Air Dalam Gelas

Cicit : Kek…ko pak Ahmad sama pak Jimmy beda banget ya sifatnya. air gelasKayanya, sifatnya pak Ahmad sama pak Jimmy ketukar ya Kek?

Kakek : Ah, kamu nih ada-ada aja sih Cit. Masa orang bisa ketukar sifatnya?

Cicit : Abis…emang kelihatannya begitu sih Kek…Liatain aja tuh pak Ahmad, diakan tiap hari pake gamis sama peci kaya pak haji, tapi…galaknya bukan main! Siapa coba yang berani sama dia? Semua orang di kampung sini kan takut sama dia, karena dia terkenal galak sama siapapun. Galaknya tanpa alasan lagi! Kemarin aja, tukang sayur gerobak yang sekali-kalinya kebetulan mangkal di depan rumah adiknya yang buka warung sayuran, dibikin kocar-kacir sama dia.

Kakek : Hah…! Emang dibikin kocar-kacir gimana sih Cit?

Cicit : Iya Kek! Karena dianggap nyaingin warung sayuran adiknya, tukang sayur itu dibawain golok sama pak Ahmad. Ya jelas aja tukang sayur itu lari kocar-kacir ninggalin gerobak sayurannya.

Kakek : Ah, masa sih Cit?

Cicit : Yah kakek! Masa Cicit bohong sih! Malah nggak cuman itu aja Kek.

Kakek : Emang kenapa lagi?

Cicit : Pas tukang sayur itu lari…gerobak sayurnya di dorong ke got Kek! Ya udah, abis deh dagangannya masuk got semua.

Kakek : MasyaAllah!

Cicit : Beda banget sama pak Jimmy, yang kalau ke Masjid atau ngaji nggak pernah pake gamis, pake baju koko aja jarang. Kalau pak Jimmy mah selalu baik sama semua orang. Meskipun pakaiannya selalu sederhana dan nggak mirip kaya seorang Haji, tapi dia terkenal ramah dan dermawan. Makanya, banyak orang senang sama dia Kek.

Kakek : Pak Jimmy yang orang baru itu Cit?

Cicit : Iya Kek! Ternyata, dia ngajinya juga pinter lho kek! Suaranya juga bagus! Padahal namanya “Jimmy” kaya nama orang nasrani. Orangnya juga sederhana banget, tapi malah banyak kebaikannya. Nggak kaya pak Ahmad, nama sama pakaiannya doang yang islami Kek. Itulah Kek, kenapa Cicit bilang sifat mereka ketuker.

Kakek : Kamu tau nggak Cit, kenapa bisa begitu?

Cicit : Ya nggak taulah Kek! Makanya Cicit bingung, jadi suka bertanya-tanya sendiri!

Kakek : Sekarang coba kamu ambilin air putih satu botol. Tiga gelas kaca yang transparan, yang bening satu, yang warna merah satu, yang warna biru satu. Sama sirup juga ya.

Cicit : Iya…

…………………………………………Cicit ke dapur……………………………………………

Cicit : Nih Kek…

(kakek mengambilnya, lalu menuangkan air ke dalam gelas yang air gelas2transparan)

Kakek : Coba kamu minum seteguk dan rasain rasanya.

(cicit meminumnya seteguk)

Kakek : Gimana rasanya Cit?

Cicit : Tawar Kek…

Kakek : Sekarang Kakek pindahin sisa air yang kamu minum tadi ke gelas yang merah…(suuuuur….).

Nah, coba kamu minum seteguk lagi!

(cicit meminumnya lagi)

Kakek : Apa rasanya cit?

Cicit : Masih tawar Kek…

Kakek : Ya udah, sekarang Kakek pindahin lagi sisa airnya ke gelas yang biru…(suuuur…).

Coba kamu minum lagi, gimana rasanya?

(cicit meminumnya lagi meskipun tau kalau rasa air itu pasti nggak berubah)

Cicit : Masih tawar juga Kek.

Kakek : Sekarang kamu coba yang ini.

(kakek menuang air sisa yang digelas merah tadi ke gelas yang transparan kembali)

Kakek : Sekarang, kakek kasih sesendok sirup ya…

“““““““““““““““““““““““““““““““““““““““

Kakek : Nih kamu minum, nggak usah diaduk ya sirupnya.

Cicit : (cicit mengerutkan dahi)…Agak-agak manis…tapi..agak-agak tawar juga Kek…

(kakek menuang air lagi ke gelas merah dan biru, serta dikasih sirup yang sama tanpa diaduk,

dan hasilnya masih sama. Cicit masih menjawab dengan jawaban yang sama.

Setelah itu kakek mengganti air-air yang di tetesin sirup tadi dengan air putih yang baru dari botol)

Kakek : Nah, sekarang air putih yang di gelas transparan ini kakek kasih sirup, terus kakek aduk juga…sekarang coba kamu cicipin!

Cicit : Manis Kek...(cicit tersenyum)

(kakek memindahkan sisa air bercampur sirup itu ke gelas merah dan biru,

ternyata hasilnya masih sama.
kata Cicit: “sama Kek, manis…!)

Kakek : Nah…sekarang kamu ngerti kan maksud kakek?

Cicit : He he he…nggak Kek…

(kakek tersenyum…)

Kakek : Maksudnya, kita nggak bisa menentukan rasa air tadi hanya dengan melihat warna dan

bentuk gelasnya aja, karena…rasa nggak bisa ditentuin oleh warna atau bentuk gelasnya aja,

tapi ditentuin oleh isi dari air itu sendiri, maksudnya kandungan air itu. Kalau nggak ada isinya,

ya tawar rasanya. Kalau dicampur sirup yang mengandung rasa manis,

ya manislah rasanya…kalau sirup asam, ya asamlah rasanya.

Semakin banyak kadar sirupnya, semakin tajam pula rasanya.

Cicit : Cicit masih belum ngerti Kek…

Kakek : Maksudnya…pola fikir, sifat, dan perilaku seseorang tuh nggak bisa ditentukan

oleh penampilan luarnya aja. Karena, semua itu ditentukan oleh isi dari orang itu sendiri;

yaitu hati dan akalnya. Kalau hati dan akalnya kosong,

maka nggak ada manfaat yang bisa ia berikan.

Kalau hati dan akalnya dicampur dengan hal-hal yang buruk, maka buruklah aplikasi kehidupannya.

Kalau hati dan akalnya dicampur dengan ilmu yang bermanfaat, maka bermanfaat pulalah segala tindak-tanduk yang dicerminkannya. Semakin banyak hati dan akal itu menyerap ilmu,

semakin terasa pula manfaatnya untuk pribadi dan lingkungannya. Makanya

kita nggak bisa memvonis seseorang hanya berdasarkan penampilan luarnya aja atau

pandangan sekilas kita aja, tapi perlu mengenalnya terlebih dahulu.

Cicit : O…gitu ya Kek…? (cicit meng-angguk-angguk)

Kakek : Nah…sekarang kamu habisin ya air sirupnya….

Cicit : Hah…???


www.lingkarcahaya.com

5 Tanggapan to “Air Dalam Gelas”

  1. nickafdhal Says:

    Assalaamu’alaykum

    bagus nih pelajarannya

  2. taufik Says:

    kerennnnnnnnnnnnn………….

  3. maryam Says:

    begitu juga ng manusia,,,perlu isi hati nya dengan ilmu2 yang bermanfaat agar hidayah sentiasa bersama kita

  4. Asep Sasmita Says:

    Khoer, ……..!
    mengambil perumpamaan yang cukup sederhana tapi mengena, dengan ilmu lah kita bisa jadi insan yang bermanfaat bagi diri kita dan lingkungannya. Jadi basicnya adalah Tholabul Ilmi (mencari Ilmu), agar kita tahu sst sesuai syariat Islam. Karena Islam itu universal pasti akan menyentuh sendi-sendi kehidupan di dunia ini. Dan yang lebih utama mohon kepada Allah agar Ilmu yang kita dapat bisa terimplementasi dalam kehidupan (Al’ilmu bilaa ‘amal kasajar bilaa samar : Ilmunya akan sia-sia krn tdk ada pengamalannya=berarti ilmunya tidak barokah/mendapat Ridho Allah)

  5. Tajudin Says:

    kalau ingin berhasil dalam pembelajaran emang harus kreatif, seperti dialog di atas. kalau hanya diambil dari buku jenuh. nanti saya sampaikan ketika saya ceramah. terima kasih atas perumpamaan gelasnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: