Syukurnya Rasulullah saw

Rasulullah saw adalah figur sempurna, suri tauladan bagi seluruh umat manusia. Budi pekertinya luhur dan akhlaknya mulia. Seorang pemimpin umat yang senantiasa mengajarkan dan menegakkan kebenaran serta keadilan. Beliau adalah panutan terbaik bagi seluruh generasi manusia.

Rasulullah saw adalah manusia pilihan yang telah dijamin kedudukannya di dalam surga. Tanpa beribadah pun sesungguhnya beliau telah memiliki tempat di dalam surga-nya Allah swt. Rasulullah saw telah diampuni dari segala dosa-dosa yang dilakukan pada masa lalu maupun yang akan datang.

Andaipun mau, Rasulullah swt tidak perlu bersusah payah untuk bangun malam  kemudian berdoa dan memohon ampunan Allah swt, tidak perlu beliau menangis-nangis mengharapkan ampunan Allah swt, dan tidak perlu pula beliau bersujud kepada Allah swt berkali-kali dalam sehari, karena ia telah dijamin surga oleh Allah swt. Namun Rasulullah saw tidak melakukan hal yang demikian. Jaminan surga yang diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah saw tidak membuat Rasulullah saw menjadi lupa atau malas. Justru ia memiliki kualitas dan kuantitas ibadah yang sangat jauh lebih baik dan paling sempurna dari seluruh umat manusia.

Rasulullah saw senantiasa beribadah kepada Allah swt dengan ibadah yang paling sempurna. Banyak sekali riwayat yang menceritakan betapa Rasulullah saw adalah seorang Rasulullah yang selalu bersyukur kepad aAllah swt. Jaminan surga yang diberikan oleh Allah swt kepada Rasulullah saw justru membuat beliau semakin giat dalam beribadah, berjihad, berdoa dan beristighfar.

‘Aisyahradhiyallahu ‘anha berkata:
“Rasulullah saw senantiasa berdzikir kepada Allah setiap waktu.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas radhiallaahu anhu mengungkapkan: “Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah saw dalam  satu majlis sebanyak seratus kali:
“Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. Abu Daud)

Abu Hurairah radhiallaahu anhu menuturkan: “Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Demi Allah, sesungguhya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Umar radhiallaahu anhu berkata: “Kami pernah menghitung dzikir yang diucapkan Rasulullah saw dalam satu majlis sebanyak seratus kali:
“Ya Allah, ampunilah aku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha menerima taubat lagi Maha Pengampun.” (HR. At-Tirmidzi)

Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengungkapkan kepada kita sebuah doa yang sering diucapkan Rasulullah saw bila berada di sisinya, sebagai berikut:
“Ya Allah, Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)

Suatu ketika Abu Dzar Al Ghiffari melihat Rasulullah saw shalat malam. Ia pun segera bermakmum padanya. Pada rakaat pertama, Rasulullah saw membaca QS. Al Baqarah dari awal. Rasulullah saw  terus membacanya sampai ratusan ayat.

“Mungkin beliau akan sujud pada ayat yang kedua ratus,” demikian pikir Abu Dzar. Ketika tiba di ayat 200 dan ada jeda, Abu Dzar bersiap untuk ruku. Namun, ternyata Rasulullah saw meneruskan bacaannya.

Maka Abu Dzar membatalkan ruku-nya. “Mungkin beliau akan ruku setelah Al Baqarah ini selesai,” demikian pikir Abu Dzar berikutnya. Maka setelah QS Al Baqarah selesai dibaca (286 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku. Ternyata, Rasulullah saw masih meneruskan membaca QS. Ali Imran.

Maka Abu Dzar membatalkan ruku-nya. “Mungkin beliau akan ruku setelah selesai membaca QS. Ali Imran,” pikir Abu Dzar kembali. Maka ketika Rasulullah saw selesai membaca QS. Ali Imran (200 ayat), Abu Dzar kembali bersiap untuk ruku. Ternyata, Rasulullah saw meneruskan membaca QS. An Nisaa’.

Akhirnya setelah QS. An Nisaa’ selesai dibaca (176 ayat), Rasulullah saw bertakbir lalu ruku. Maka Abu Dzar mengikutinya. “Dan ruku-nya beliau  hampir sama lamanya dengan berdirinya,” ungkap Abu Dzar. Pada saat berdiri di rakaat pertama tersebut Rasulullah saw membaca 762 ayat.

Subanallah! Sungguh luar biasa Rasulullah saw dalam beribadah. Bahkan kaki Rasulullah saw pun pernah sampai bengkak-bengkak hanya karena beliau telah mengerjakan sholat dengan bacaan surat yang sangat panjang. Secara logika, sebenranya Rasulullah saw tidak perlu melakukan hal itu. Karena tanpa beribadah sampai sedemikian rupa pun Rasulullah saw telah dijamin oleh surga oleh Allah swt. Namun begitulah bentuk rasa syukur Rasulullah saw kepada Allah swt atas nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Dengan cara itu pulalah Rasulullah saw telah mengajarkan kepada umat manusia mengenai bagaimana seharusnya mereka bersyukur dan beribadah kepada Allah swt.

Rasulullah saw adalah manusia pilihan yang telah dijamin dengan surga oleh Allah swt, namun hal itu tidak membuat Rasulullah saw menjadi pemalas atau berpangku tangan dari beribadah, berjihad, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah swt. Itulah bentuk rasa syukur yang sebenarnya.

Hal ini hendaknya menjadi pelajaran yang dapat senantiasa diaplikasikan oleh seluruh umat muslim di dunia. Jika Rasulullah saw yang telah dijamin dengan surga saja masih mau beribadah dengan ibadah yang terbaik, lalu bagaimana dengan kita yang sudah pasti akan merasakan panas dan pedihnya siksa neraka kelak? Bagaimana cara, kuantitas, dan kualitas ibadah kita kepada Allah swt? Bagaimana cara, kuantitas, dan kualitas jihad, doa, dan istighfar kita kepada Allah swt?

www.syahadat.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: