Lama Menunggu…kok BeTe?

Selesai menyapu dan menge-pel lantai rumah sederhananya, tepatnya rumah sederhana orang tuanya, Sholeh segera menuju kamar mandi dan mengguyur badannya dengan beberapa gayung air dari sebuah bak mandi kecil yang terbuat dari bahan plastik. Keluar dari kamar mandi, keharuman bekas olesan sabun dan shampoo yang ber-merek tidak terlalu terkenal itu-pun ternyata tetap mampu mengharumkan penampilan segarnya.

Penunjuk waktu yang tengah bergelayutan didinding seolah-olah telah berbicara pada Sholeh, karena setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 15:55 itu, Sholeh langsung mempercepat gerak-geriknya. Ia menarik baju koko warna biru langit dan celana panjang hitam yang tergantung didalam lemari pakainnya, kemudian memakainya tanpa berfikir panjang dan tanpa banyak berkaca.

Seperti biasa, etiap hari ahad sore, Sholeh harus mengikuti program Talaqi Tahsin. Sesuai jadwal, Talaqi Tahsin akan dimulai pada pukul 16.00, sementara pukul 15.55 saja ia masih proses persiapan. “Bisa-bisa sampai di tempat tahsin jam setengah lima-an nih!” Sholeh menggerutu perlahan. Kini, waktu telah tepat menunjukkan pukul 16.00. Setelah berpakain dan memasukkan buku-buku yang diperlukan untuk tahsin, Sholeh langsung mengeluarkan motor agak tuanya kemudian menunggangi dan memutar handle gas-nya dalam-dalam.

“Alhamdulillah…sampai juga”, ucap Sholeh lirih.

Langsung saja ia menarik lengan baju koko sebelah kirinya sedikit, untuk melihat penunjuk waktu yang melingkar dipergelangan kirinya.

Udah jam tiga lewat seperempat ko belum ada orang ya? Pada kemana ya?” Sholeh melempar pandangan ke sana kemari untuk mencari rekan-rekan yang lain dan juga ustad-nya.

Detik demi detik, menit demi menit, detik mejadi menit, dan merajut menuju satuan jam. Lingkaran waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, dan tilawah mu’rotal Sholeh-pun sudah beberapa halaman. Kejenuhan, perlahan mulai menyekoki hati dan pikiran.

Pada kemana sih nih? Ustadz juga belum datang lagi! Udah dari rumah buru-buru, malah belum ada yang datang juga!” Sholeh yang terbiasa dengan ketepatan waktunya, merasa agak kesal karena setelah terburu-buru berangkat dari rumah, tapi ternyata yang lain malah belum ada yang datang sama sekali, pada ngaret.

Ditengah kekesalannya yang mulai terbangun diatas lahan hati, Sholeh teringat dengan hafalan satu surat Al Quran yang belum selesai dia hafal. Untuk surat tersebut, Sholeh merasa agak kesulitan, karena pikirnya…kalimat-kalimat dalam surat tersebut agak panjang, agak asing dan agak sulit untuk diucapkan. Jadi, otomatis sulit juga untuk dihafalkan. Sudah dua minggu ini, ia hanya dapat menghafal ayat pertama yang memang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan ayat-ayat yang lain. Sedangkan 35 ayat yang masih tersisa…masih menunggu.

Daripada BeTe, mendingan ngapalin (menghafal)…!” Sholeh mencoba mengalihkan rasa kesalnya dengan mencoba menghafalkan beberapa ayat dari surat yang sudah membuatnya hanya mampu menghafal satu ayat dalam jangka waktu dua minggu (kebangetan! He…). “Siapa tau aja bisa nyantol. Bismillaahirrohmaanirrohiiim…”. Nggak disangka, kurang lebih sekitar 25 menit kemudian, lima ayat sudah mulai nyangkut sedikit demi sedikit di otak. Disitulah, Sholeh merasa semua kekesalannya semakin meringan dan menghilang. Dan ia membatin dalam hati “Andaipun hari ini nggak ada yang datang, ane nggak peduli. Yang jelas, ane nggak mau pulang dengan tangan hampa. Ane harus bisa ngapalin (menghafal) beberapa ayat dari surat yang agak sulit ini”.

Sepuluh menit kemudian, seiring lima ayat yang telah berhasil ia kantongi dalam otak dan hatinya, Sholeh bangkit dari duduk silanya dan memutuskan untuk pulang. Namun, ketika baru bangkit dari duduknya, ia dapati pak Ustadz yang baru memasuki gerbang masjid dengan motor yang tampak lebih tua dari motor Sholeh. Meskipun ia sudah memutuskan untuk pulang, dan meskipun awalnya ia agak merasa jengkel, namun saat itu telah hilang semuanya. Lima ayat. Meskipun hanya lima ayat yang ia dapat dalam 25 menit, tapi lima ayat itu telah memberikan hikmah yang begitu besar pada Sholeh.

Dari Muslim di Tangerang, Mei 2008

Dari Ibnu Abbas r.a. : Rasulullah saw bersabda :

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu didalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang”.

Satu hal yang mungkin hampir tidak pernah terpikirkan oleh sebagian besar manusia adalah, ketika kita sedang menunggu, sesungguhnya kita sedang mendapatkan sebuah nikmat, yaitu waktu luang. Dan keberadaan nikmat waktu luang tersebut dapat kita ibaratkan sebagai sebuah misteri atau harta karun yang tidak mudah untuk didapatkan. Maka, hanya orang-orang yang beruntunglah yang dapat memanfaatkan waktu luang tersebut, benar-benar hanya orang-orang yang beruntung. Kenapa dikatakan beruntung? Karena sesungguhnya hanya sedikit sekali orang yang dapat membaca, memahami, dan memanfaatkan keberadaan waktu luang yang tersisip ketika mereka sedang menunggu. Sebagian besar manusia, ketika merasa bahwa penantiannya sudah terlalu lama, ketika rekannya ngaret, ketika yang ditunggu tak juga kunjung datang, mereka selalu menyikapinya dengan emosi, BeTe (jenuh), ngedumel, memaki, dan sejenisnya. Sangat sedikit sekali diantara manusia yang mampu memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan hal-hal yang positif. Intinya, mereka tidak mengerti bahwa mereka telah diberikan waktu luang.

Bagi mereka yang telah mampu untuk membaca dan menyadari akan keberadaan waktu luang di sela-sela sebuah penantian, pasti akan selalu berusaha untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka bisa menggunakannya untuk menghafal pelajaran, menyusun perencanaan kerja, dan yang paling utama adalah menggunakannya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, misalnya dengan menghafal Al Quran atau hadits, atau minimal berdzikir-lah (meskipun minimal, tapi nilainya wuiiiih…subhananllah, GUEDE banget lho). Dengan menghafal ayat-ayat suci Al Qyran atau hadits secara ikhlas, insyaAllah penantian akan menjadi lebih barokah, terhindar dari BeTe, jengkel, maupun kecewa.

Nah…methode ini juga dapat digunakan untuk mereka yang sedang menanti datangnya seorang tambatan hati dalam ridho Illahi. Mereka juga bisa memanfaatkan waktu luang yang tersisip dalam waktu penantian panjangnya dengan mencari ilmu. Lebih spesifiknya lagi, tentunya ilmu-ilmu pernikahan, berumah tangga, mendidik anak, dan sebagainya. Terus menggali ilmunya, sehingga kita dapat mengerti, bagaimanakah seharusnya sikap seorang wanita sholehah ketika menjalani hidup sebagai seorang isteri, sekaligus seorang ibu. Dan bagaimanakah seharusnya seorang lelaki sholehah bersikap, ketika menjadi seorang suami atau ayah yang akan membawa perahu rumah tangganya.

Sesungguhnya, pada segala sesuatu itu terdapat ilmu. Hanya saja, sedikit dari sebagian manusia yang berusaha untuk mempelajari dan merenunginya. Kebanyakan dari mereka lebih suka menuruti hawa nafsu dan emosinya yang hanya akan menggelapkan dan membutakan hati sertas pikiran.

Ada kalanya, sesuatu yang kita pandang remeh itu menyimpan makna yang begitu tinggi.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. QS. 3 : 190.

Wallahua’lam bishshowab.


www.lingkarcahaya.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: