“Baper Amat Sich Loh!”

“Baper”, mungkin banyak dari kita yang pernah atau mendengar istilah ini. Atau, bahkan mungkin ada di antara kita yang sering mengucapkannya. Awalnya sih, istilah baper ini sering dipakai oleh anak-anak “gaul”. Karena kalau kita cari kata gaul ini di Kamus Besar Bahasa Indonesia pun tidak ada. Nah, di sini saya akan sedikit mengomentari penggunaan kata baper ini dari sudut pandang pribadi saya sendiri J

Baper yang merupakan kependekan dari Bawa Perasaan ini adalah istilah yang digunakan untuk mengomentari seseorang yang biasanya mudah tersentuh atau tersinggung perasaannya, sensitif, dikit-dikit masuk ke hati. Misalnya, ketika kita mengucapkan kata-kata kepada seseorang dengan maksud bercanda, namun ternyata orang yang kita tuju malah cemberut (marah), maka kita akan katakan ke orang tersebut, “Ya elah, Baper amat sih loh! Biasa aja keles!”.

Saat ini, penggunaan istilah Baper bukan lagi hanya digunakan oleh anak-anak “gaul” saja, tapi sudah masuk ke berbagai kalangan; perkantoran, pendidikan, dan sebagainya. Dan uniknya, penggunaan istilah ini perlahan semakin menggeser kemampuan berempati seseorang. Bahkan, mengikis kemauan seseorang untuk mengintrospeksi diri. Setiap kali seorang pengguna kata baper menemukan seseorang yang sensitif dengan ucapan, sikap, ataupun tindakan yang ia lakukan, maka akan dengan mudahnya ia mengatakan, “Bapeeer…!”. Seyogyanya, ketika kita menemukan seseorang yang merasa tidak nyaman dengan apapun yang ada dalam diri kita, sikap terbaik kita adalah meminta maaf dan kemudian introspeksi diri. Andaipun kita yakin bahwa yang kita lakukan bukanlah sebuah kesalahan, minimal kedepan kita akan bisa meminimalisir kejadian yang sama pada orang yang sama, sehingga interaksi social pun in sya Allah akan senantiasa terjaga dengan baik. Semakin banyak orang yang akan merasa nyaman dengan kita, karena banyak orang yang merasa terjaga oleh kita.

Perumpamaan kaum mukmin dalam kasih sayang dan belas kasih serta cinta adalah seperti satu tubuh. Jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas mengajarkan kepada kita salah satunya adalah untuk senantiasa menjaga saudara kita, memahami apa yang ia rasakan. Kemampuan kita untuk dapat memahami perasaan saudara kita/orang lain adalah salah satu modal untuk menjaga keutuhan dan kesehatan ikatan persaudaraan kita dengan sesama, sehingga ikatan itu seperti satu tubuh yang utuh dan saling menjaga dengan kukuh.

Ulasan sederhana ini bukan untuk mengharamkan penggunaan istilah baper, tapi lebih kepada mengajak kita untuk lebih mengutamakan introspeksi diri.

Semoga Bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: