadi emosi lagi. Bukannya berterima kasih, ayah malah sedikit memaki mas Parso.

“Aduh mas!!! Bukan TUTUP CLOSED ini yang saya maksud!!! Tapi TUTUPCLOSET!!! Pake “T” bukan “D”!!!….”

Ternyata, mas Parso bukan membawa ayah ke tempat yang menjual TUTUP CLOSET, tapi ke sebuah restoran Jepang yang masih tutup, yang di depan pintu restoran itu terdapat tulisan TUTUP – CLOSED.

NB: Buat mas Parso-mas Parso yang lain, kalau nggak tau dengan pasti permasalahannya, jangan asal bicara ya, nanti malah tambah brabe urusannya. Karena, apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya. OKEH!

www.lingkarcahaya.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: