Persiapan Ramadhan

Dalam sebuah keterangan dikatakan bahwa bulan Ramadhan adalah sebaik-baik bulan atau bulan yang terbaik di antara bulan-bulan yang ada. Ia memiliki keberkahan dan kelebihan yang luar biasa. Bulan Ramadhan begitu banyak menorekan peristiwa bersejarah dan suci. Bahkan di dalam bulan suci Ramadhan terdapat satu malam yang memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan, yang apabila dihitung-hitung kurang lebih setara dengan delapan puluh tiga tahun. Malam seribu bulan tersebut biasa dikenal dengan malam Lailatul Qadar, yaitu malam ketika Allah swt menurunkan Al Quran yang merupakan pedoman hidup bagi seluruh umat muslim. Begitu banyak keistimewaan yang terdapat di dalam bulan suci Ramadhan sehingga kedatangannya pun begitu dirindukan oleh seluruh umat Islam (yang beriman).

Salah satu kewajiban yang terdapat di bulan suci Ramadhan adalah berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama satu bulan penuh. Kewajiban berpuasa ini dengan jelas diperintahkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah swt sebagaimana firman Allah swt yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” QS. Al Baqarah: 183–185

Selain dari Firman Allah swt di atas, kewajiban berpuasa pun dapat kita temukan melalui perkataan Rasulullah saw dalam berbagai hadits-nya. Salah satunya adalah hadits yang menyatakan bahwa Puasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu perangkat yang turut ada atau harus ada dalam rangka mendirikan bangunan Dienul Islam.

“Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Agama Islam itu didirikan atas lima perkara.yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah pesuruh Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dapat dikatakan bahwa puasa merupakan ibadah yang sangat istimewa, bahkan memiliki keistimewaan tersendiri. Hal ini karena ibadah puasa adalah untuk Allah swt. Semua amal ibadah yang dilakukan oleh setiap hamba Allah swt adalah untuk diri mereka sendiri, sedangkan puasa itu spesial untuk Allah swt, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits Qudsi yang artinya:

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. ber-sabda: “Allah ‘Azzawajalla berfirman – dalam Hadis qudsi: “Semua amal perbuatan anak Adam – yakni manusia – itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untukKu dan saya akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai – dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang di antara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seseorang atau dilawan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya adalah berpuasa.” Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman ke-kuasaanNya, niscayalah bau bacin dari mulut seseorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Seseorang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan dan ia dapat merasakan kesenangannya, yaitu apabila ia berbuka, iapun bergembiralah dan apabila telah bertemu dengan Tuhannya, iapun gembira dengan adanya amalan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah keterangan pun dikatakan bahwasanya pada bulan suci Ramadhan seluruh pahala  ibadah akan dilipatgandakan, bahkan ibadah sunnah pun akan dinilai sebagaimana ibadah fardhu’. Begitu istimewanya bulan suci Ramadhan dan begitu utamanya ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan (khususnya puasa), maka tentunya akan lebih baik bagi setiap muslim untuk senantiasa mempersiapkan diri guna menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang begitu mulia tersebut. Sambut Ramadhan dengan sebaik-baik sambutan, bukan menyambutnya dengan tangan kosong atau bahkan kebiasaan-kebiasaan yang sesungguhnya tidak diajarkan di dalam Islam. Kemdian isi Ramadhan dengan sebaik-baik isi, bukan sembarang isi.

Ada empat poin yang hendaknya kita lakukan dalam rangka mempersiapkan diri guna menyambut datangkan bulan suci Ramadhan:

1.      Persiapan Mental

Seperti kita ketahui bahwa godaan di bulan suci Ramadhan begitu beraneka, mulai dari aneka tontonan/sinetron terbungkus judul religius, ramainya mall-mall dan pasar malam yang sangat menarik hati untuk berpaling dari shalat berjamaah dan tarawih. Oleh karena itu, salah satu hal yang harus kita lakukan tentunya adalah mempersiapkan mental untuk menghadapi kedatangan bulan suci Ramadhan, sehingga ketika ia datang maka kita telah benar-benar siap untuk mengisinya dari awal hingga akhir. Kurangnya persiapan mental tentunya dapat menimbulkan rasa malas dan enggan untuk mengisi dengan bulan suci Ramadhan dengan amal-amal ibadah secara maksimal, mulai dari puasanya, tarawihnya, infak dan shadaqahnya, tilawah al quran-nya, dan berbagai ibadah lain sampai dengan I’tikaf-nya. Malas karena semangat ibadahnya telah terpikat oleh daya tarik mall-mall, sinetron religi, ramainya pasar malam dan lain-lain yang akhirnya dapat memupuskan niat kita untuk shalat fardhu berjamaah, tarawih berjamaah, dan bahkan dapat menggugurkan nilai puasa kita sehingga yang tersisa hanyalah lapar dan dahaga saja.

 2.      Persiapan Spiritual (Ruhiyah)

Selanjutnya, yang tak kalah penting adalah persiapan secara spiritual atau ruhiyah. Yaitu dengan terlebih dahulu membiasakan diri dengan berbagai amal ibadah, baik yang sunnah maupun yang wajib, sehingga tidak shock pada saat berhadapan atau menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Bisa karena biasa. Bisa beribadah secara maksimal di bulan suci Ramadhan karena sudah membiasakan diri dengan berlatih di bulan-bulan selain atau sebelum Ramadhan (membiasakan diri dengan tilawah Al Quran, puasa sunnah, shalat berjamaah, dan lain sebagainya).

 3.      Persiapan Intelektual (Ilmu)

Yang pasti harus seseorang miliki dalam melakukan berbagai aktivitas, apapun aktivitas itu tentunya adalah ilmu yang memadai. Tanpa adanya ilmu, tentunya seseorang akan rawan melakukan kesalahan atau bahkan terkalahkan. Ingin maik motor, tentunya ia harus mengerti bagaimana menghidupkan mesinnya, yang mana rem-nya, rambu-rambunya, dan lain-lain. Begitu pula dengan berbagai aktivitas yang lainnya, tentunya terlebih dahulu kita harus memiliki pengetahuan tentang apa yang akan kita lakukan. Dengan demikian, hendaknya setiap umat muslim senantiasa aktif untuk mengikuti kajian-kajian atau majelis ta’lim, khususnya yang berkaitan dengan Ramadhan. Tarhib Ramadhan (Menyambut Ramadhan), yaitu kajian seputar mempersiapkan diri untuk menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan biasanya banyak diadakan di berbagai masjid atau majelis ta’lim menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

 4.      Persiapan Fisik dan Materi

Persiapan lain yang tidak boleh hilang dalam rangka mempersiapkan diri untuk menyambut bulan suci Ramadhan adalah Fisik dan Materi. Setiap kita hendaknya menjaga kondisi fisik guna mengisi bulan suci Ramadhan secara maksimal. Menjaga kesehatan melalui membiasakan diri berolahraga, menjaga kebersihan (badan, pakaian, makanan, rumah, masjid, lingkungan dan lain-lain). Selain itu, tentunya kita juga harus mempersiapkan rezeki untuk kelangsungan ibadah kita di bulan suci Ramadhan. Persiapan rezeki bukan berarti harus mempersiapkan diri untuk berlebih-lebihan atau bermewah-mewah, melainkan mempersiapkan rezeki yang halalan thayyiban.

 Itulah beberapa persiapan yang hendaknya dimiliki setiap muslim guna menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan dengan semaksimal mungkin. Sebagai tambahan berikut ini kami kutipkan beberapa hal yang berkaitan dengan Puasa (Ramadhan), semoga bermanfaat.

Syarat-Syarat Puasa Ramadhan

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Muqim (tinggal/berdiam di suatu tempat)
  5. Sehat
  6. Tidak dalam keadaan haidh/nifas

Hal-Hal Yang Membolehkan Untuk Berbuka

  1. Safar (dalam perjalanan)
  2. Sakit
  3. Mengandung dan menyusui
  4. Jompo/Lanjut Usia

Hal-Hal Yang Bisa Membatalkan Puasa

  1. Makan dan minum dengan sengaja
  2. Istimna (mengeluarkan mani dengan sengaja)
  3. Bersetubuh (meskipun tidak sampai keluar mani)
  4. Haidh dan nifas

 

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: