Mendung Merintik

Atapnya sang alam masih kebiruan,
keputihan,
kehitaman

Remangnya, perlahan memaksa mundur
Pasukan oranye yang mengisi celah-celah alam

Dingin,
tapi tiada membeku
Tidak pula menusuk-nusuk penopang tubuhku.
Tapi melaju di atas roda dua,
mengkonversi O2, CO2, dan rekan-rekannya
menjadi hembusan beku yang menghantam dada sederhanaku.

Aku berharap,
alam tidak menangis dulu.
Karena baju anti peluru air,
tak terlihat di roda duaku tersampir

Jentik bening tampak mulai merubah warna aspal
Sangat berjarak satu sama lain.
Karena memang baru gejala
tapi membuat hati dag-dig-dug terasa

“5 menit lagi aja ya Allah!”
Gumam doa seraya mengatur handle roda dua
memondar-mandirkan kedua bola mata
Liar mencari rongga tuk menyalip roda dua, empat,
dan enam yang membuat perjalanan jadi terhambat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: