Ia Masih Balita!!!

crySuatu pagi di sebuah warung sayur sederhana, tampak para ibu begitu ramai. Bertanya harga, menawar, dan membeli, tampak terjadi seperti pagi-pagi sebelumnya. Sekumpulan para ibu sedang berbelanja bahan sayuran, begitu riuh ditambah dengan banyolan dan polesan gossip

Riuh yang biasa tampak menyenangkan tersebut tiba-tiba berubah menjadi hening. Bising hanya berpusat di satu titik, yaitu pada seorang anak kecil. Seorang balita yang sejak tadi merengek tiba-tiba memecahkan tangisnya di sisi sang ibu yang juga tengah berbelanja sayur-mayur di warung itu.

Semua mata pun beralih, tertuju pada si anak dan sang ibu yang kemudian bersikap sangat tidak layak.

Sebenarnya masalahnya sepele, si balita hanya ingin naik delman keliling yang lewat di depan warung tersebut. Karena sang ibu sedang berbelanja, mungkin merasa sibuk, akhirnya sang ibu pun tidak menghiraukan rengekan si balita yang sejak awal telah menarik-narik bagian bawah kaos sang ibu.

Karena tidak dituruti sampai delman keliling tersebut pergi bersama anak-anak lain yang tengah naik delman tersebut, akhirnya si balita pun menangis dengan histerisnya. Anehnya, tangisan sang si balita yang begitu histeris dan menyayat hati tersebut bukannya membuat hati sang ibu merasa iba atau luluh, namun justru membuat sang ibu naik pitam.

cryTiba-tiba saja sang ibu berteriak pada si balita yang sebenarnya belum mengerti apa-apa tersebut dengan sangat kasar, “Diam! Diam! Bisa Diam Nggak!!!”.

Lebih tak pantas lagi ketika sang ibu berteriak kepada si balita tersebut, karena cubitan dan jeweran (menarik telinga) pun mendarat pada lengan dan telinga si balita. Alhasil, bukannya si balita terdiam tetapi justru tambah memekikkan tangisnya meskipun sang ibu terus menghardik si balita hingga lengan dan telinganya tampak merah-merah.

Ketika itu, aku hanya terdiam melihat kejadian yang sangat tidak pantas dilakukan tersebut. Namun, lain aku lain pula dengan istriku. Istriku yang sejak tadi sudah gatel ingin memaki sang ibu tersebut pun turun tangan.

“Sudah-sudah bu … namanya juga anak-anak, mau dikasarin kaya apapun tetap saja dia belum mengerti.”, serobot istriku seraya menarik si balita dan menggendongnya.

Tanpa disangka, belum ada 10 menit istriku menggendong si balita, si balita langsung terdiam dengan bujukan istriku tercinta.

Dari kejadian itu, aku dan istriku pun akhirnya memperoleh satu pelajaran yang sangat bagus. Menghadapi seorang anak, terlebih lagi seorang anak yang belum mengerti apa-apa hendaknya harus dengan sikap yang bijaksana. Ketika sang anak terlihat marah, jangan disikapi pula dengan kemarahan. Ketika sang anak terlihat tegang atau ketakutan, jangan disikapi dengan tegang dan sikap menakutkan yang sama yang justru akan menambah ketegangan dan ketakutan sang anak. Orangtua harus berusaha memberikan penawar, bukan menambah rasa sakit sang anak.

www.sekeluarga.com

Satu Tanggapan to “Ia Masih Balita!!!”

  1. sari Says:

    inspiring sekali pak…
    tapi koq fotonya anak bule yach……? kirain itu foto ente sewaktu balita,lagi nangis…hehehe…pissss


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: